RSS

Category Archives: Religi

Manacika, Wacika, Kayika

Produk akhir beragama adalah berpikir, berkata dan berbuat yang baik
Jika ketiganya tak sesuai dengan caramu beragama,
Maka jangan ajari aku cara beragama yang baik

Jika nasehat beragamamu baik, aku dengarkan
Namun sambil aku amati pikiran, perkataan dan perbuatanmu.
Jika tidak sesuai?
Aku mentertawaimu dunia dan akhirat

Beragama adalah proses
Berpikir, berkata dan berbuat yang baik adalah hasil akhir
Jika proses tidak menuntun pada hasil akhir yang baik, berarti prosesmu salah
Jika hasil akhirnya baik, maka sudah dipastikan telah menerapkan proses yang benar

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 31/10/2015 in Religi

 

Dalang dan Tuhan

Pagi menyingkap kebenaran
Mari manusia! Kita jalani peran

Pernahkah kita bertanya pada dalang, mengapa dia bermain wayang?
Seperti bertanya mengapa tuhan mencipta semesta tak berkesudahan.

Apakah dalang dan tuhan hanya ingin bersenang-senang?

Sial! Ternyata semesta bukanlah tempat untuk bersenang-senang

 
2 Comments

Posted by on 30/07/2015 in Religi

 

Belum Kenal

Ketika manis dan pahit menyatu
Tak ada buluh yang lagi terjalin
Tak ada ketergesaan yang mengeruhkan air
Dewa-dewa tak bernama, tak berwatak, dan tak bermasa depan
(Sejarah Tuhan hal. 33, Karel Amstrong)

Barangkali
Tuhanku adalah “takut”
Tuhanku adalah “transaksi pahala dan dosa-dosa”
Tuhanku adalah “mitologi buta dewa-dewa”
Tuhanku adalah “cinta”
Tuhanku adalah “energi quantum fisika”
Tuhanku adalah “filosofi yang masih misteri”
Atau bisa juga aku masih bingung Tuhanku yang mana, aku ini siapa, untuk apa aku ada di dunia, hanya berkembang biak seperti hewan pada umumnya, dan lain sebagainya.

Apapun itu,
Dalam keheningan yang riuh
Ternyata aku masih belum mengenali diriku sendiri.
Memang membutuhkan orang lain untuk bisa mengenali diri sendiri.
Heuheuheu

Amsyong…

Ngapunten nderek sedoyo…

 
Leave a comment

Posted by on 27/06/2015 in Religi

 

Sanga Brata Penyepian ?

Nyepi berasal dari kata sepi yang artinya sunyi, senyap, lenggang, tidak ada kegiatan. Kemudian Hari Raya Nyepi adalah Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi (tiap 1 januari), Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi dan melaksanakan Catur Brata Penyepian. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandara Internasional Ngurah Rai pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.

SEJARAHNYA

Kita semua tahu bahwa agama Hindu berasal dari India dengan kitab sucinya Weda. Di awal abad masehi bahkan sebelumnya, Negeri India dan wilayah sekitarnya digambarkan selalu mengalami krisis dan konflik sosial berkepanjangan.

Pertikaian antar suku-suku bangsa, al. (Suku Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya) menang dan kalah silih berganti. Gelombang perebutan kekuasaan antar suku menyebabkan terombang-ambingnya kehidupan beragama itu. Pola pembinaan kehidupan beragama menjadi beragam, baik karena kepengikutan umat terhadap kelompok-kelompok suku bangsa, maupun karena adanya penafsiran yang saling berbeda terhadap ajaran yang diyakini.

Dan pertikaian yang panjang pada akhirnya suku Saka menjadi pemenang dibawah pimpinan Raja Kaniskha I yang dinobatkan menjadi Raja dan turunan Saka tanggal 1 (satu hari sesudah tilem) bulan 1 (caitramasa) tahun 01 Saka, pada bulan Maret tahun 78 masehi.

