RSS

Dendam

Bagaimana jika nanti muncul dendam, bara dalam sekam.

Bersiap menuntut balasan jika musuh terpeleset dan terjungkal.

Seperti burung hantu mengintai buruan.

Bagaimana jika calon pemimpin hebat Indonesia dilahirkan pada orang tua yang berbeda keyakinan dengan kita? Apakah itu berarti kita telah menghancurkan impian dan masa depan mereka, masa depan kita semua?

Siapakah yang paling senang?

Dunia sudah terlalu kompleks. 

Seorang muslim bisa lahir dari ayah Kristen dan Ibu Islam.

Seorang Kristen bisa lahir dari keluarga besar Budha.

Seorang Hindu bisa lahir dari masyarakat Kejawen.

Seseorang bisa lahir dari Ayah keturunan Tionghoa dan Ibu Padang.

Mayoritas agama seseorang adalah karena keturunan dan pernikahan, hanya sedikit yang berdasarkan pilihan (meskipun sering mengalami tekanan)

Semua suku dan ras seseorang adalah mutlak kuasa Tuhan, seorang bayi tidak bisa memilih lahir pada rahim ibu Israel atau rahim ibu Palestina.

Kasihan mereka yang lahir berada di lingkungan multi agama dan multi etnis. Kehidupan yang awalnya tentram kini berubah menjadi mencekam. Dipaksa memihak. “Kau ikut aku atau ikut mereka?”

Hubungan antara manusia sudah terlalu kompleks. Memisahkan seseorang berdasarkan SARA hanyalah sia-sia belaka.
Membuatnya menjadi polemik adalah lelucon yang tidak lucu sama sekali. 

Berdebat siapa yang ajarannya paling benar dan siapa yang paling murni ras nya? Hahaha…

Bertanyalah kepada hutan dan segala macam isinya, mereka pasti juga sama seperti saya mentertawakan kita semua.

Siapakah yang paling senang ketika dunia sedang tergoncang?

Pepatah dari negeri Afrika berkata, “ketika 2 ekor gajah bertarung, maka yang paling tersiksa adalah rumput yang terinjak-injak”.

Semoga setelah semua liku politik di negeri ini tidak menumbuhkan dendam, bara dalam sekam.
Semoga tidak ada saling lapor apalagi bogem dan popor.

Meskipun peraturan dan pengecualian menghasilkan pasal karet yang molor

‘Atas nama Tuhan dan keyakinan” menjadi senjata mematikan karena sulit diklarifikasi kepada yang bersangkutan.

Karena Tuhan tidak akan pernah hadir secara fisik dalam persidangan dan keyakinan justru saling beradu siapa yang masuk surga duluan.

“Monggo silahkan masuk surga, tapi satu syarat pasti jika kamu mau surga adalah harus mati duluan”

Spesies manusia adalah hewan yang berada di atas puncak rantai makanan. Jangan sewenang-wenang. Karena bisa saja suatu saat nanti semesta akan membalikkan itu semua.

Spesies manusia memberikan ajaran kehidupan setelah kematian. Berbeda dibanding spesies hewan kebanyakan.

Gandhi seolah mengingatkan kepada kita, “jika mata dibalas oleh mata, maka dunia akan penuh dengan orang buta”

Nelson Mandela seolah mengingatkan kepada kita, bahwa kemenangan menentang apartheid tidaklah mudah.

Jangan sewenang-wenang. Jangan ada dendam. Jangan membenci apa yang tidak kita mengerti, karena benci terhadap apapun dan siapapun tanpa terkecuali bukanlah sifat orang dalam kebaikan.

inner peace…inner peace

 
2 Comments

Posted by on 09/05/2017 in Terapi

 

Agama Dalam Tantangan

Zaman Peralihan -Soe Hok Gie-

Tanggal 24 Oktober 1968, saya keluyuran bersama Dave (Australia) dan Mike (Selandia Baru) di kota Salem. Kami akan pergi ceramah Dr. Leonard Adolf tentang Perang Vietnam, tetapi kami harus menunggu kira-kira dua jam. Karena itu kami keluyuran melihat etalase toko, cari makanan murah di cafe luntang-lantung biasa. Dekat kampus Universitas Villamate terdapat sebuah toko Hippies yang masih ditutup. Di toko ini dijual macam-macam: poster modern yang artistik, selendang kaum Hippies, juga tas-tas kulit mereka yang sederhana. Mata saya agak ‘terbelalak’, ketika saya melihat gambar Yesus pada sebuah poster yang tertempel sebesar jendela. Bukan karena gambarnya, tetapi membaca kata-katanya:

REWARD

For information to the apprehension of JESUS CHRIST wanted for sedition, criminal anarchy and conspiring to overthrow the established government. Dressed poorly, said to be carpenter by trade, ill nourshed, has visionary ideas, associated with burns, allies believed to be a Jewish. Prince of Peace, son of Man light of the world. Professionally agitator, red bread marks on wounds and felt the result of injuries inflicted by an angry mob led by repectable citizen and legal authorities.

