RSS

Naruto Dan Ketidakpedeean Bangsa Kita

Aku curiga, sepertinya serial manga Naruto penciptanya adalah orang Jawa. Penciptanya bukan bernama Masashi Kishimoto, tapi keturunan ningrat Jawa bernama Raden Mas Ashi Prijatmoto Buwono XXI, namun untuk menyamar dan supaya laris filmnya akhirnya dia memakai nama samaran yang kejepang-jepangan supaya tidak dicurigai oleh serdadu ketika Jepang menjajah Indonesia. Figur Naruto sebenarnya bernama asli Narto, Cucunya Aki namun diubah menjadi Uzumaki Naruto. Gurunya bukan bernama Kakashi, tapi Kak Asih.

Alur cerita sebenarnya bermula ketika rubah berekor sembilan lahir di tengah hutan wilayah desa KokNgonoHa. Berita kelahiran rubah aneh yang berekor sembilan tentulah membuat heboh seluruh penduduk desa. Warga desa memberinya nama Kurama yang berarti “kurang makan” mengingat dilihat dari tubuhnya ketika lahir yang kurus kering seperti binatang KURAng MAkan. Banyak desas-desus yang berkembang di lingkungan bahwa Kurama sebenarnya adalah manusia jadi-jadian yang memiliki kekuatan gaib yang bisa berubah wujud menjadi rubah, Kurama sangatlah jahat karena sering menculik anak-anak kecil di malam hari yang tidak mau pulang ke rumah karena keasyikan bermain. Jika seorang anak diculik oleh Kurama supaya anak tersebut bisa kembali maka seluruh penduduk desa akan membuat keramaian dengan cara memukul-mukul dan membunyikan suara dari peralatan dapur sambil berkeliling desa berharap suara-suara berisik dari panci, sutil, dandang, wajan, dll membuat takut makhluk rubah itu kemudian mengembalikan anak yang diculiknya itu.

Terkadang jika Kurama bokek, dia akan bekerjasama dengan istrinya untuk mencari hepeng. Hepeng adalah mata uang yang dipakai di jaman dahulu, bentuk hepeng sama seperti uang koin jaman kejayaan Majapahit, kalau orang Bali menyebutnya “Pis Bolong”. Ketika bekerjasama, tugas dari istri Kurama adalah menjaga lilin tetap menyala ketika Kurama mencari hepeng. Jika Kurama ketahuan warga desa sedang mencuri maka si istri wajib meniup dan mematikan lilin supaya si suami lekas menghilang dan berubah kembali normal menjadi manusia. Kalau si istri tidak lekas atau terlambat meniup lilin ketika Kurama ketahuan mencuri maka Kurama akan menjadi rubah untuk selamanya dan tidak bisa kembali lagi menjadi manusia.

Karena sering membuat ulah yang meresahkan warga desa, maka kepala desa yang berasal dari Minang bernama Mina Ato Nami Aje, beliau adalah kepala desa ke-4, menyegel dan mengunci kekuatan Kurama ke dalam tubuh anaknya sendiri yang bernama Narto. Mina sebelumnya bertarung dengan sengit melawan Kurama, namun karena kehebatan jurus Mina yaitu Halimun (dalam cerita Narto Halimun diubah dalam bahasa Jepang yaitu genjutsu) berhasil memperdaya Kurama, lalu dengan ajian pamungkas tapak sakti gembok geni 212 berhasil mengunci kekuatan Kurama ke dalam tubuh Narto yang masih kecil hingga meninggalkan bekas tato di perut berupa aksara jawa yaitu tulisan hanacaraka.
Untuk melakukan jurus pamungkas tapak sakti gembok geni 212 membutuhkan tumbal yaitu nyawa Mina itu sendiri. Sangat lazim di dunia perklenikan Jawa bahwa jika ingin menguasai suatu jurus maka akan membutuhkan tumbal, seperti misalnya jurus pesugihan maka pasti akan membutuhkan tumbal, entah tumbalnya adalah nyawa dari keluarga terdekat atau nyawa pemilik jurus itu sendiri. Maka dari itu Mina telah menjadi tumbal dari jurusnya sendiri sehingga membuat Narto tumbuh menjadi anak yatim-piatu.