Dari sini dapat diketahui bahwa peringatan pergantian tarikh saka adalah hari keberhasilan kepemimpinan Raja Kaniskha I menyatukan bangsa yang tadinya bertikai dengan paham keagamaan yang saling berbeda.

Sejak tahun 78 Masehi itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun Saka, yang satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut Caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tarikh Masehi dan Sasih Kesanga dalam tarikh Jawa dan Bali di Indonesia. Sejak itu pula kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama di India ditata ulang.

Oleh karena itu peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional. Keberhasilan ini disebar-luaskan keseluruh daratan India dan Asia lainnya bahkan sampai ke Indonesia.

Kehadiran Sang Pendeta Saka bergelar Aji Saka tiba di Jawa di Desa Waru Rembang Jawa Tengah tahun 456 Masehi, dimana pengaruh Hindu di Nusantara saat itu telah berumur 4,5 abad.

Dinyatakan Sang Aji Saka disamping telah berhasil mensosialisasikan peringatan pergantian tahun saka ini, juga dan peristiwa yang dialami dua orang punakawan! pengiring atau caraka beliau diriwayatkan lahirnya aksara Jawa onocoroko doto sowolo mogobongo padojoyonyo. Karena Aji Saka diiringi dua orang punakawan yang sama-sama setia, samasama sakti, sama-sama teguh dan sama-sama mati dalam mempertahankan kebenaran demi pengabdiannya kepada Sang Pandita Aji Saka.

(sumber: balipedia.id)

Catur Brata Penyepian
Nah sekarang mari kita bahas mengenai Catur Brata Penyepian saja,
Banyak teman-teman saya yang bukan beragama Hindu bertanya itu ngapain saja sih selama seharian? Masak bengong sambil ngelamun?
Sebagai rasa tanggung jawab karena di KTP ada kolom agama dan disitu ditulis agama saya adalah Hindu, saya coba jelaskan meskipun saya mah apa atuhh, cuman parutan kelapa diatas kue putu. Heuheuheu
Karena namanya catur ya berarti ada empat, kalau banyak namanya “sewidak ewu ewu eket”. Berdasarkan rumusan Parisada Hindu Dharma Indonesia, keempat poin tersebut adalah :
1. Amati geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). Itu berarti melakukan upawasa (puasa).
2. Amati karya (tidak bekerja), menyepikan indria.
3. Amati lelungan (tidak bepergian).
4. Amati lelanguan (tidak mencari hiburan).

Menurut saya keempat poin ini perlu ditambah lagi untuk mengakomodir perkembangan jaman khususnya bagi anak muda gahulll jaman sekarang, salah satu usulan yang diajukan oleh teman saya Windhu, seharusnya dalam perayaan Nyepi juga ada Amati mantan yaitu tidak memikirkan mantan. Usul yang brilian dan out of the box bahkan bisa dibilang out of order, ehh, namun menurut saya kalau cuman Amati Mantan masihlah kurang. Setidaknya ada 5 tambahan poin selain 4 poin yang sudah disebut diatas, jadi totalnya ada 9, “Sanga Brata Penyepian” karena jaman begitu cepat bergulir ibarat kumbang kotoran yang mengumpulkan tokai sapi, menggelinding semakin besar. (Ibarat yang aneh..–“).
Lima poin tambahan itu antara lain :
5. Amati Mantan (tidak memikirkan mantan)
6. Amati Pacar (tidak memikirkan pacar)
7. Amati Gebetan (tidak memikirkan gebetan)
8. Amati Path-pathan (tidak membuka social media)
9. Amati Utang-utangan (tidak memikirkan hutang-piutang)

Penjelasannya kira-kira sebagai berikut :
5. Amati Mantan, yaitu tidak memikirkan mantan. Ini sangatlah penting dilakukan saat perayaan Nyepi. Khususnya bagi orang-orang yang tidak bisa move on semacam Windhu (saya memahami perasaannya, *sambil tepuk-tepuk pantatnya, eh salah, tepuk pundaknya). Akan sangat berbahaya sekali misalnya ketika Nyepi berlangsung, Windhu, tiba-tiba teringat kepada mantannya yang dahulu. Niscaya puasanya akan menjadi batal karena dia meminum air matanya sendiri ketika mengingat mantan. Selain puasa yang menjadi batal, konsentrasi untuk menyepi pun juga ikut buyar. Padahal menyepi juga digunakan sebagai sarana untuk introspeksi diri yang diharapkan nanti di tahun baru bisa move on ke arah yang lebih positif. Jadi Amati Mantan hukumnya Wajiiibbb, kawan-kawan!!!