Beberapa rumah dari toko Hippies tadi terdapat sebuah Gereja Kristen (Christian Science), yang juga menjual brosur-brosur. Betapa kontrasnya, yang satu membuat lelucon tentang Yesus, karena mereka (orang-orang Hippies) merasa muak dengan sistem agama yang ada, sedangkan yang lain mencoba mempengaruhi masyarakat dengan pola agama yang konvensional.

Waktu saya berada di AS, organisasi-organisasi agama sedang mengalami krisis yang amat hebat. Pastor-pastor di Texas membuat resolusi, meminta agar uskup agung mereka meletakkan jabatan (saya ingat resolusi partai-partai politik). Gereja Katolik sedang pecah belah, karena kelompok-kelompok yang progresif menentang keputusan Paus Paulus yang dianggap kolot dalam soal pembatasan kelahiran. Krisis itu begitu dalam, sehingga diadakan konferensi uskup-uskup seluruh AS di washington, agar perpecahan gereja Katolik tidak menjadi-jadi. Dan pada waktu konferensi berlangsung, pastor-pastor progresif mengadakan demonstrasi duduk di lobi hotel, sambil main gitar dan bernyanyi.

Suasana eksplosif ini tambah meledak, ketika Jacqueline Kennedy menikah dengan Onassis, yang telah bercerai dari istrinya. Menurut peraturan gereja Katolik, perceraian dilarang. Hanya kematian yang dapat menggugurkan perkawinan. Onnasis, seorang kakek tua, menceraikan istrinya, dan kemudian kawin dengan janda Presiden Kennedy yang beragama Katolik. Menurut peraturan gereja, Jacqueline telah melanggar, dan harus dikeluarkan (sementara) dari lingkungan gereja. Apakah gereja berani mengambil tindakan ini terhadap seorang tokoh Katolik, yang secara sadar melanggarnya (kalau yang terlanggar seorang petani bukan soal), dan kemudian dibela oleh Kardinal dari Boston, teman pribadinya?

Gereja Kristen Protestan yang memang telah terpecah-pecah itu, juga mengalami hal yang sama. Di beberapa tempat, organisasi gereja adalah refleksi dari masyarakatnya. Dalam suasana masyarakat yang konservatif tadi (seperti di Afrika Selatan, gereja-gereja tertentu membenarkan apartheid). Pernah terjadi, seorang pendeta yang ingin memelopori pendekatan hitam dan putih di sebuah masyarakat konservatif, mendapatkan mobilnya terbakar, ketika ia sedang berkhotbah.

Ada yang dipecat oleh pimpinan jemaat, karena sikapnya yang progresif. Ketika saya di Salem, saya bermalam di sebuah keluarga Protestan. Pada suatu hari, saya tanyakan pada ‘ibu’, mengapa keluarga mereka tak pernah ke gereja pada hari Minggu?

“Gereja saya, gereja yang konservatif. Pendetanya mengajarkan kami untuk membenci orang-orang Katolik. Saya kira bukan ini tujuan agama, dan kita harus belajar menghormati orang lain. Di gereja, saya tidak mendapatkan apa-apa, dan saya pikir tidak ada gunanya lagi pergi ke sana.” Keluarga mereka adalah keluarga intelektual, yang merasakan bahwa kebutuhan rohani mereka tidak dapat lagi dipuaskan oleh organisasi-organisasi kegamaan yang ada.