12 tahun telah berlalu dan Narto tumbuh menjadi ABG yang cukup labil, di sekolah dia selalu jahil sehingga sering dipanggil guru BK karena kenakalannya tersebut. Narto sering membroadcast berita-berita hoax lewat socmed, menyebarkan kebencian, menistakan kepala desa, hingga menjadi pengikut komunis yang sangat dibenci warga. Namun berhubung Narto anak yatim piatu akhirnya dia selalu lolos dari hukuman.

Narto selalu merasa dianggap sebagai anak aneh oleh teman-temannya karena ada monster rubah di dalam dirinya. Dia jarang beribadah, suka main petasan, menipu temannya dengan jurus menggandakan dirinya menjadi banyak. Jurus duplikat dia pelajari sewaktu berguru pada Kanjeng Dimas Taat Pribadi. Sayangnya gurunya terlena oleh kenikmatan sesaat dan lebih memilih menggandakan hepeng ketimbang menyelamatkan dunia.

Kesimpulan dari cerita Narto tersebut, janganlah mudah terperdaya oleh manga Jepang yang berjudul Naruto itu, karena sebenarnya cerita tersebut adalah cerita asli Indonesia dari tanah Jawa yang berjudul Narto, namun karena kelicikkan Jepang mereka telah memutarbalikkan fakta maka kita semua tertipu. Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah, kawan-kawan. Jepang telah menjajah kita selama 3,5 tahun dengan sangat keji. Mereka ternyata juga telah mencuri ide asli cerita bangsa kita. Jangan sampai akidah kita menjadi dangkal, saudara-saudara. #Nasionalisme harga mati! #SayNoToNaruto! #AksiBelaNarto

Lalu bagaimana kelanjutan kisahnya? Mari kita selamatkan budaya asli kita sendiri dengan cara rajin beribadah, membaca buku sejarah, dan memperbanyak makan micin supaya tidak gampang dibodohi.

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on 18/06/2017 in Terapi

 

How Poor We Are

FB_IMG_1466301636981FB_IMG_1466301643489FB_IMG_1466301649687FB_IMG_1466301653701FB_IMG_1466301657588FB_IMG_1466301661245FB_IMG_1466301665442

 
Leave a comment

Posted by on 14/06/2017 in Karikatur

 

Refugee

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana jika para pemimpin di dunia adalah para imigran, seorang pelarian dari negara mereka yang sedang berperang.

Jika kita melihat di media elektronik para pemimpin dunia seperti Donald Trump, Barack Obama, Angela Merkel, Putin,  Recep Tayyip Erdogan, Ahmadinejad, Kim Jong Un, dll yang seolah-olah hidup dalam dunia berbeda dibanding dengan para imigran. Padahal sebagian besar permasalahan imigran penyebabnya adalah kebijakan yang dibuat oleh para pemimpin di dunia.

Seorang seniman dari Suriah bernama Abdalla Al Omari berhasil membuat ilustrasi tersebut dengan sangat baik. Seni yang sarat akan muatan politik dan sangat berhasil mengajak para penikmatnya dalam melihat kondisi sosial yang terjadi saat ini di belahan bumi lain. Dia seolah ingin berkata dalam karya seninya mengenai balas dendam yang elegan.

Berikut beberapa hasil karya dari Abdalla Al Omari :

 

kamu bisa melihat karya lain dari Abdalla di websitenya :

http://www.abdallaomari.com

 

menurut saya pribadi, ini adalah demonstrasi atau kritik sosial yang sangat elegan, indah dan tepat sasaran. Salut untuk Abdalla…keep up the good work.

 
Leave a comment

Posted by on 27/05/2017 in Terapi

 

Judi

Singgung menyinggung soal judi, apakah boleh atau tidak? Mayoritas pasti sepakat dilarang oleh agama dan negara. Tapi aku jadi kepikiran, apa definisi judi? Lalu benarkah banyak hal dari kehidupan ini adalah sebuah perjudian?