6. Amati Pacar, yaitu tidak memikirkan pacar. Bagi yang sudah punya pacar juga wajib melakukan Amati Pacar agar konsentrasi mereka melakukan penyepian tidak buyar seketika. Coba bayangkan ketika kita fokus sembahyang atau membaca kitab suci di saat Catur Brata Penyepian lalu tiba-tiba dapat sms yang mesra “sayang-sayangan” apalagi membayangkan ingin berduaan. Wah bisa batal itu. Dan mbok ya sehari saja kalian yang sudah punya pacar setidaknya menghormati para kaum jomblo, karena cuman di saat Nyepi ini saja mereka para jomblo ini bisa bergembira merasakan persamaan hak dan persamaan perasaan agar kalian turut merasakan menjadi jomblo sementara dalam sehari karena tidak bisa bertemu pasangan.

7. Amati Gebetan, yaitu tidak memikirkan gebetan. Ini juga penting agar nilai sakral dari prosesi Nyepi itu sendiri tidak berkurang. Saya memahami usaha para kaum jomblo yang mengejar gebetan salah satunya adalah memanfaatkan hari raya Nyepi sebagai momentum dengan berpura-pura mengucapkan selamat hari raya Nyepi yang kemudian ujung-ujungnya nanya “sudah makan belum?”. “Ya belumlah moncong bemoooo!!! Kan puasaaa!!!”. Modus seperti ini memang sudah lumrah, namun hal ini menjadikan makna perayaan Nyepi berkurang menjadi hanya ajang modus semata. Hwehehehe. Jadi bagi calon korban yang akan dimodusin harap selalu waspada. Tindak ke”modus”an tidak hanya terjadi karena niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!

8. Amati Socmed, yaitu tidak membuka social media. Ini juga termasuk tidak telpon-telponan, sms, update status sampai stalking mantan. Haraaamm hukumnya. Masak ya pas Nyepi misalnya kita ngetwit, “lagi puasa ne3h, abis nich mebakti, puciinggg Pal4 BaRb13!!!” Wah bisa rusak perserikatan star wars. Berdasarkan pengalaman pribadi, setelah Ngembak Geni begitu aku cek socmed, ebusyett!!! banyak yang tak tahan godaan socmed barang sehari saja. Ada yang update status, ada yang upload foto sepi nya jalan, malah ada yang iseng sengaja bbm temannya untuk menguji ke”syariat”annya apakah teman mereka ini benar-benar mematikan handphonenya atau tidak.

9. Amati utang-utangan, yaitu tidak memikirkan hutang-piutang barang sehari saja. Kalau punya hutang, sudahlah jangan kau pikirkan terlalu dalam karena percuma saja, rentenir sudah mencatatnya di dalam pembukuan lengkap dengan bunganya, jadi kau pikirkan sampai Liverpool juara pun hutangmu tidak akan lunas kalau tidak dibayar. Nah sebaliknya, kalau ada temanmu yang memiliki hutang, sudahlah, barang sehari jangan kau ungkit-ungkit dulu. Mungkin saja uangnya masih dipakai buat bayar cicilan iphone, toh ya memiliki iphone adalah sebuah kebutuhan primer yang harus dipenuhi di jaman sekarang selain sandang, pangan dan papan.

Demikian usulan ngawur saya.
Salam dari saya remahan rengginang diatas nasi pecel ini.