Sebagai seorang yang juga mengalami ‘krisis kepercayaan’ pada organisasi agama, saya selalu tertarik untuk bertemu dengan ‘rekan-rekan’ saya, dan mencoba mengerti apa yang sebenarnya terjadi di AS sekarang. Agama Kristen pada awalnya adalah agama pembebasan, karena ia mengajarkan, bahwa manusia pada hakikatnya adalah sama. Di sisi Allah, tak ada orang kaya dan miskin, tak ada penguasa dan budak-budak. Karena itu, agama ini dianut oleh para budak belian, orang-orang rendah yang haus akan keadilan. Akhirnya agama ini tersebar ke Eropa, dan menjadi agama masyarakat, termasuk kaum penguasa. Pada saat ini, organisasi-organisasi agama (gereja) mengalami krisi utama. Di satu pihak, ia adalah pelopor keadilan, tetapi di pihak lain ia menjadi alat daripada penguasa.

Gereja menjadi tuan tanah, hakim kejam membakar orang (inquistusi), punya tentara pemeras, dan memberikan tafsiran-tafsiran teologis, untuk membenarkan para penguasa. Yang saya maksudkan dengan gereja adalah organisasi dan manusia-manusianya, bukan teologinya. Saya kira semua organisasi keagamaan, mengalami hal yang sama. Budhisme di Tibet, Islam di Turki dengan bunuh-bunuhannya, dan sekte-sekte lainnya.

Amerika Serikat dibangun, antara lain oleh pelarian-pelarian agama, dan kaum intelektual yang lari dari Eropa. William Penn yang mendirikan koloni di Pennsylvania, Roger William yang yang mendirikan Rhode Island, orang-orang Mormon yang mendirikan koloni di Utah, adalah contoh-contoh bagaimana AS telah menjadi tempat pelarian orang-orang tertindas batiniah. Tradisi ini amat kuat di AS. Tradisi untuk selalu bertanya tentang kebenaran-kebenaran yang mereka yakini.

Di dalam proses sejarahnya, organisasi agama adalah refleksi daripada masyarakatnya. Dua puluh tahun yang lalu, bukanlah sesuatu hal yang asing di AS, jika ada Gereja Protestan melarang orang-orang Negro untuk masuk gereja putih. Orang-orang tahu, bahwa di sisi Tuhan manusia adalah sama. Tetapi manusia di dunia bilang lain, bahwa hitam dan putih adalah berbeda, dan Tuhan tidak bisa berbuat apa-apa dari surga. Pemerasan-pemerasan yang paling kejam dan mencolok, dilakukan oleh anggota-anggota jemaat yang terhormat. Pendeta-pendeta pura-pura tidak tahu dan tidak menskors anggotanya. Akhirnya gereja dan organisasi agama menjadi alat dari masyarakatnya.

Gereja Katolik menutup diri, dan mengajarkan bahwa hanya mereka yang beragama Katolik saja, yang bisa masuk surga. Gereja seolah-olah berfungsi menjadi Konsulat Tuhan, yang bisa memberikan visa untuk masuk surga. Disiplin rohaniah ditegakkan dengan kokoh, dan pemberontakkan dari dalam hampir-hampir tidak mungkin.

Sejalan dengan proses perubahan sosial yang terjadi, sistem nilai-nilai masyarakat berubah pula. Orang-orang mulai dipaksa berpikir secara kritis tentang nilai-nilai yang telah diterima masyarakat, antara lain tentang nilai-nilai agama. Jika Tuhan memang maha pengasih dan maha adil, mengapa di dunia ini terdapat begitu banyak kesengsaraan? Apakah bukan ‘kita yang salah menafsirkan firman-firman Tuhan?’ Mengapa kita mendiskrimasikan sesama Kristen dalam gedung-gedung gereja kita? Jika Paus wakil Yesus di dunia, apa yang dilakukan oleh Paus Pius XII pada orang-orang Nazi yang beragama Katolik? Jika tidak ke gereja pada hari Minggu, apakah seorang gembel dan pelacur di jalanan berani pergi ke gereja? Mana yang lebih perlu, mencetak brosur-brosur agama berjuta-juta eksemplar, atau memberikan makan untuk mereka yang lapar? Pertanyaan-pertanyaan fundamental yang timbul di hati setiap manusia yang berpikir.

Sebagian sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan tidak ada, atau sudah mati. Di kampus Universitas Hawaii, saya membaca di WC : “God is dead”. Kemudian ada orang iseng yang menambah…“God is not dead but unemployed” (Tuhan tidak mati, cuma jadi pengangguran). Tuhan nganggur karena manusia-manusia tidak mau lagi patuh pada ajaran-ajaranNya, dan seenaknya memutarbalikkan sesuai dengan kebutuhan praktisnya, karena tak ada lagi yang mau mendengarkanNya, akhirnya Ia menjadi penganggur.