Misalnya,

Kita hendak berjualan bakso, otomatis harus modal membuat rombong terlebih dahulu, kemudian membeli bahan-bahan seperti pentol, tahu, siomay, goreng, dll. Belum lagi seperti kompor dan gas nya sekalian. Latihan fisik supaya nanti dorong gerobak bakso tidak cepat lelah, dsb. Setelah semua beres pertanyaan berikutnya, “memang kamu yakin ada yang beli baksomu?” “Yakin baksomu akan laris dan ludes terjual?” Kalau jawabannya bisa iya ada yang beli tapi bisa juga tidak ada yang beli, bukankah itu juga sebuah perjudian?

Kamu jatuh cinta mati kepada seorang pria atau wanita, lalu kamu berusaha semaksimal mungkin menjadi kekasih atau pacarnya. Tiap hari telepon, sms, whatsapp, habisin pulsa dan kuota, rajin apel bawa makanan buat gebetan dan orangtuanya, rajin antar jemput. Setelah itu, “apakah kamu yakin gebetan kelak akan menjadi suami atau istrimu?” “Yakin akan sehidup semati hingga ajal menjemput?” Kalau jawabannya bisa iya dan bisa tidak, bukankah itu juga sebuah perjudian?

Kamu berolahraga secara rutin, rajin jogging, ke gym, bersepeda, makan makanan sehat dan bergizi. Tidur teratur, menghindari stres, rajin yoga, meditasi, dsb. Setelah itu, “apakah kamu yakin besok pagi kamu bisa bangun pagi dengan keadaan hidup?” Karena bisa saja di tengah jalan kecelakaan, dirampok, dibunuh, dll. Belum pasti kan? Bukankah itu juga sebuah perjudian?”

Kamu rajin beribadah, membaca kitab suci, beramal, membantu orang yang kesusahan, dsb. “Apakah kamu yakin akan masuk surga?” “Bagaimana ternyata kenyataannya surga itu tidak ada? Kamu berbuat kebaikan ternyata untuk memberikan kepuasan batin individu maupun secara moral. Tidaak kurang dan tidak lebih.

Begitulah…

Berjudi berharap mendapat keberuntungan.

Hidup adalah perjudian

Berjudilah; jadilah penjudi yang mampu mempecundangi nasib buruk; berusahalah sekuat tenaga; agar peluang mendapat keberuntungan semakin besar.

 

FB_IMG_1486907317043

 
Leave a comment

Posted by on 17/05/2017 in Terapi

 

Dendam

Bagaimana jika nanti muncul dendam, bara dalam sekam.

Bersiap menuntut balasan jika musuh terpeleset dan terjungkal.

Seperti burung hantu mengintai buruan.

Bagaimana jika calon pemimpin hebat Indonesia dilahirkan pada orang tua yang berbeda keyakinan dengan kita? Apakah itu berarti kita telah menghancurkan impian dan masa depan mereka, masa depan kita semua?

Siapakah yang paling senang?

Dunia sudah terlalu kompleks. 

Seorang muslim bisa lahir dari ayah Kristen dan Ibu Islam.

Seorang Kristen bisa lahir dari keluarga besar Budha.

Seorang Hindu bisa lahir dari masyarakat Kejawen.

Seseorang bisa lahir dari Ayah keturunan Tionghoa dan Ibu Padang.

Mayoritas agama seseorang adalah karena keturunan dan pernikahan, hanya sedikit yang berdasarkan pilihan (meskipun sering mengalami tekanan)

Semua suku dan ras seseorang adalah mutlak kuasa Tuhan, seorang bayi tidak bisa memilih lahir pada rahim ibu Israel atau rahim ibu Palestina.

Kasihan mereka yang lahir berada di lingkungan multi agama dan multi etnis. Kehidupan yang awalnya tentram kini berubah menjadi mencekam. Dipaksa memihak. “Kau ikut aku atau ikut mereka?”

Hubungan antara manusia sudah terlalu kompleks. Memisahkan seseorang berdasarkan SARA hanyalah sia-sia belaka.
Membuatnya menjadi polemik adalah lelucon yang tidak lucu sama sekali. 

Berdebat siapa yang ajarannya paling benar dan siapa yang paling murni ras nya? Hahaha…

Bertanyalah kepada hutan dan segala macam isinya, mereka pasti juga sama seperti saya mentertawakan kita semua.

Siapakah yang paling senang ketika dunia sedang tergoncang?