 
Leave a comment

Posted by on 21/03/2015 in Religi

 

Teis vs Ateis

Di Twitter hari ini ada debat menarik yang menginspirasi saya menulis di blog. Debat di Twitter tersebut melibatkan 2 account Twitter yaitu @sahal_as vs @tanpaagama.
Debat ini (kalau tidak salah) dimulai dengan tantangan yang diberikan @tanpaagama kepada @sahal_as untuk membuktikan bahwa Tuhan itu memang ada atau tidak. @sahal_as mewakili pandangan Theis sedangkan @tanpaagama mewakili pandangan Ateis yang tidak percaya akan adanya Tuhan.

Berdasarkan pustaka yang saya baca, perdebatan semacam ini sudah ada sejak jaman dahulu kala. Sepengetahuan pustaka yang saya baca, ini semacam pertentangan antara Hegel vs Karl Marx, idealis vs materialis. Siapa itu Hegel dan siapa itu Karl Marx maka jawabannya bisa panjang, dan bisa juga nyambung ke pemahaman Tan Malaka dalam kitabnya Madilog. (Baca buku Hegel : Filsafat Sejarah, Karl Marx : Das Kapital, Tan Malaka : Madilog)

Baiklah untuk kata pengantar harus kita bahas satu persatu pemahaman dari Hegel dan Karl Marx terlebih dahulu sebelum berbicara apakah Tuhan itu ada (eksis) atau tidak. Membahas Tuhan tentunya sudah barang tentu akan berbicara mengenai filsafat. Di dalam filsafat terdapat ribuan pustaka, dan kita mesti pisahkan terlebih dahulu arah pikiran para ahli filsafat. Kalau tidak, niscaya bingunglah kita, tak bisa memisahkan siapa benar, siapa yang salah. Di buku Madilog Tan Malaka mengambil analogi suatu pertandingan sepak bola, maka lebih dahulu kita pisahkan mana yang masuk klub A dan mana yang masuk klub B. Yang masuk kelompok A memakai seragam warna A dan yang masuk kelompok B memakai seragam B. Jika tidak dipisah seperti itu tentunya kita akan bingung.

Hegel adalah kelompok paham Dialektika Idealis. Rekan-rekannya yang lain yang termasuk Dialektika Idealis seperti misalnya Plato, Hume dan Berkeley. Sedangkan beberapa tokoh Dialektika Materialis seperti Heraklit, Demokrit, Epikur dan berpuncak pada Marx-Engels. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektika Materialisme dan surplus value, yakni nilai ber-lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis.

Apa perbedaan idealis dengan materialis ? Maka sedehananya adalah seperti ini : yang mengatakan pikiran terlebih dahulu, itulah pengikut idealisme, itulah yang idealis. Yang mengatakan matter, benda lebih dahulu, barulah datang pikiran, itulah yang mengikuti materialisme, itulah yang materialis.

Apakah matter dan apakah idee itu? Yang matter, yang benda berkaitan erat dalam ilmu bukti dan sains. Jadi yang nyata, yang bisa dilihat, didengar, dikecap, diraba, dan dicium. Yang idee, ialah bentuk pengertian atau pikiran kita tentang benda tadi dalam otak kita! Benda adalah diluar otak kita dan pikiran itu sebagai bayangan dari benda tadi, adalah dalam otak kita.

Lalu apa hubungan dengan perdebatan antara Theis vs Ateis ? Ini karena Ateis menganggap jika Tuhan tidak eksis karena tidak bisa dirasakan khususnya oleh panca indera, Tuhan adalah produk pikiran yang dibuat oleh manusia sendiri. Ateis menganggap Tuhan dibentuk oleh pikiran manusia itu sendiri karena pengetahuannya yang terbatas, sama seperti jaman dahulu menganggap hujan yang turun adalah karena belas kasih Tuhan atau dewa bukan karena suatu gejala alam yang lumrah terjadi. Sedangkan Theis berangkat dari pikiran, seperti misalnya bagaimana alam semesta tercipta jika tidak ada yang mencipta? Pasti ada subjek yang superior yang begitu maha kuasa yang menciptakan alam semesta yang begitu hebat ini. Disinilah letak pangkal perdebatan yang tiada henti.