Tantangan-tantangan terhadap organisasi agama, akhir-akhir ini begitu besar dan akhirnya menimbulkan krisis keagamaan di AS sekarang (dan dunia umumnya). Kesempatan lain kita bahas mereka yang berontak dari dalam, dan yang keluar dari organisasi keagamaan.

 
Leave a comment

Posted by on 07/05/2017 in Terapi

 

Masalah Identitas Negro di Amerika Serikat

Beberapa hari ini aku sedang menghabiskan waktu membaca buku “Zaman Peralihan”, sebuah buku yang merangkum berbagai tulisan dari Soe Hok Gie, tokoh yang cukup terkenal di kalangan aktivis Indonesia. Buku yang sudah aku beli beberapa bulan lalu, namun baru aku baca beberapa hari terakhir karena kesibukkan lain. Sebelumnya aku sudah baca 2 buku lain karya Soe Hok Gie yaitu “Catatan Seorang Demonstran” dan “Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”. 

Banyak sekali tulisan Soe Hok Gie yang aku anggap jujur, tidak hipokrit dan berdiri diatas prinsip-prinsip yang dia pegang teguh hingga kematian menjemputnya di Gunung Semeru. Sungguh ironis jika kita melihat kondisi di Indonesia saat ini, politik identitas dan polarisasi agama dijadikan alat untuk merebut kekuasaan, dan tulisan-tulisan Soe Hok Gie yang ditulis pada tahun 60-an ternyata masih relevan hingga saat ini. Apakah ini berarti di tengah kemajuan teknologi yang sangat pesat maka sejujurnya jika dilihat secara nurani spesies manusia bisa dikatakan tidak berkembang sama sekali?

Sayang sekali Soe Hok Gie harus mati muda. Aku penasaran seandainya dia masih hidup hingga saat ini. Bagaimana pandangannya tentang Soeharto yang dia puji-puji ketika rezim Soekarno runtuh, bagaimana pendapatnya tentang kondisi perpolitikan baik dalam maupun luar negeri saat ini, bahkan aku juga penasaran bagaimana pendapatnya melihat kondisi Pecinta Alam di tengah maraknya anak muda generasi “My Trip My Adventure” beserta selfie stick dan dronenya itu.

Ada beberapa bab dari buku Zaman Peralihan yang akan aku tulis ulang di blog sebagai bahan renunganku sendiri.

Masalah Identitas Negro di Amerika

Zaman Peralihan -Soe Hok Gie-

Telah lama saya ingin menulis surat, tetapi selalu tak jadi. Dua kali saya buang ke keranjang sampah. Saya pikir terlalu kekanak-kanakan. Tetapi malam ini saya ingin sekali menulis surat dan itulah sebabnya saya menulis surat sekarang.

Saya telah empat minggu di AS, dan saya kira telah banyak yang saya ‘lihat’ dan dengar tentang AS. Ada beberapa aspek yang saya senangi–beberapa tidak. Dan ‘anehnya’ saya merasa bahwa saya lebih mengerti ‘Indonesia’ setelah saya ada di negeri yang jauh. Saya belum bisa membuat perbandingan dan saya melihat Indonesia dari perspektif yang lebih jauh. Dan nilai-nilai yang tak pernah kita sadari tiba-tiba muncul dan menjadi sesuatu yang amat berharga.

Yang paling menarik perhatian saya adalah masalah Negro di AS. Sejarahnya–usahanya untuk mengintegrasikan diri ke masyarakat AS dan frustasi-frustasi yang timbul karena soal rasa rendah diri. Telah lama ditanamkan dalam masyarakat AS bahwa black is bad, dan orang-orang Negro merasa malu bahwa mereka berkulit hitam. Mereka merasa bahwa tokoh-tokoh putih menolak mereka. Dalam frustasi dan rasa rendah diri mereka menjadi radikal, rasialis hitam, dan agresif. Orang-orang Puerto Rico tak mengalami hal ini karena jika mereka diperlakukan buruk–mereka dapat kembali ke Puerto Rico–demikian pula Mexico. Tetapi Afro-American ini tidak punya ‘tanah air’. Mereka tak mungkin kembali ke Afrika–mereka telah kehilangan ‘touch’ dengan Afrika. Mereka telah di-‘cabut’ dari bumi Afrika–mereka adalah Amerika.

