RSS

Category Archives: Motivasi & Inspirasi

Bukan Tulisan Orisinil Saya Sendiri

10 Things You Need to Know Before Dating the Outgoing Introvert

Ah the outgoing introvert – the most complex and satisfying of all puzzles.

We have mad layers of depth and feelings…like an onion. Or something. I don’t know. Just read and get to know what you’re getting yourself into before dating us, okay?

1. When we see you after a long day, we might be all irritable and not want to talk

It has nothing to do with you. Outgoing introverts, though still introverts at their core, often need to recharge after a large use of social energy. After a long day of dealing with people, our social batteries are drained and we need to unwind and recover, usually alone.

2. We’re charming creatures and can be the life of the party, but…

You’ll be surprised how much we actually live in our heads. People often confuse us for extroverts, but we’re too introspective and over-think too much to be one.

3. If we like you, we really like you.

We don’t waste our time with people we’re not completely crazy about. If we agreed to go on a date with you, we like you. Take it as a huge compliment.

4. We have times when we’re weird with our phones.

Some days we can talk for hours, but sometimes we’re not so good at replying and talking on the phone. Don’t take it personally –  we screen our phone calls, even from our closest friends. Outgoing introverts sometimes hate the phone because it’s all, like, intrusive and tears our minds away from whatever we’re deeply focusing on (and we are always deeply focusing on something). Our mind doesn’t change direction easily. Listening to one thing and seeing something else is a lot of sensory input piled on top of everything that’s already going on in our heads.

5. But don’t worry, in person we’ll listen to you for hours.

We have spectrums of introversion, so we’re good listeners. We’ll always be naturally in tune with how you’re feeling, so we’ll be able to see through any front you put up and make you jump into the deep end.

6. We need to dip our foot in the pool first.

We need time to warm up, so, like, chill. We tend not to outwardly express our feelings and spill our whole life story in the first hour of meeting you. Or the first year.

7. Our energy level depends on our environment.

Yes, we can get annoyed easily. If we vibe with the crowd, we can get our energy from human interactions. But if we don’t, we’ll start to get really introspective and reflective, and tend to withdraw into ourselves. It’s kinda like a hit or miss. We’re very selectively social. But it’s not because we dislike people – it’s actually the opposite. We dislike the barriers like small talk (which often comes with going out) creates between people, and try to avoid it at all costs.

8. We kinda hate the typical first date.

Maybe it’s ’cause we hate small talk or something. Over-thinking is like a part of us so at times we enjoy a break from our heads. Be willing to go somewhere authentic where we won’t have to awkwardly sit across from each other asking the typical “get to know you” questions.

9. You’ll think we are flirty with everyone.

Okay here’s the thing, when we inevitably have to interact with people, we make it seem like there’s nothing in the world we’d rather be doing. It’s ’cause we’re, like, overly sensitive and so we go out of our way to make other people feel comfortable and happy. We’re intuitive and outgoing at the same time.

10. We can see through bullshit.

So don’t try to deceive us. We’re kinda like a human lie detector. We will always find out the truth (muhahaha)… just kidding. But for real, we often have a keen eye for detail, noticing things that may escape others around us.

Research has found that introverts pay more attention to detail and exhibit increased brain activity when processing visual information. A study shows that the brain of an introvert weighs internal cues more strongly than external motivational and reward cues. Since outgoing introverts are a unique blend of both an extrovert and introvert, we rely on our own internal instincts and logic to make decisions and form beliefs.

So basically, you’re screwed. In a good way.

Credits: Anna Bashedly / Puckermob

Source : http://idealist4ever.com/know-before-dating-outgoing-introvert/

Another writing : http://idealist4ever.com/10-ways-introverts-interact-differently-with-the-world/

 
Leave a comment

Posted by on 04/03/2016 in Motivasi & Inspirasi

 

Cerpen Joko Pinurbo – Sebotol Hujan Untuk Sapardi

Saya jatuh cinta pada puisi gara-gara pada suatu malam, sebelum tidur, membaca seuntai kata dalam sebuah sajak Sapardi Djoko Damono: “masih terdengar sampai di sini dukaMu abadi”. Waktu itu saya masih duduk di kelas 2 SMA dan belum punya cita-cita.

Kata-kata itu terus menggema dalam kepala saya dan membuat saya semakin suka bersendiri bersama puisi. Sempat terbetik keinginan untuk ikut-ikutan menjadi penyair, tapi menurut sahabat dekat saya, kepala saya kurang abnormal untuk mendukung keinginan saya. “Lebih baik jadi teman penyair saja,” ujarnya dan saya mengiyakannya.