Pepatah dari negeri Afrika berkata, “ketika 2 ekor gajah bertarung, maka yang paling tersiksa adalah rumput yang terinjak-injak”.

Semoga setelah semua liku politik di negeri ini tidak menumbuhkan dendam, bara dalam sekam.
Semoga tidak ada saling lapor apalagi bogem dan popor.

Meskipun peraturan dan pengecualian menghasilkan pasal karet yang molor

‘Atas nama Tuhan dan keyakinan” menjadi senjata mematikan karena sulit diklarifikasi kepada yang bersangkutan.

Karena Tuhan tidak akan pernah hadir secara fisik dalam persidangan dan keyakinan justru saling beradu siapa yang masuk surga duluan.

“Monggo silahkan masuk surga, tapi satu syarat pasti jika kamu mau surga adalah harus mati duluan”

Spesies manusia adalah hewan yang berada di atas puncak rantai makanan. Jangan sewenang-wenang. Karena bisa saja suatu saat nanti semesta akan membalikkan itu semua.

Spesies manusia memberikan ajaran kehidupan setelah kematian. Berbeda dibanding spesies hewan kebanyakan.

Gandhi seolah mengingatkan kepada kita, “jika mata dibalas oleh mata, maka dunia akan penuh dengan orang buta”

Nelson Mandela seolah mengingatkan kepada kita, bahwa kemenangan menentang apartheid tidaklah mudah.

Jangan sewenang-wenang. Jangan ada dendam. Jangan membenci apa yang tidak kita mengerti, karena benci terhadap apapun dan siapapun tanpa terkecuali bukanlah sifat orang dalam kebaikan.

inner peace…inner peace

 
2 Comments

Posted by on 09/05/2017 in Terapi

 

Agama Dalam Tantangan

Zaman Peralihan -Soe Hok Gie-

Tanggal 24 Oktober 1968, saya keluyuran bersama Dave (Australia) dan Mike (Selandia Baru) di kota Salem. Kami akan pergi ceramah Dr. Leonard Adolf tentang Perang Vietnam, tetapi kami harus menunggu kira-kira dua jam. Karena itu kami keluyuran melihat etalase toko, cari makanan murah di cafe luntang-lantung biasa. Dekat kampus Universitas Villamate terdapat sebuah toko Hippies yang masih ditutup. Di toko ini dijual macam-macam: poster modern yang artistik, selendang kaum Hippies, juga tas-tas kulit mereka yang sederhana. Mata saya agak ‘terbelalak’, ketika saya melihat gambar Yesus pada sebuah poster yang tertempel sebesar jendela. Bukan karena gambarnya, tetapi membaca kata-katanya:

REWARD

For information to the apprehension of JESUS CHRIST wanted for sedition, criminal anarchy and conspiring to overthrow the established government. Dressed poorly, said to be carpenter by trade, ill nourshed, has visionary ideas, associated with burns, allies believed to be a Jewish. Prince of Peace, son of Man light of the world. Professionally agitator, red bread marks on wounds and felt the result of injuries inflicted by an angry mob led by repectable citizen and legal authorities.

Beberapa rumah dari toko Hippies tadi terdapat sebuah Gereja Kristen (Christian Science), yang juga menjual brosur-brosur. Betapa kontrasnya, yang satu membuat lelucon tentang Yesus, karena mereka (orang-orang Hippies) merasa muak dengan sistem agama yang ada, sedangkan yang lain mencoba mempengaruhi masyarakat dengan pola agama yang konvensional.

Waktu saya berada di AS, organisasi-organisasi agama sedang mengalami krisis yang amat hebat. Pastor-pastor di Texas membuat resolusi, meminta agar uskup agung mereka meletakkan jabatan (saya ingat resolusi partai-partai politik). Gereja Katolik sedang pecah belah, karena kelompok-kelompok yang progresif menentang keputusan Paus Paulus yang dianggap kolot dalam soal pembatasan kelahiran. Krisis itu begitu dalam, sehingga diadakan konferensi uskup-uskup seluruh AS di washington, agar perpecahan gereja Katolik tidak menjadi-jadi. Dan pada waktu konferensi berlangsung, pastor-pastor progresif mengadakan demonstrasi duduk di lobi hotel, sambil main gitar dan bernyanyi.