Di New York saya menjadi ‘sadar’ betapa berharganya warisan kebudayaan kita. Dan rasa bangga sebagai orang Indonesia timbul karena kita merebut kemerdekaan dengan darah. Saya merasa bangga dengan sejarah AURI-ALRI yang dibangun dari NOL. Dengan segala korupsi-korupsi dan kemiskinan rakyat kita, saya merasa bahwa saya mempunyai sesuatu untuk dibawa ke dunia Internasional–rasa harga diri sebagai orang Indonesia. Saya sama sekali tidak menyadari hal ini di Indonesia. Tetapi di tengah-tengah mahasiswa lain (saya satu-satunya dari Indonesia) saya merasa bahwa kita adalah bangsa yang ‘kaya’. Saya melihat hal yang sama dengan mahasiswa-mahasiswa Kongo dan Kamerun yang saya temui. Mereka belajar teknologi di AS. “Setelah saya mengerti bagaimana caranya menjalankan mesin–saya akan pulang ke Afrika”, kata mereka. Mereka (jauh lebih buruk dari Indonesia) mempunyai sesuatu tempat mereka berpegang. Mereka kagum pada Indonesia–terutama dalam bidang bahasa dan pendidikan. Saya tidak sampai hati menceritakan keburukan Indonesia.

Dengan segala kegila-gilaannya, saya menyadari bahwa Soekarno telah turut memberikan sesuatu pada bangsa kita–identitas diri sebagai suatu bangsa. Politiknya memang gila dan korupsinya mengerikan–tetapi dia (bersama-sama dengan seangkatan dengan dia) telah menyumbangkan elemen yang terpenting untuk kita–harga diri sebagai orang Indonesia.

Orang-orang Negro AS menambah huruf X di belakang namanya, misalnya Mac Malcolm X. X berarti bahwa ada sesuatu yang hilang, yang mereka tidak ketahui yaitu identitas sebagai kelompok. Saya kira orang Negro AS adalah orang yang paling malang di dunia–Negro Afrika punya sesuatu untuk berpijak (walaupun amat sederhana)–tetapi Negro Amerika Serikat tidak punya apa-apa. Disinilah saya merasa betapa ‘kayanya’ orang Indonesia. Tidak seperti Malaysia yang pro-Inggris–tidak seperti Filipina dan Taiwan yang telah dirampok identitasnya oleh orang-orang/kebudayaan AS. Dan dari New York, saya menyadari banyak hal baik tentang Indonesia.

Di Cornell (saya tinggal seminggu di sana), Soemitro dianggap sebagai orang yang berani mendobrak lingkaran setan ekonomi Indonesia. Beberapa sarjana AS menaruh harapan besar akan usaha-usahanya dan melihat titik terang dalam kabinet Indonesia. Saya harap dia berhasil mendobrak terus kebobrokan dan jaring-jaring koruptor di bidang perdagangan. Di universitas Cornell terdapat banyak mahasiswa-mahasiswa AS/Australia yang belajar tentang Indonesia. Mereka akan banyak menentukan politik pemerintahannya terhadap Indonesia di kemudian hari. Dan saya kira amatlah perlu memberikan pada mereka gambaran dan analisis kita tentang Indonesia. Mereka adalah masa depan kita juga. Sugih Arto amat tidak populer, ia dianggap sebagai orang tolol dan penjilat. Suara-suara tentang Adam Malik (korupsi) juga saya dengar di sana. Saya menolak memberikan komentar. Saya harap suara-suara tadi tidak benar.

Kegiatan anti-Soeharto nuga besar. Baik Moskow-Peking-Tirana dan golongan Trotsky memburuk-burukkan nama Indonesia. Mereka baru saja menerbitkan Indonesia Under Fascism dan sebagai karya jurnalistik meyakinkan bahwa fakta-faktanya diputar-balikkan. Saya membawa copy dari buku ini dan sekarang mulai dimuat sebagai ‘kisah bersambung’ di publikasi-publikasi komunis internasional. Publikasi Deparlu amat jelek–statement melulu.

Saya menerima surat dari Indonesia yang menyatakan bahwa Indonesia Raya amat jelek. Pola-pola layout dan lain-lainnya ketinggalan jaman. Saya sedih sekali membaca ini. Saya kira wartawan-wartawan tua yang dipakai telah kehilangan ‘touch’ pada dunia politik Indonesia oleh karena itu kita harus kerja keras. Saya yakin bahwa kita mempunyai  tenaga-tenaga wartawan serta penulis yang baik (bahkan terbaik) untuk membantu Indonesia Raya. Sayang sekali jika tenaga-tenaga ini tidak digunakan.