*Jadi bagi kalian semua yang pernah mempertanyakan atau ragu mengenai kehadiran Tuhan, maka percayalah bahwa rasa galau semacam ini sudah pernah dipertanyakan, dibahas dan diperdebatkan sejak jaman dahulu kala. Jadi jangan khawatir, kalian tidak sendirian, yang perlu kalian lakukan adalah belajar filsafat. Lalu kalian pilih masuk ke kategori filsafat yang mana. Heuheuehue.

Baiklah kembali kepada persoalan Theis dan Atheis tadi. Untuk membahas hal yang tidak bisa lagi dijawab ya atau tidak, benar atau salah, maka tidak bisa lagi dijawab menggunakan logika dan harus menggunakan dialektika. Saya coba mengambil ilmu dari buku Madilog, ada 4 poin untuk menjawab soal perkara yang tidak bisa dijawab oleh logika, yaitu : 1. Tempo, 2. Berkena-kenaan, 3. Pertentangan 4. Gerakan
Poin 1, 2 dan 4 tidak akan saya bahas (kalian baca sendiri buku Madilog) tapi yang akan saya bahas adalah poin 3, yaitu pertentangan.
Contoh kasus yang diambil oleh Tan Malaka, seperti ini : Orang Arab di daerah tempat Tan Malaka menulis Madilog, yakni di daerah Jakarta, mereka Orang Arab ini memperbungakan uang (kita namai saja orang Arab ini Halal bin Fulus), umum di pasar-pasar dipinjamkan si Halal bin Fulus pada si petani Indonesia Rp. 1,- dengan bunga 5 sen sehari. Jika dihitung secara matematika maka bunganya sebesar 1.825% setahun. Petani menjaminkan tanah dan rumahnya atas pinjaman itu. Dia tak bisa melunaskan hutangnya, sebaliknya hutang dan bunganya bertambah-tambah. Membeli bahan makanan pas-pasan, belum lagi membayar pajak pada pemerintah. Bagaimanapun rajinnya si petani ini, dia takkan bisa melunasi hutangnya. Terpaksa ia berhutang lagi kepada tuang Halal bin Fulus. Hutangnya semakin lama semakin bertambah. Dengan kerja semacam itu lama kelamaan tuan Halal bin Fulus menjadi kaya lalu kemudian mempunyai tanah dan rumah karena menyita jaminan si Petani yang tak sanggup membayar. Jikalau si petani marah maka disinilah terjadi percekcokan dan kemudian si tuan Halal bin Fulus mengadu ke pengadilan. Tentunya si petani yang tidak bisa menyewa pengacara pun akan kalah dalam pengadilan dan mewajibkan si petani membayar hutangnya atau tanah dan rumah sebagai jaminan disita dan dimiliki oleh si tuan Halal bin Fulus.
Sekarang kita bertanya : adilkah keputusan hakim pengadilan tadi? Tentunya pertanyaan ini tidak bisa dijawab ya dan tidak saja. Karena pertanyaan ini berkenaan dengan perkara pertentangan yang Berpunya dengan yang tak Berpunya.
Secara undang-undang sudah barang tentu si tuan Halal bin Fulus benar karena hutang memang harus dibayar sesuai dengan perjanjian. Namun kalau saya sendiri setuju dengan pendapat Tan Malaka, yaitu si tuan Halal bin Fulus disuruh memilih salah satu diantara dua pilihan. Pertama, karena tuan Halal bin Fulus bukan bangsa Indonesia, supaya pulang kembali ke tanah suci dengan diizinkan membawa sekedarnya dari harta bendanya, atau kedua : boleh tinggal disini, tetapi mesti mengembalikan semua hartanya pada negara Indonesia. Dalam hal kedua dia lebih dahulu mesti dijadikan “manusia yang berguna bagi masyarakat Indonesia”, yaitu dengan menukar dia dari sebagai lintah darat menjadi pekerja sekurangnya 13 tahun. Sesudah itu baru boleh diterima menjadi penduduk yang sama haknya dengan pekerja yang lainnya.
Pendeknya dalam perkara diantara dua pokok yang bertentangan, kita tidak bisa menjawab dengan ya atau tidak (benar atau salah, adil atau tidak), sebelum kita mengambil pendirian, kita mesti memilih salah satu sudut pandang atau point of view. Apa yang dipandang adil dari satu pihak, berarti tak adil dipandang pihak lain, dan sebaliknya. Sebab itu kita mesti lebih dahulu berpihak pada yang lain, atau sebaliknya. Dari salah satu sudut barulah kita bisa memandang dan memutuskan ya atau tidak (benar atau salah, adil atau tidak)