Suasana eksplosif ini tambah meledak, ketika Jacqueline Kennedy menikah dengan Onassis, yang telah bercerai dari istrinya. Menurut peraturan gereja Katolik, perceraian dilarang. Hanya kematian yang dapat menggugurkan perkawinan. Onnasis, seorang kakek tua, menceraikan istrinya, dan kemudian kawin dengan janda Presiden Kennedy yang beragama Katolik. Menurut peraturan gereja, Jacqueline telah melanggar, dan harus dikeluarkan (sementara) dari lingkungan gereja. Apakah gereja berani mengambil tindakan ini terhadap seorang tokoh Katolik, yang secara sadar melanggarnya (kalau yang terlanggar seorang petani bukan soal), dan kemudian dibela oleh Kardinal dari Boston, teman pribadinya?

Gereja Kristen Protestan yang memang telah terpecah-pecah itu, juga mengalami hal yang sama. Di beberapa tempat, organisasi gereja adalah refleksi dari masyarakatnya. Dalam suasana masyarakat yang konservatif tadi (seperti di Afrika Selatan, gereja-gereja tertentu membenarkan apartheid). Pernah terjadi, seorang pendeta yang ingin memelopori pendekatan hitam dan putih di sebuah masyarakat konservatif, mendapatkan mobilnya terbakar, ketika ia sedang berkhotbah.

Ada yang dipecat oleh pimpinan jemaat, karena sikapnya yang progresif. Ketika saya di Salem, saya bermalam di sebuah keluarga Protestan. Pada suatu hari, saya tanyakan pada ‘ibu’, mengapa keluarga mereka tak pernah ke gereja pada hari Minggu?

“Gereja saya, gereja yang konservatif. Pendetanya mengajarkan kami untuk membenci orang-orang Katolik. Saya kira bukan ini tujuan agama, dan kita harus belajar menghormati orang lain. Di gereja, saya tidak mendapatkan apa-apa, dan saya pikir tidak ada gunanya lagi pergi ke sana.” Keluarga mereka adalah keluarga intelektual, yang merasakan bahwa kebutuhan rohani mereka tidak dapat lagi dipuaskan oleh organisasi-organisasi kegamaan yang ada.

Sebagai seorang yang juga mengalami ‘krisis kepercayaan’ pada organisasi agama, saya selalu tertarik untuk bertemu dengan ‘rekan-rekan’ saya, dan mencoba mengerti apa yang sebenarnya terjadi di AS sekarang. Agama Kristen pada awalnya adalah agama pembebasan, karena ia mengajarkan, bahwa manusia pada hakikatnya adalah sama. Di sisi Allah, tak ada orang kaya dan miskin, tak ada penguasa dan budak-budak. Karena itu, agama ini dianut oleh para budak belian, orang-orang rendah yang haus akan keadilan. Akhirnya agama ini tersebar ke Eropa, dan menjadi agama masyarakat, termasuk kaum penguasa. Pada saat ini, organisasi-organisasi agama (gereja) mengalami krisi utama. Di satu pihak, ia adalah pelopor keadilan, tetapi di pihak lain ia menjadi alat daripada penguasa.

Gereja menjadi tuan tanah, hakim kejam membakar orang (inquistusi), punya tentara pemeras, dan memberikan tafsiran-tafsiran teologis, untuk membenarkan para penguasa. Yang saya maksudkan dengan gereja adalah organisasi dan manusia-manusianya, bukan teologinya. Saya kira semua organisasi keagamaan, mengalami hal yang sama. Budhisme di Tibet, Islam di Turki dengan bunuh-bunuhannya, dan sekte-sekte lainnya.

Amerika Serikat dibangun, antara lain oleh pelarian-pelarian agama, dan kaum intelektual yang lari dari Eropa. William Penn yang mendirikan koloni di Pennsylvania, Roger William yang yang mendirikan Rhode Island, orang-orang Mormon yang mendirikan koloni di Utah, adalah contoh-contoh bagaimana AS telah menjadi tempat pelarian orang-orang tertindas batiniah. Tradisi ini amat kuat di AS. Tradisi untuk selalu bertanya tentang kebenaran-kebenaran yang mereka yakini.