Hari Minggu saya akan ke Washington, saya akan mencoba menemui orang-orang di Kedutaan Besar kita. Akhir Desember, saya akan berada di Indonesia kembali dan saya harap dapat aktif kembali awal Februari (saya ingin menempuh ujian akhir Januari).

Salam pada kawan-kawan kita. Juga untuk Dr. Soemitro kalau bertemu. Banyak mahasiswa Indonesia  (terutama pengikutnya) di AS yang menaruh harapan pada dia. Saya berjanji untuk mengirimkan laporan mingguan atau analisis situasi jika saya kembali lagi ke Indonesia.

 
Leave a comment

Posted by on 30/04/2017 in Terapi

 

Ujian

Mengapa manusia sering mengatakan, “ini ujian dari Tuhan” ?

Sedangkan Tuhan bisa mengetahui masa depan seseorang.

Kalau bisa tahu masa depan, diuji atau tidak, Beliau sudah tahu jawaban dan hasil akhirnya kan?

Kepada kerabat kita mengatakan, “ini ujian dari Tuhan”

Kepada orang yang tidak disukai, kita mengatakan, “ini adalah balasan dari Tuhan”

Ohh..betapa hipokritnya MANUSIA!

 
Leave a comment

Posted by on 29/04/2017 in Terapi

 

Zaman Peralihan -Soe Hok Gie-

Dua Sistem Moral.

Memberikan penilaian terhadap sikap seseorang bukanlah soal yang sederhana. Karena dunia bukanlah hitam dan putih. Setiap tindakan mempunyai motif-motif yang bersumber pada pandangan hidup seseorang.

Di dalam masyarakat, kita melihat ada dua sistem penilaian yang secara teoritis berbeda seratus delapan puluh derajat. Pertama, adalah mereka yang mempergunakan sistem nilai-nilai absolut. Untuk orang-orang ini penilaian dari setiap tindakan didasarkan atas pertanyaan –“apakah ini benar atau salah?” Jika salah maka kita tidak boleh melakukannya. Korupsi salah dan karena itu harus ditumpas di mana saja. Membunuh orang tanpa proses, salah, karena itu harus digugat. Mereka yang memang konsekuen terhadap sistem nilai absolut ini akan menggugat pemerintah karena menembak mati Aidit, Njoto dan lain-lain tanpa proses pengadilan. Mereka akan menggugat ABRI, karena menempati gedung-gedung bekas PKI sebelum ada keputusan hakim. Bagi mereka pertimbangan satu-satunya adalah benar dan salah dan tidak mau mempedulikan situasi.

Tetapi ada kelompok lain yang tidak memakai sistem nilai ini. Mereka mempergunakan sistem nilai-nilai relatif. Mereka sadar akan salah dan benar secara teoritis, tetapi mereka mempergunakan pertimbangan-pertimbangan realistis. Mereka lebih mementingkan kemungkinan-kemungkinan yang lebih berguna di masa depan, jika mereka bertindak sesuatu pada saat sekarang. Mereka bersedia melakukan kompromi-kompromi, karena mereka tahu bahwa hasil-hasil yang mungkin dicapai lebih besar di masa depan. Seorang komandan militer yang membebaskan mata-mata musuh yang berkhianat (karena berpikir akan formasi di masa kemudian) mempergunakan dasar-dasar nilai relatif. Secara teoritis, ia harus menembak mati setiap pengkhianat. Ia melanggar prinsip “keadilan” karena pertimbangan-pertimbangan praktis.

Kedua sistem nilai ini diperlukan dalam masyarakat. Secara teoritis pamdangan ini bertentangan. Tetapi batasnya juga amat kabur. Kita hanya bisa berkata (secara intuisi) bahwa setiap situasi dan jabatan harus dinilai secara proporsional. Seorang pastor hendaknya lebih banyak mempergunakan sistem nilai-nilai absolut (walaupun tidak mutlak-mutlakan). Ia tidak boleh berpikir bahwa demi sumbangan pada gereja, maka orang-orang miskin tidak usah dibela. Demikian pula seorang wartawan, guru, hakim, dan lain-lainnya.

Tetapi seorang perwira lapangan baiknya lebih banyak mempergunakan pertimbangan nilai-nilai relatif. Saya bisa membayangkan bagaimana kacaunya sebuah operasi militer kalau komandannya bertindak sebagai pendeta yang maha adil.