Kembali ke persoalan Theis dan Atheis, Theis dan Ateis mengklaim pemahamannya lah yang paling benar. Mana yang benar? Maka berkaca dari kasus diatas, kita mesti menggunakan dialektika pertentangan. Jangan menggunakan logika, karena jika menggunakan logika maka niscaya hanya akan menjadi debat kusir tanpa akhir.

Jadi apakah Tuhan ada atau tidak? Terlepas ada atau tidak, saya setuju dengan pendapat Albert Einstein seperti postingan saya sebelumnya di : https://nyoemhokgie.wordpress.com/2014/05/10/quote-albert-einstein/

Dalam buku “Tuhan dalam fisika Einstein” karya Max Jammer. Ada quotes menarik dari Einstein :

Dalam bahasan bab Tuhan menurut Einstein, apakah dia Ateis atau bukan, dia menjawab :

“Saya bukan seorang Ateis, dan tidak terpikir saya dapat menyebut diri saya sebagai seorang Panteis. Posisi kita seperti anak kecil yang memasuki perpustakaan raksasa yang dipenuhi buku-buku aneka bahasa. Anak itu mengetahui seseorang pasti telah menulis buku-buku tersebut. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia tidak tahu bahasa-bahasa yang digunakan untuk menulis semua itu. Anak itu menduga ada sebuah keteraturan misterius dalam penyusunan buku-buku itu, namun tidak mengetahui apakah itu”

“Seperti demikian itu menurut saya, adalah sikap setiap manusia dengan keluhuran intelegensi terhadap Tuhan. Kita melihat jagat raya yang tertata secara mengagumkan dan tunduk pada suatu hukum, tetapi hanya sedikit yang memahami hukum ini. Pikiran kita yang terbatas menangkap kekuatan misterius yang menggerakkan konstelasi (bintang-bintang). Saya terpesona dengan Panteisme Spinoza, tetapi saya lebih mengagumi sumbangannya pada pemikiran modern karena ia adalah filsuf pertama yang menjelaskan (persoalan) jiwa-tubuh dalam suatu kesatuan, dan bukan sebagai dua hal yang terpisah”

Karena harus memilih salah satu sudut pandang dalam dialektika, maka saya memilih sudut pandang seperti dalam postingan saya terdahulu.
https://nyoemhokgie.wordpress.com/2014/08/09/intisari-bhagavad-gita/
Saya memilih Theis lebih tepatnya Pantheis.

Adapun perdebatan antara Theis vs Atheis, ada baiknya dan saya berharap hanya sebatas perdebatan saja. Secara pribadi meskipun saya Pantheis, saya mengagumi kegigihan dan sisi intelektualitas yang dimiliki oleh kaum Atheis, disini saya belajar supaya tidak terjebak dalam Theisme buta yang berpandangan sempit dan terkadang beragama juga membutuhkan logika yang tidak serta menelan ajaran Theis secara bulat-bulat.

Kita tidak bisa menafikkan kontribusi Theis dalam peradaban moral manusia dalam memberikan kontrol jiwa barbar manusia. Tapi kita juga tidak bisa menafikkan kontribusi Atheis dalam pengembangan sains manusia. Keduanya sama-sama memberikan kontribusi, meskipun keduanya dalam catatan sejarah juga tangannya pernah berlumuran darah ketika terjadi penyimpangan.