Saya gemar mengoleksi buku puisi. Bila ada buku puisi yang hilang, saya akan mencarinya lagi di toko buku sampai ketemu. Pernah seorang teman meminjam buku puisi yang baru saya beli dan belum sempat saya buka. Diam-diam buku puisi itu ia berikan kepada pacarnya sebagai hadiah ulang tahun. Kepada banyak orang, teman saya itu sering mengungkapkan rasa bangganya karena berkat hadiah buku puisi darinyalah pacarnya tumbuh menjadi seorang pengusaha kata yang sukses dan kaya.

Saya sendiri, sekian tahun setelah malam yang diguncang puisi itu, sudah menjadi seorang karyawan yang mapan di sebuah perusahaan di Jakarta dan saya tetap belum mengerti apa sebenarnya cita-cita saya. Kecintaan saya terhadap puisi masih terpelihara dengan baik. Di tengah kesibukan saya yang tiada habisnya, saya masih bisa mencuri waktu untuk menghadiri berbagai acara pembacaan puisi, minta tanda tangan dan berfoto bersama penyair-penyair kesayangan saya. Kadang saya membantu penyair-penyair dari daerah mencari tempat untuk sekadar numpang tidur dan mandi.

Ada satu impian lama yang ingin segera saya wujudkan: berfoto bersama Sapardi dan minta tanda tangannya. Sebenarnya saya pernah punya kesempatan bagus untuk berkenalan dengannya. Dalam sebuah acara pesta puisi Sapardi lewat persis di depan saya. Ia mengenakan kaos oblong putih bertuliskan “Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma”. Keren sekali. Sayang, dalam sekejap ia sudah diserbu oleh para penggemarnya dan saya tidak kebagian waktu. Selain itu, saya masih ragu untuk mendekat dan berhadapan dengannya. Saya takut ditanya, “Anda siapa ya?” Dan saya bukan siapa-siapa.

Malam itu, sepulang dari lembur di kantor, saya sempatkan berbicara dengan diri saya sendiri. Dalam naungan hangat kopi, saya membaca tulisan Seno Gumira Ajidarma: “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

Asu! Kepala saya langsung menggigil. Saya memerlukan miras (minuman waras) atau obat penenang untuk menghadapi bayangan kengerian menjadi tua di Jakarta. Saat itu juga saya mengontak teman saya, Subagus, yang kenal baik dengan Sapardi. Saya minta tolong Subagus untuk mencarikan kesempatan bertemu dengan Sapardi dan Subagus menyanggupi.

Pada hari yang telah disepakati oleh Subagus dan Sapardi, hujan mengantar saya ke rumah penyair kurus itu. Saya lihat Sapardi sedang duduk khidmat di beranda mendengarkan suara hujan. Ia khusyuk sekali memperhatikan hujan menerpa daun bugenvil dan daun bugenvil bergerak-gerak memukul-mukul jendela. Ia tidak menyadari kedatangan saya dan saya tidak ingin mengusik kesendirian dan kesunyiannya. Saya membayangkan ia sedang tersihir oleh hubungan gaib antara tanah dan hujan. Tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun, saya balik badan dan pulang.
Dalam perjalanan pulang saya menemukan sebuah amplop berisi sepotong senja tergeletak di dekat tiang listrik. Pastilah itu sepotong senja yang dikirim Seno untuk seseorang yang sangat merindukannya. Burung yang diminta untuk mengantarkannya ke tujuan agaknya kemalaman, kemudian menjatuhkannya begitu saja di tengah kemacetan jalan. Saya ambil amplop itu, saya selipkan di saku baju. Sesampai saya di rumah, saku baju saya belepotan oleh cairan berwarna kuning kemerah-merahan. Senja yang luntur. Senja orang-orang Jakarta. “Itu bukan senjaku,” kata Seno yang saat itu ternyata sedang tidak berada di dunia nyata.

Saya ceritakan kepada Subagus perihal kedatangan saya ke rumah Sapardi seraya minta tolong lagi dicarikan kesempatan kedua untuk berjumpa dengannya dan Subagus menyanggupi. Tidak lupa saya berpesan, “Cari tahu jam yang paling tepat untuk bertemu beliau ya, Su.” Memperhatikan gaya bicara Subagus yang terkesan kurang serius, diam-diam saya mencium ada sesuatu yang tidak beres. Namun saya tidak mau berprasangka.
Gelap baru saja datang ketika saya tiba di tempat kediaman Sapardi. Rumahnya kelihatan sepi dan gelap. Saya ketuk-ketuk pintunya dengan sopan. Setelah diketuk-ketuk tiga kali, pintu terbuka. Dari balik pintu muncullah Tuan Sapardi. Tanpa ba-bi-bu ia melepaskan kata-kata: “Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang keluar.” Pintu segera ditutup. Saya terperangah dan terpana, lalu balik badan dan pulang.