Di dalam proses sejarahnya, organisasi agama adalah refleksi daripada masyarakatnya. Dua puluh tahun yang lalu, bukanlah sesuatu hal yang asing di AS, jika ada Gereja Protestan melarang orang-orang Negro untuk masuk gereja putih. Orang-orang tahu, bahwa di sisi Tuhan manusia adalah sama. Tetapi manusia di dunia bilang lain, bahwa hitam dan putih adalah berbeda, dan Tuhan tidak bisa berbuat apa-apa dari surga. Pemerasan-pemerasan yang paling kejam dan mencolok, dilakukan oleh anggota-anggota jemaat yang terhormat. Pendeta-pendeta pura-pura tidak tahu dan tidak menskors anggotanya. Akhirnya gereja dan organisasi agama menjadi alat dari masyarakatnya.

Gereja Katolik menutup diri, dan mengajarkan bahwa hanya mereka yang beragama Katolik saja, yang bisa masuk surga. Gereja seolah-olah berfungsi menjadi Konsulat Tuhan, yang bisa memberikan visa untuk masuk surga. Disiplin rohaniah ditegakkan dengan kokoh, dan pemberontakkan dari dalam hampir-hampir tidak mungkin.

Sejalan dengan proses perubahan sosial yang terjadi, sistem nilai-nilai masyarakat berubah pula. Orang-orang mulai dipaksa berpikir secara kritis tentang nilai-nilai yang telah diterima masyarakat, antara lain tentang nilai-nilai agama. Jika Tuhan memang maha pengasih dan maha adil, mengapa di dunia ini terdapat begitu banyak kesengsaraan? Apakah bukan ‘kita yang salah menafsirkan firman-firman Tuhan?’ Mengapa kita mendiskrimasikan sesama Kristen dalam gedung-gedung gereja kita? Jika Paus wakil Yesus di dunia, apa yang dilakukan oleh Paus Pius XII pada orang-orang Nazi yang beragama Katolik? Jika tidak ke gereja pada hari Minggu, apakah seorang gembel dan pelacur di jalanan berani pergi ke gereja? Mana yang lebih perlu, mencetak brosur-brosur agama berjuta-juta eksemplar, atau memberikan makan untuk mereka yang lapar? Pertanyaan-pertanyaan fundamental yang timbul di hati setiap manusia yang berpikir.

Sebagian sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan tidak ada, atau sudah mati. Di kampus Universitas Hawaii, saya membaca di WC : “God is dead”. Kemudian ada orang iseng yang menambah…“God is not dead but unemployed” (Tuhan tidak mati, cuma jadi pengangguran). Tuhan nganggur karena manusia-manusia tidak mau lagi patuh pada ajaran-ajaranNya, dan seenaknya memutarbalikkan sesuai dengan kebutuhan praktisnya, karena tak ada lagi yang mau mendengarkanNya, akhirnya Ia menjadi penganggur.

Tantangan-tantangan terhadap organisasi agama, akhir-akhir ini begitu besar dan akhirnya menimbulkan krisis keagamaan di AS sekarang (dan dunia umumnya). Kesempatan lain kita bahas mereka yang berontak dari dalam, dan yang keluar dari organisasi keagamaan.

 
Leave a comment

Posted by on 07/05/2017 in Terapi

 

Masalah Identitas Negro di Amerika Serikat

Beberapa hari ini aku sedang menghabiskan waktu membaca buku “Zaman Peralihan”, sebuah buku yang merangkum berbagai tulisan dari Soe Hok Gie, tokoh yang cukup terkenal di kalangan aktivis Indonesia. Buku yang sudah aku beli beberapa bulan lalu, namun baru aku baca beberapa hari terakhir karena kesibukkan lain. Sebelumnya aku sudah baca 2 buku lain karya Soe Hok Gie yaitu “Catatan Seorang Demonstran” dan “Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”. 