Menurut saya, sah-sah saja ada Theis ataupun Atheis sejauh itu hanyalah perdebatan filsafat saja tanpa terjadi gesekan yang menjurus merugikan orang lain apalagi saling klaim kebenarannya.

Saya ada beberapa quotes yang menarik untuk bisa dijadikan sebagai kesimpulan dari postingan kali ini :
“Either there is God, or there isn’t. Both possibilities are frightening. If there is God, we better find out who He is and find out what He wants and do what He says. If there is no God, we’re in trouble. We’re hurdling through space around the sun right now at 66,000 miles an hours, and nobody’s in charge of it”. Sumber : 9gag.com

“If we both exchange one dollar, we have one dollar. But if we exchange one good thought, we have two good thoughts”. Swami Vivekananda.

Kalo bahasa penyanyi orkes dangdut, “joget rapopo, pokok ojo jotos-jotosan lo yo!”.

Sehingga kesimpulan saya bukan Theis vs Atheis, tapi Theis dan Atheis saling berbagi pikiran untuk kemakmuran dunia.

Salam damai. Joget lagiii maanggg…tariiikkk!!!

 
Leave a comment

Posted by on 01/03/2015 in Religi

 

Puisi Mahadewa

Dia berkata “Aku adalah kematian!”
“Durga yang mengerikan adalah istriKu”
“Bhuta Kala (waktu) adalah putra yang lahir dari nafsuKu”

“Jika putraKu meminta, maka Aku meminjam kekuatan istriKu untuk mencabut nyawa siapapun jua”

“Aku berpenampilan gelandangan, berambut gimbal”
“Karena aku tidak terikat dengan duniawi”
“Agar Aku bisa mencabut nyawa siapapun jua”

“Mengurap abu jenasah ke seluruh tubuhKu”
“Agar kau ingat kematian sudah melekat dalam kulit sejak engkau dilahirkan”

“Trisulaku berkuasa di tiga dunia”
“Dunia bawah, tengah dan atas”
“Maka jika putraKu meminta, maka ia akan memburumu hingga ketiga dunia”

“Jika kau sudah paham ajaranKu, akan kuajari engkau tarian agar kau bisa menari bersamaKu, istriKu dan putraKu”

 
Leave a comment

Posted by on 10/01/2015 in Puisi, Religi

 