Dua kali gagal tidak membuat saya menyerah dan kehilangan akal. Tanpa sepengetahuan Subagus, saya mempersiapkan kesempatan ketiga. Untuk usaha ketiga ini, saya akan datang menjumpai Sapardi tanpa janji dan pemberitahuan terlebih dulu. Saya akan memilih sebuah hari yang istimewa. Saya akan menjumpainya dengan cara yang jitu, yang akan membuatnya tidak bisa menghindari saya.

Saya siapkan semua buku kumpulan puisi Sapardi yang saya punya untuk saya mintakan tanda tangan penyairnya. Saya siapkan pula sebuah bingkisan sederhana sebagai tanda terima kasih saya karena sajak-sajaknya telah berhasil menjebloskan saya ke dunia kata-kata yang mengacak-acak ruang dan waktu. Saya merasa sudah siap mental untuk menemuinya lagi. Saya tidak tahu apakah dia juga siap mental.

Dan saat itu pun tiba. Saya datang ke rumahnya malam hari. Saya ketuk-ketuk pintu rumahnya dengan lembut. Setelah saya ketuk-ketuk tiga kali, pintu terbuka. Dari balik pintu muncullah Tuan Sapardi. Saya langsung menembaknya: “Tuan Tuhan, bukan? Tunggu di luar, saya sedang berdoa sebentar.”

Ia tertawa tergelak-gelak dengan nada suara yang tak terlukiskan indahnya. Ia mempersilakan saya masuk, lalu membimbing saya menuju halaman belakang di mana terdapat sebuah kolam kecil yang jernih airnya. Kami duduk di tepi kolam. Kami bercermin pada kolam. Melalui air kolam saya dapat melihat dengan jelas sosok penyair hujan itu: di dalam tubuhnya yang tampak ringkih terdapat daya yang lebih.

Sapardi mengenakan sarung dan kaos oblong putih bertuliskan “Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi”. Keren sekali. Rupanya dia habis nonton film “Filosofi Kopi”. Dan ia menghidangkan kopi seraya berkata, “Seno dan Subagus juga barusan ngopi-ngopi sini.” Kopi saya terima dengan takzim. Saya dan kopi tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang lebih haus. Kopi dan saya tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang lebih pahit.

Saya buka tas gendong saya, saya keluarkan sejumlah buku puisi Sapardi untuk ditandatangani oleh penyairnya. Setelah itu kami berfoto berdua. Sah. Sempurna.

Hari itu Sapardi genap berusia 75 tahun. Saya ambil sebuah bingkisan dari dalam tas. Saya ulurkan padanya sebuah botol besar berisi hujan bercampur senja. Ia mengucapkan terima kasih. Ia tempelkan botol itu di telinganya. Ia berbinar-binar mendengarkan suara hujan di dalam botol. Hujan yang hangat dan jingga oleh senja.

Ia bangkit berdiri. Dikocok-kocoknya botol hujan itu berulang kali. Tutup botol tiba-tiba terlepas dan menyemburlah air berwarna jingga. Menyembur tinggi ke udara. Saya masih mendongak takjub ketika semburan air berwarna jingga sudah lenyap tak berbekas. Sapardi menepuk punggung saya. “Lihat!” katanya sambil jari tangannya menunjuk ke arah kolam.

Saya lihat di atas kolam sudah ada sekuntum bunga berwarna jingga. Saya tidak tahu bunga apa namanya. Cahaya bulan memenuhi kolam, membuat bunga jingga itu tampak kian menyala. Kami terdiam beberapa lama. Hening malam membekukan bahasa. Dengan suara pelan dan dalam Sapardi berkata, “Yang fana adalah waktu. Kita abadi.”

 
5 Comments

Posted by on 21/02/2016 in Motivasi & Inspirasi

 

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari

(1991)

Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Darmono

 
3 Comments

Posted by on 17/11/2015 in Motivasi & Inspirasi

 

Pemeluk Agama

Dalam doaku yang khusyuk
Tuhan bertanya kepadaku,
hambaNya yang serius ini,
“Halo, kamu seorang pemeluk agama?”
“Sungguh, saya pemeluk teguh, Tuhan.”
“Lho, Teguh si tukang bakso itu hidupnya lebih oke dari kamu, gak perlu kamu peluk-peluk. Benar kamu pemeluk agama?”
“Sungguh, saya pemeluk agama, Tuhan.”
“Tapi Aku lihat kamu gak pernah memeluk. Kamu malah menyegel, membakar, merusak, menjual agama. Teguh si tukang bakso itu malah sudah pandai memeluk. Benar kamu seorang pemeluk”?
“Sungguh, saya belum memeluk, Tuhan.”
Tuhan memelukku dan berkata, “Doamu tak akan cukup. Pergilah dan wartakanlah pelukanKu. Agama sedang kedinginan dan kesepian. Dia merindukan pelukanmu.”