Banyak sekali tulisan Soe Hok Gie yang aku anggap jujur, tidak hipokrit dan berdiri diatas prinsip-prinsip yang dia pegang teguh hingga kematian menjemputnya di Gunung Semeru. Sungguh ironis jika kita melihat kondisi di Indonesia saat ini, politik identitas dan polarisasi agama dijadikan alat untuk merebut kekuasaan, dan tulisan-tulisan Soe Hok Gie yang ditulis pada tahun 60-an ternyata masih relevan hingga saat ini. Apakah ini berarti di tengah kemajuan teknologi yang sangat pesat maka sejujurnya jika dilihat secara nurani spesies manusia bisa dikatakan tidak berkembang sama sekali?

Sayang sekali Soe Hok Gie harus mati muda. Aku penasaran seandainya dia masih hidup hingga saat ini. Bagaimana pandangannya tentang Soeharto yang dia puji-puji ketika rezim Soekarno runtuh, bagaimana pendapatnya tentang kondisi perpolitikan baik dalam maupun luar negeri saat ini, bahkan aku juga penasaran bagaimana pendapatnya melihat kondisi Pecinta Alam di tengah maraknya anak muda generasi “My Trip My Adventure” beserta selfie stick dan dronenya itu.

Ada beberapa bab dari buku Zaman Peralihan yang akan aku tulis ulang di blog sebagai bahan renunganku sendiri.

Masalah Identitas Negro di Amerika

Zaman Peralihan -Soe Hok Gie-

Telah lama saya ingin menulis surat, tetapi selalu tak jadi. Dua kali saya buang ke keranjang sampah. Saya pikir terlalu kekanak-kanakan. Tetapi malam ini saya ingin sekali menulis surat dan itulah sebabnya saya menulis surat sekarang.

Saya telah empat minggu di AS, dan saya kira telah banyak yang saya ‘lihat’ dan dengar tentang AS. Ada beberapa aspek yang saya senangi–beberapa tidak. Dan ‘anehnya’ saya merasa bahwa saya lebih mengerti ‘Indonesia’ setelah saya ada di negeri yang jauh. Saya belum bisa membuat perbandingan dan saya melihat Indonesia dari perspektif yang lebih jauh. Dan nilai-nilai yang tak pernah kita sadari tiba-tiba muncul dan menjadi sesuatu yang amat berharga.

Yang paling menarik perhatian saya adalah masalah Negro di AS. Sejarahnya–usahanya untuk mengintegrasikan diri ke masyarakat AS dan frustasi-frustasi yang timbul karena soal rasa rendah diri. Telah lama ditanamkan dalam masyarakat AS bahwa black is bad, dan orang-orang Negro merasa malu bahwa mereka berkulit hitam. Mereka merasa bahwa tokoh-tokoh putih menolak mereka. Dalam frustasi dan rasa rendah diri mereka menjadi radikal, rasialis hitam, dan agresif. Orang-orang Puerto Rico tak mengalami hal ini karena jika mereka diperlakukan buruk–mereka dapat kembali ke Puerto Rico–demikian pula Mexico. Tetapi Afro-American ini tidak punya ‘tanah air’. Mereka tak mungkin kembali ke Afrika–mereka telah kehilangan ‘touch’ dengan Afrika. Mereka telah di-‘cabut’ dari bumi Afrika–mereka adalah Amerika.

Di New York saya menjadi ‘sadar’ betapa berharganya warisan kebudayaan kita. Dan rasa bangga sebagai orang Indonesia timbul karena kita merebut kemerdekaan dengan darah. Saya merasa bangga dengan sejarah AURI-ALRI yang dibangun dari NOL. Dengan segala korupsi-korupsi dan kemiskinan rakyat kita, saya merasa bahwa saya mempunyai sesuatu untuk dibawa ke dunia Internasional–rasa harga diri sebagai orang Indonesia. Saya sama sekali tidak menyadari hal ini di Indonesia. Tetapi di tengah-tengah mahasiswa lain (saya satu-satunya dari Indonesia) saya merasa bahwa kita adalah bangsa yang ‘kaya’. Saya melihat hal yang sama dengan mahasiswa-mahasiswa Kongo dan Kamerun yang saya temui. Mereka belajar teknologi di AS. “Setelah saya mengerti bagaimana caranya menjalankan mesin–saya akan pulang ke Afrika”, kata mereka. Mereka (jauh lebih buruk dari Indonesia) mempunyai sesuatu tempat mereka berpegang. Mereka kagum pada Indonesia–terutama dalam bidang bahasa dan pendidikan. Saya tidak sampai hati menceritakan keburukan Indonesia.