Dalil Ucapan Selamat Hari Natal

Baiklahh..sesi curhat dimulai lagi.
Di negeri sosial media lagi ramai membicarakan soal boleh tidaknya kaum Muslim mengucapkan selamat hari Natal kepada pemeluk Nasrani.
Mengapa begitu ramai dibicarakan seolah ini adalah hari Natal yang baru diresmikan di Indonesia? Apakah karena yang melarangnya adalah beberapa Ustad yang mempunyai banyak pengikut ataukah karena begitu derasnya arus lalu lintas informasi di sosial media sehingga masyarakat Indonesia lebih mudah terprovokasi antara Pro ataupun Kontra?
Untuk itu ijinkan saya menyampaikan pendapat dari sudut pandang lain, meski saya seorang pemeluk Hindu yang sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan wacana boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal.
Ijinkan saya menyampaikan pengalaman pribadi saya, saya punya banyak teman baik dari Muslim maupun Kristen. Saya turut berbahagia ketika teman-teman saya merayakan hari raya, biasanya saya menyampaikan ucapan selamat hari raya kepada mereka baik itu hari raya Idul Fitri maupun Hari Natal. Mengapa saya mengucapkannya? Karena saya tahu betul bagaimana bahagianya ada teman kita yang turut mengucapkan selamat hari raya meskipun berbeda keyakinan. Meskipun saya jarang menerima ucapan selamat hari raya dari teman non Hindu (karena hari raya di Hindu banyak dan yang resmi dijadikan libur nasional hanya Nyepi), namun beberapa teman non Hindu yang mengucapkan selamat hari raya kepada saya adalah yang dulunya pernah saya kirimi ucapan selamat hari raya agama mereka. Ada timbal balik tanpa diminta, ada keikhlasan mengucapkan dari mereka.
Dari ucapan-ucapan sederhana itu muncul rasa turut berbahagia, saling menghargai, saling bertegur sapa dan menghindari rasa kebencian-kebencian akibat perbedaan agama. Seolah meski kita berbeda agama namun kita disatukan oleh rasa kasih sayang universal ataupun rasa kemanusiaan.
Jika alasan dari tidak mengucapkan selamat hari raya Natal adalah mengucapkannya berarti ikut meyakini kebenaran agama lain, maka percayalah saya sering mengucapkan selamat hari raya kepada teman-teman non Hindu tapi tak pernah terbersit sedikitpun saya pindah agama hanya karena mengucapkannya.
Jika dianalogikan mengucapkan selamat Natal seperti mengucapkan kalimat Syahadat, maka percayalah jika saya dipaksa mengucapkan kalimat tersebut pun tidak serta merta membuat saya berpindah agama atau berubah agama.
Yang lebih saya khawatirkan di masa depan dengan adanya larangan mengucapkan selamat hari raya semacam ini akan merusak kedamaian berbangsa dan bernegara. Kok bisa? Bisa. Karena saya percaya akan ada efek berantai, coba saja dipraktekan Muslim melarang umatnya mengucapkan Selamat Natal, maka lambat laun umat Kristen pun akan membalas dengan tidak mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri. Begitupun dengan agama-agama lain, maka tak ada ucapan selamat ataupun saling bertegur sapa diantara umat beragama di Indonesia. Agama dengan kotaknya masing, merayakannya dengan umatnya sendiri-sendiri. Seperti inikah Indonesia yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini?
Pengalaman saya yang lain adalah, rumah saya dekat dengan sebuah masjid yang cukup besar sehingga jika ada khotbah di hari Jum’at maka pasti akan terdengar hingga di dalam rumah. Pernah suatu ketika di hari Jum’at sang pengkhotbah berbicara, “Jika ada Non Muslim mengucapkan, “Assalamualikum” maka jangan dijawab, “Wallaikumsalam” tapi jawablah “Ilaika” (entah benar penulisannya seperti itu atau tidak) yang artinya adalah “celakalah kamu!”. Sejak mendengar isi khotbah seperti itu saya tidak pernah menyapa teman saya yang Muslim dengan ucapan “Assalamualaikum” ataupun menjawab salam Muslim dengan “Wallaikumsalam” yang belum tahu kalau saya non Muslim. Ketimbang saya di doakan celaka mending saya mengucapkan selamat pagi, siang, sore atau malam biar aman. Sering teman-teman kantor saya yang Muslim menggoda saya dengan mengucapkan, “Assalamualaikum” karena mereka tahu saya tidak akan membalas ucapan mereka. Tapi percayalah saya ingin membalas ucapan tersebut untuk menghargai kalian, tapi khotbah-khotbah itu tertanam di otak dan membuat saya semakin menjaga jarak dan berhati-hati. Inikah yang diinginkan oleh Tuhan?

Jika beragama justru menanamkan benih kebencian maka tidak akan membuat manusia menjadi lebih baik, karena “benci” bukanlah sifat kebaikan untuk mendekati Sang Pencipta. Benci terhadap “setan” pun tetaplah sebuah kebencian.

Saya lebih khawatir lama-lama manusia Indonesia tak saling bertegur sapa hanya karena berbeda agama.

Semua yang berlindung dibalik ketiak Garuda Pancasila adalah bersaudara!

Semua agama TIDAK sama, namun kita memuja Tuhan yang SAMA dengan cara yang TIDAK sama.

*sambil mendengarkan lagu dari John Lennon – Imagine

Ada link referensi nih, buat membuka wawasan dari sudut pandang lain :
http://mojok.co/2014/12/curhat-untuk-ustadz-yusuf-mansur-betulkah-kita-sedang-membela-islam/

 
7 Comments

Posted by on 22/12/2014 in Religi, Terapi