(Jokpin, 2015)

 
2 Comments

Posted by on 22/09/2015 in Motivasi & Inspirasi

 

Renungan Jangka Jayabaya: Yang Waras Merana, Yang Bengkok Bangun Istana, Kejahatan Merajalela

“Sing edan bisa dandan; Sing bengkong bisa nggalang gedhong; Wong waras lan adil uripe nggrantes Ian kepencil; Durjana saya ngambra-ambra; Penjahat saya tambah.”

“Yang gila bisa bersolek; Si bengkok membangun mahligai; Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih; Kejahatan makin merajalela; Penjahat makin banyak”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Jangka Jayabaya, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Manusia tidak menjadi jahat karena hidup dalam zaman yang jahat. Zaman tidak pernah menjadi jahat. Zaman juga tidak bisa disebut baik. Zaman adalah zaman. Ia tidak mengenal baik-buruk, jahat-baik… ia menerima semuanya dengan rasa yang sama. Ia netral.

“Kejahatan di dalam diri manusia yang membuat zaman menjadi jahat. Kebaikan di dalam dirinya membuat zaman menjadi baik. Kita bisa menciptakan zaman sesuai dengan tabiat kita sendiri. Mau hidup di zaman yang baik, atau jahat, terserah kita.

“Anda bisa menciptakan surga dan neraka di sini, di dalam dunia ini, di atas muka bumi ini. Anda bisa memilih hidup dalam surga cinta buatan Anda, atau menclerita dalam neraka kebencian buatan Anda pula.

“Saat ini, bila ‘kejahatan makin merajalela, penjahat makin banyak, yang gila bersolek, sl bengkok membangun mahligai, dan, yang waras dan adil hidup merana dan tersisih’ maka kesalahannya terletak pada diri kita jua. Kenapa kita membiarkan semua itu terjadi? Kenapa kita sendiri masih menyimpan kejahatan di dalam diri? Karena, jangan lupa, kejahatan di luar hanyalah proyeksi dari kejahatan di dalam diri kita sendiri.

“Melihat kejahatan dan membiarkannya menjadi-jadi, merajaleIa—itu pun kejahatan. Sikap ‘it’s not my business’, ah bukan urusan saya, jelas bukan sikap terpuji di sini. Kita harus menganggap urusan dunia ini sebagai urusan kita. Kita merupakan bagian dari dunia ini. Kita berada di dalam dunia ini, dan dunia berada di dalam diri kita. Bagaimana memisahkan diri dari dunia?

“Mereka yang mencari Kebenaran dengan memisahkan diri dari dunia barangkali belum memahami arti Kebenaran. Kebenaran itu Maha Ada; Kebenaran itu Maha Hadir; Kebenaran itu Maha Meliputi… dan dunia ini pula berada dalam Iiputan-Nya, tarmasuk cacing-cacing di bawah tanah dan bintang terjauh di langit sana. Mau memisahkan diri dari dunia dengan cara apa? Mau berpisah dari semesta dengan cara apa?

“Kita semua berurusan dengan dunia ini, dengan alam semesta… dengan bebatuan dan pepohonan, dengan hewan-hewan berkaki empat, berkaki dua, bahkan bersel tunggal di darat dan di dalam air, serta dengan burung-burung yang terbang di angkasa. Siapa pun dijahati, sesungguhnya aku juga dijahati. Dan, membiarkan aku dijahati, merupakan kejahatan pula.

“Wong bener saya thenger-thenger; Wong salah saya bungah-bungah.”

“Si benar makin pusing tujuh keliling; Si salah makin bersuka ria.”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Jangka Jayabaya, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Ironi kehidupan sedang menggila, dan pembusukan budaya meraja lela, di mana orang benar semakin terpojok, serba kesulitan, sementara orang jahat justru bersuka ria.

“Banyak orang menjadi bingung dan bisa terjerumus ke kesimpulan salah bahwa lebih baik menjadi jahat daripada tetap menjunjung kebenaran karena tak ada untungnya sama sekali bertahan dengan Kebenaran.

“Wong ala diuja; Wong pinter diingar-ingar”

“Si jahat dimanjakan; Si pandai direcoki.”

“Tak ada suara kebenaran yang mengingatkan kejahatan. Dengan begitu kejahatan semakin meraja lela dan pelakunya seakan sedang dimanjakan oleh situasi. Kalau ada, orang yang berani menyuarakan justru akan direcoki.

“Ada yang masih mau menyuarakan kebenaran dengan menulis buku tentang kejahatan para penyebar teror, misalnya. Sang penulis berusaha untuk membeberkan betapa berbahayanya kehadiran mereka di tengah kita. Para pendukung penyebar teror mendatangi toko-toko buku yang menjual buku itu. Pemilik toko buku pun ternyata pengecut. Baru didatangi saja sudah ngompol. Buku yang dimaksud langsung ditarik dari peredaran.