Dengan segala kegila-gilaannya, saya menyadari bahwa Soekarno telah turut memberikan sesuatu pada bangsa kita–identitas diri sebagai suatu bangsa. Politiknya memang gila dan korupsinya mengerikan–tetapi dia (bersama-sama dengan seangkatan dengan dia) telah menyumbangkan elemen yang terpenting untuk kita–harga diri sebagai orang Indonesia.

Orang-orang Negro AS menambah huruf X di belakang namanya, misalnya Mac Malcolm X. X berarti bahwa ada sesuatu yang hilang, yang mereka tidak ketahui yaitu identitas sebagai kelompok. Saya kira orang Negro AS adalah orang yang paling malang di dunia–Negro Afrika punya sesuatu untuk berpijak (walaupun amat sederhana)–tetapi Negro Amerika Serikat tidak punya apa-apa. Disinilah saya merasa betapa ‘kayanya’ orang Indonesia. Tidak seperti Malaysia yang pro-Inggris–tidak seperti Filipina dan Taiwan yang telah dirampok identitasnya oleh orang-orang/kebudayaan AS. Dan dari New York, saya menyadari banyak hal baik tentang Indonesia.

Di Cornell (saya tinggal seminggu di sana), Soemitro dianggap sebagai orang yang berani mendobrak lingkaran setan ekonomi Indonesia. Beberapa sarjana AS menaruh harapan besar akan usaha-usahanya dan melihat titik terang dalam kabinet Indonesia. Saya harap dia berhasil mendobrak terus kebobrokan dan jaring-jaring koruptor di bidang perdagangan. Di universitas Cornell terdapat banyak mahasiswa-mahasiswa AS/Australia yang belajar tentang Indonesia. Mereka akan banyak menentukan politik pemerintahannya terhadap Indonesia di kemudian hari. Dan saya kira amatlah perlu memberikan pada mereka gambaran dan analisis kita tentang Indonesia. Mereka adalah masa depan kita juga. Sugih Arto amat tidak populer, ia dianggap sebagai orang tolol dan penjilat. Suara-suara tentang Adam Malik (korupsi) juga saya dengar di sana. Saya menolak memberikan komentar. Saya harap suara-suara tadi tidak benar.

Kegiatan anti-Soeharto nuga besar. Baik Moskow-Peking-Tirana dan golongan Trotsky memburuk-burukkan nama Indonesia. Mereka baru saja menerbitkan Indonesia Under Fascism dan sebagai karya jurnalistik meyakinkan bahwa fakta-faktanya diputar-balikkan. Saya membawa copy dari buku ini dan sekarang mulai dimuat sebagai ‘kisah bersambung’ di publikasi-publikasi komunis internasional. Publikasi Deparlu amat jelek–statement melulu.

Saya menerima surat dari Indonesia yang menyatakan bahwa Indonesia Raya amat jelek. Pola-pola layout dan lain-lainnya ketinggalan jaman. Saya sedih sekali membaca ini. Saya kira wartawan-wartawan tua yang dipakai telah kehilangan ‘touch’ pada dunia politik Indonesia oleh karena itu kita harus kerja keras. Saya yakin bahwa kita mempunyai  tenaga-tenaga wartawan serta penulis yang baik (bahkan terbaik) untuk membantu Indonesia Raya. Sayang sekali jika tenaga-tenaga ini tidak digunakan.

Hari Minggu saya akan ke Washington, saya akan mencoba menemui orang-orang di Kedutaan Besar kita. Akhir Desember, saya akan berada di Indonesia kembali dan saya harap dapat aktif kembali awal Februari (saya ingin menempuh ujian akhir Januari).

Salam pada kawan-kawan kita. Juga untuk Dr. Soemitro kalau bertemu. Banyak mahasiswa Indonesia  (terutama pengikutnya) di AS yang menaruh harapan pada dia. Saya berjanji untuk mengirimkan laporan mingguan atau analisis situasi jika saya kembali lagi ke Indonesia.

 
Leave a comment

Posted by on 30/04/2017 in Terapi