Walaupun batas-batasnya tidak jelas, dasar daripada setiap tindakan ini hendaknya selalu dialasi dengan motif- motif yang berdiri di belakangnya. Batas yang jelas tidak ada, dan penilaian terakhir diberikan oleh kata hati sendiri.

Dan setiap orang yang mempergunakan nilai-nilai relatif ini hendaknya mempunyai suatu batas, dan jika batas tadi dilanggar, ia harus berani bertindak lain. Sebab ia akan terseret oleh arus, jika ia terlalu fleksibel.

 
Leave a comment

Posted by on 23/04/2017 in Terapi

 

Yasallaaamm

PAYUNG oleh Rusdi Mathari

Jok: Ane kecewa ke ente. 

Sal: Apa salah ane?
Jok: Ente ngasih fulus dikit banget. 

Sal: Ente sendiri dulu bilang, ente punya fulus. “Fulusnya ade, tinggal mau kerja kagak?” Ingat kagak ente? Kenafa ente masih butuh fulus dari ane? 
Jok: Ane lagi bangun jalan, bangun pelabuhan, bangun terowongan… Fulus ane habis. Utang bejibun. Ane butuh fulus banyak. 

Sal: Lah ente yang bangun, kenapa ane yang harus ngeluarin sedekah?
Jok: Tapi ane sudah mayungi ente pas hujan tempo hari. Masak ente kagak pengertian?

Sal: Yailah cuma mayungi aje, ente tagih-tagih balesannye. 
Jok: Bukan nagih-nagih. Ane cuma minta pengertian ente. 

Sal: Ente juga kagak pengertian Jok. 
Jok: Kurang pengertian apa ane? 

Sal: Lah ente ngasih sepeda ke Raisa. Terus ente ngasih apa ke ane? Kodok?
Muehehehe…cukup satir. Tak tambahi tulisanku sendiri ah.

Jok : Ane dituduh anak PKI, komunis, dukung Ahok yang Cina lah, dll. 

Sal : Lah terus? Afa hubungannya dengan Ane?

Jok : Rakyat Ane benci keduanya. Ente malah ngasih fulus ke negeri komunis lebih besar ketimbang di Indon. Amsyong tenan ente.

Sal : terus? Masalah buat Ane?

Jok : yaa ente kan raja Arab Saudi. Rakyat Ane dari dulu mengelu-elukan negara-negara Timur-Tengah.

Sal : Nih, Jok, Ane kasih tau ye…sebenarnya Ane kagak tau kalau fulau Bali yang fariwisatanya kesohor itu ada di Indon. Ane cuman fengen liburan melihat fantai. Itu aje. Ente jangan kegeeran.

Jok : Bali itu pulau dengan mayoritas kaum kafir lo, masak ente kagak ngerti?

Sal : Lah terus? Masalah buat Ane?

Jok : Ente gak takut pamor Ente merosot karena mendukung komunis dan berlibur di pulau kafir?

Sal : Bussiness as usual, Jok. Ente ini kok kagak faham-faham.

Jok : Yassalaaammm….

 
Leave a comment

Posted by on 15/04/2017 in Terapi

 

Yang Fana Adalah Politik, Beta Abadi

Hiruk pikuk pilkada ibukota tak membuat beta terpana

Bayangkan jika kau seorang anak Papua dicekoki melulu berita tentang Jakarta

Muak?

Tidak! TV saja beta tak punya! Kalaupun punya, sinyalnya yang tak kuasa!

Kalaupun sinyalnya berkuasa mau kau colok dimana itu TV, aaa!!!

Apa karena kulit beta hitam maka malam di tempat kami wajib kelam?

Bagi Beta, Indonesia bukan hanya Jakarta atau Jawa!

Puluhan tahun menyaksikan para penjarah berebut daging di tanah beta sedang kami hanya kebagian janji Hak Asasi Manusia sementara banyak saudara hilang nyawa.

Kalian berebut daging seperti kawanan Hyena.

Daging-daging yang empuk tadi kau bagi-bagi ke Jawa dan Amerika

Jadi beta kau beri kami apa, aaaa?? Kemerdekaan? Selembar bendera dan slogan-slogan patriotisme belaka?

Lalu siapa penjajahnya dan siapa penjarahnya?

 
Leave a comment

Posted by on 12/04/2017 in Terapi