“Wong ngerti mangan ati; Sing suwarane seru oleh pengaruh.”

“Orang yang mengerti makan hati; Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.”

“Kejahatan bisa menang, setidaknya untuk sementara, karena mereka yang sadar tidak bersuara, mereka membisu. Kejahatan pun bersuara makin keras. Mereka makin menjadi-jadi. Kesalahan siapa? Kesalahan kita yang merasa sadar, tapi tidak mau bersuara karena takut!”

Dikutip dari buku Anand. (2005). Jangka Jayabaya, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) Link: http://www.booksindonesia.com

Link: Link: http://www.oneearthcollege.com/

 
Leave a comment

Posted by on 07/09/2015 in Motivasi & Inspirasi

 

Sosok Introvert Dan Dunia Di Dalam Pikirannya

02 Februari 2012

Ada sosok penyendiri di antara orang-orang yang sedang bergumul. Ada sosok pendiam di antara sekelompok orang yang sedang berinteraksi. Ada sosok yang terlihat serius di tengah keadaan yang tenang. Ada juga sosok yang terlihat acuh di tengah suasana yang tegang. Sosok ini berbeda,tak seperti kebanyakan orang. Namun ia bukanlah pemalu ataupun seorang yang berpenyakit ,  tetapi ia justru sedang memerhatikan. Ia senang menganalisa keadaan. Ia seorang Introvert.

Introvert adalah sebuah sifat dan karakter yang cenderung menyendiri. Mereka adalah pribadi yang tertutup dan mengesampingkan kehidupan sosial yang terlalu acak. Antonim dari sifat Introvert adalah Ekstrovert. Sifat Ekstrovert lebih membutuhkan sosial, cahaya, kebisingan, ruang lingkup yang luas dan sebagainya. Sedangkan Introvert lebih membutuhkan sebuah teh hangat dan berkumpul bersama beberapa teman dekat saja daripada pergi ke tempat yang penuh dengan orang asing. Introvert membenci basa-basi, oleh sebab itu mereka senang dengan perbincangan yang padat dan bersifat informatif.

Dari pernyataan di atas kita dapat mengambil kesimpulan kecil, bahwa Introvert adalah pribadi yang “dalam”. Istilah Introvert ini dipopulerkan oleh seorang tokoh Ilmu Psikologi yang bernama Carl Jung. Ia mengelompokan Introvert sebagai kaum minoritas. Walau kaum minor tetapi peranan mereka dalam kehidupan sosial sangat menonjol. Mungkin karena gestur dan sikap mereka yang sangat kontras berbeda dengan kelompok dominan yaitu Ekstrovert. Namun, seorang Introvert tak sepenuhnya senang menyendiri, hanya saja mereka lebih memilih untuk memiliki segelintir teman dekat namun padat seperti buku. Maksudnya adalah, teman yang memiliki cerminan pengetahuan dan pengalaman yang ada di hidup ini. Seorang Introvert pun tidak pernah menceritakan tentang hal yang bersifat pribadi kepada sembarang orang. Oleh karena itu, jika ada seorang Introvert yang dengan sukarela mengeluhkan masalahnya kepadamu, maka kau adalah orang yang sangat beruntung. Karena mereka telah mengategorikan dirimu sebagai seorang teman yang hebat.

Jadi, apa kelebihan yang dimiliki oleh seorang Introvert?

Seorang Introvert lebih fokus kepada hal yang bersifat psikis daripada fisik. Mereka senang menjelajahi ruang pikirnya, mereka membaca buku, menonton tayangan yang dapat mengasah otak, karena mereka haus dengan segala hal yang berbau informasi. Majalah American Journal of Psychiatry menyatakan bahwa, ada lebih banyak darah yang mengalir di daerah Anterior pada otak bagian depan seorang Introvert. Bagian ini berfungsi sebagai pengolah inti, seperti merencakan sesuatu dan pemecahan masalah. Itulah sebabnya mengapa mereka memiliki kekuatan konsentrasi yang baik, mereka cepat menangkap dan berintelegensi tinggi. Introvert adalah pemikir yang dalam. Mereka mampu melihat suatu hal dari segi manapun, berbeda dengan seorang Ekstrovert yang cenderung berpikir secara momentum saja. Selain itu mereka pandai dalam memilah sesuatu, baik itu hal kecil maupun besar, hal yang berguna maupun tidak.

Jika memang pemikiran Introvert sebaik itu, bagaimana dalam hal berbicara? Apakah mereka dapat  menyampaikan pesan secara detil seperti yang ada di pikirannya?

Dalam sebuah survey di kolom web LiveScience.com, reporter Rachael Rettner menulis bahwa, apabila ada dua orang Ekstrovert dan Introvert yang dihadapkan dengan sebuah pertanyaan, maka Ekstrovert akan menjawab secara Hiperbola, sedangkan Introvert menjawab dengan Akurat. Apabila mereka melihat seekor ulat di atas makanannya, maka seorang Ekstrovert akan bereaksi melebih-lebihkan daripada seorang Introvert. Apabila dua orang Ekstrovert dan Introvert dihidangkan sebuah makan siang dalam waktu yang bersamaan, maka seorang Ekstrovert akan berkata, “Makanan ini enak sekali! Belum pernah saya merasakan yang seenak ini” lalu seorang Introvert akan menjawab, “Iya, enak.” Dari segi pemahaman dan informasi pendapat mereka berdua jelas berbeda. Itulah sebabnya mengapa kepribadian Ekstrovert dianggap sebagai perusak survey atau membuat sebuah survey menjadi tidak akurat. Karena Ekstrovert memberikan informasi secara berlebihan, sehingga pencatat survey lebih mempercayakan seorang Introvert dalam hal pendataan, ucap Donna McMillan seorang peneliti sekaligus ahli psikologi di St. Olaf College.

Bahkan di dalam dunia kerja, seorang Introvert dapat bersikap tenang menghadapi segala tekanan dan permasalahan. Mungkin karena kebiasaan mereka yang menyendiri sehingga emosi mereka terlatih untuk tetap stabil. Selalu berpikir sebelum berbicara adalah suatu naluri lahiriah bagi mereka. Introvert akan berhati-hati saat menjelaskan pendapatnya, karena mereka tak suka dengan pertikaian yang tak ada hasil. Oleh sebab itu mereka cenderung menjadi pendengar yang baik. Namun, di balik itu semua, seorang Introvert yang sedang mendengar sangat pandai dalam menggabungkan fakta-fakta dan prinsip serta pemikiran orang lain, kemudian dijadikannya sebuah klausa sebab-akibat yang baik, lalu dikemas rapih dan terbentuklah sebuah tesis, sebuah jawaban yang dapat menjadi pemecah masalah bagi sebuah perdebatan yang terjadi. Bagi Introvert diam bukan berarti tak mengerti atau tak peduli, tetapi mereka menganalisa. Kedetilan mereka akan segala hal membuat Introvert menjadi pekerja yang baik.

Di dunia seni, Introvert adalah penguasa. Ahli psikologi sekelas Mihaly Csikszentmihalyi dan Gregory Feist mengatakan bahwa, orang-orang Introvert adalah orang dengan kreatifitas berkelas nomor satu. Faktor ini terjadi karena mereka dapat menyelam penuh ke dalam pemikirannya. Membaur bersama intuisi dan ketenangan yang bersinergi dengan sunyi. Itulah syaratnya agar dapat menciptakan sebuah Adikarya. Biasanya seorang Introvert gemar menulis. Karena dalam menulis mereka dapat lebih terbuka dalam mempresentasikan pikiran ataupun membagikan pengalamannya kepada orang lain.

Ada sebuah fakta menarik dalam sebuah artikel di psychologytoday.com, yang menuliskan bahwa, orang yang Ekstrovert lebih mencari kebahagiaan dan kehidupan yang positif. Tetapi, bukan berarti Introvert mempunyai sifat yang berkebalikan, seorang Introvert tidak pernah mengategorikan dirinya sebagai sesuatu yang positif ataupun negatif, ia lebih cenderung menuju netral dalam kehidupannya. Seimbang, seperti Yin dan Yang. Mereka sosok yang bersahaja. Sebagai contoh, Mahatma Gandhi , dia adalah Introvert, Ghandi bersikeras memperjuangkan perdamaian demi  kebersamaan. Ia menetralkan semua bentuk perbedaan.

Selain Mahatma Ghandi, ada pula tokoh dunia yang lainnya, yaitu Albert Einstein, Bill Gates, Michael Jordan, Julia Roberts, Nicole Kidman, dan J.K Rowling. Mereka mampu membuktikan bahwa, dunia pun membutuhkan mereka. Jika kau senang dengan kartun dan tokoh pahlawannya, maka hampir dari semua pahlawan itu bersifat Introvert. Saat tak dibutuhkan mereka menjadi orang biasa, namun saat keadaan genting mereka berubah menjadi sosok yang luar biasa.

Dan ini adalah sepenggal kutipan dari Nicole Kidman, ia pernah berkata, “…… Sementara introvert adalah kelompok minoritas dalam masyarakat, mereka membentuk sebuah mayoritas bagi orang-orang yang berbakat.”

Introvert memang pendiam namun memiliki sosok yang luar biasa di dalam tubuhnya. [satria gumilang]

Sumber: Wikipedia, Livescience, Psychologytoday, American Journal of Psychiatry

 
Leave a comment

Posted by on 06/09/2015 in Motivasi & Inspirasi

 

Ahok, monyet dan reklamasi Teluk Jakarta

Sumber : https://rusdimathari.wordpress.com/2015/03/10/ahok-monyet-dan-reklamasi-teluk-jakarta/

Posted on Maret 10, 2015 by Rusdi Mathari

Proyek Giant Sea Wall senilai Rp 500 triliun sedang berlangsung di Teluk Jakarta. Satu perusahaan bahkan sudah memasarkan hunian di pulau buatan yang akan dibuat. Inikah contoh kesekian tentang bagaimana uang, ambisi, dan kekuasaan kembali bersekutu seperti halnya proyek Pantai Indah Kapuk dan Ciputra di zaman Orde Baru?

oleh Rusdi Mathari
Monyet-monyet tak akan berkurang. Saya akan lebih banyak menanam bakau, ketapang … Jika kelak kerusakan lingkungan terbukti, saya siap dihadapkan ke meja hijau. Saya mempertaruhkan segalanya: nama baik, moral, bank guarantee.

Kata-kata itu diucapkan oleh Ciputra menjawab pertanyaan wartawan majalah Tempo tentang dampak buruk proyek reklamasi Pantai Indah Kapuk atau PIK. Itulah proyek bisnis hunian elite di bibir pesisir Jakarta yang meluncur dengan garansi tak akan merusak lingkungan, dan Ciputra adalah penggagas dan pemilik proyek.

Semula, Ciputra menjanjikan lahan pengganti dan pembangunan hutan lindung, tapi hingga Tempo menurunkan tulisan di rubrik “Investigasi” 1 April 2002  atau 20 tahun sesudah hutan dan pantai Kapuk direklamasi, Ciputra tidak memenuhi janjinya. Proyek PIK yang direncanakan ramah lingkungan malah diduga menjadi penyebab banjir dan biang keladi kerusakan lingkungan. Tempo menulis “PIK adalah contoh bagaimana uang, ambisi, dan kekuasaan bersekutu di zaman Orde Baru.”

Kini 35 tahun sudah janji-janji Ciputra menguap, tapi proyek reklamasi yang jauh lebih besar dari PIK sedang dikerjakan di sepanjang pesisir Jakarta dan sekitarnya: proyek Giant Sea Wall. Tanggul raksasa yang diperkenalkan sejak zaman Fauzi Bowo alias Foke menjabat gubernur. Idenya berasal dari seorang konsultan Belanda, dan sudah masuk ke Rencana Tata Ruang Wilayah DKI [2010-2030].

Proyek ini semula disebut Sea Dike Plan dan di era Jokowi jadi gubernur menjadi Giant Sea Wall, tembok laut besar sepanjang kurang-lebih 30 kilometer. Membentang dari pesisir Bekasi di timur Jakarta hingga pesisir Tangerang di sebelah barat, Giant Sea Wall konon akan menjadi tanggul terbesar di dunia dan menjadi penampungan air dari 13 sungai yang nanti bisa diubah menjadi sumber air bersih. Tujuannya: menangkal pasang air laut dan mengatasi banjir Jakarta hingga 1.000 tahun ke depan.

Saat jadi gubernur, Jokowi menyebut proyek Giant Sea Wall banyak diminati swasta karena dianggap menarik secara bisnis dan dia benar, sebab proyek ini kemudian dikembangkan menjadi proyek terpadu untuk membuat 17 pulau buatan, yang di atasnya akan dibangun perumahan, hotel, pusat bisnis, belanja dan lain-lain. Sampai akhir tahun lalu, setidaknya ada 12 perusahaan yang tercatat akan terlibat di proyek ini.

Keduabelas perusahaan adalah PT Muara Wisesa Samudera [PT Agung Podomoro Group], Salim Group Co., PT Agung Sedayu Group, PT Pembangunan Jaya Ancol, PT Intiland Development, PT Kapuk Naga Indah, PT Taman Harapan Indah, PT Jakarta Propertindo, PT Pelindo, PT Jaladri Eka Paksi, PT Manggala Krida Yudha, dan satu perusahaan dari negara Cina, Fuhai Group.

Sebagian besar dari perusahaan yang terlibat adalah raksasa proyek properti. Agung Podomoro misalnya, dikenal karena sejumlah proyek perumahan elit dan pusat belanja mentereng di Jakarta, Bandung, Bali, Kalimantan, Medan dan Nias. Berasal ari konsorsium tujuh pengembang, Agung Podomoro didirikan oleh Salimin Prawiro Sumarto dan Anton Haliman.

Kelompok usaha yang kini dikendalikan Trihatma Kusuma Haliman [anak Anton], bulan lalu diptotes oleh ribuan petani Margamulya, Mulyasari, Wanakerta di Karawang karena dituding telah menguasai tanah para petani seluas 350 hektare. Protes mereka dihadapi oleh oleh ribuan aparat bersenjata. Delapan warga ditangkap, sembilan warga mengalami luka-luka serius pada bentrok pertama pertengahan tahun lalu. Februari silam, bentrok kembali terjadi, tapi para petani tampaknya harus kehilangan lahan mereka.

Raksasa lain yang terlibat di Giant Sea Wall adalah Sedayu Group milik Sugianto Kusumo alias Aguan. Selain dikenal sebagai relawan Yayasan Buddha Tzu Zi, nama Aguan dikenal karena membangun Sudirman Central Busines District [SCBD] persis di belakang Polda Metro Jaya, tanpa modal pinjaman dari bank. Proyek itu dibangun oleh PT Jakarta Internasional Hotel and Development, salah satu perusahaan milik Aguan yang berkongsi dengan Tommy Winata. Nama yang disebut terakhir adalah pemilik PT Tirta Wahana Bali International, yang menggarap proyek reklamasi di Tanjung Benoa, Bali yang diprotes banyak aktivis lingkungan dan warga Bali.

Satu nama perusahaan yang terlibat di proyek Giant Sea Wall yang tidak terdeteksi di Google atau situs Bloomberg adalah PT Jaladri Eka Paksi. Setiap kali mencantumkan namanya, yang keluar adalah nama PT Jaladri Nusantara. Prabowo Subianto tercatat sebagai CEO di perusahaan ini , tapi Jaladri Nusantara bergerak di usaha perikanan, bukan di bidang properti.

Perusahaan-perusahaan itulah yang diberi kesempatan membuat 17 pulau buatan, yang setiap pulaunya saling terhubung dan masing-masing pulau akan terhubung pula ke daratan Jakarta, Bekasi atau Tangerang. Konsepnya meniru proyek Palm Islands di Dubai, atau proyek reklamasi di Singapura dan Hon Kong. Caranya: lewat reklamasi atau menguruk laut.

Untuk keperluan itu, setiap perusahaan bermitra dengan perusahaan lainnya menggarap areal tertentu yang sudah ditentukan. Lewat anak perusahaan PT Tangerang City, Salim mendapat jatah melakukan reklamasi seluas 9.000 hektare di sepanjang pesisir utara Tangerang. Mulai dari pantai Dadap, Kosambi, hingga Kronjo.

Tangerang City sebelumnya membangun pusat belanja bernama Tangerang City di Tangerang, yang mengusur pasar tradisional Cikokol seluas dua hektare. Untuk proyek Giant Sea Wall, Tangerang City berkongsi dengan Agung Sedayu, yang akan mengembangkan kawasan yang sudah direklamasi.

Pembangunan Jaya Ancol menggarap reklamasi di pesisir Ancol seluas 1.700 hektare bersama Kapuk Naga Indah. Intiland milik Keluarga Gondokusumo dan menempatkan Cosmas Batubara [eks menteri perumahan rakyat di zaman Soeharto] sebagai komisaris utama, menggandeng Taman Harapan Indah. Intiland adalah pengembang yang membangun hunian mewah Pantai Mutiara, sementara Taman Harapan adalah anak perusahaan Intiland.

Lalu, Sedayu Group membawa PT Capitol Nusantara Indonesia. Nama yang disebut terakhir adalah perusahaan patungan dua kelompok usaha dari Indonesia dan Singapura: PT Agus Suta Line yang berpusat dan beroperasi di Samarinda, Kalimantan Timur, dan Ang Sin Liu Marine Holding Ltd. yang berpusat dan beroperasi di Singapura.

Sesuai rencana tata ruang, proyek Giant Sea Wall awalnya direncanakan dibangun selama 10 tahun dimulai 2020, tapi di zaman Jokowi jadi gubernur, pengerjaan proyeknya dipercepat dan peletakan batu pertamanya sudah dimulai Oktober tahun lalu. Kelompok usaha seperti Agung Podomoro bahkan segera memulai pengurukan karena mendaku sudah mengantongi izin dari Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dan itulah yang menimbulkan kisruh.

Awal Februari silam, Kementerian Perikanan dan Kelautan menuding Ahok melanggar aturan pemberian izin reklamasi. Ahok mengaku hanya melanjutkan izin reklamasi yang sudah dikeluarkan pendahulunya yaitu Foke tapi Dirjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil, Sudirman Saad mengungkapkan, izin reklamasi untuk Muara Wisesa [Agung Podomoro] justru diterbitkan di zaman Ahok dan karena itu, Ahok tidak bisa melempar tanggung jawab ke Foke.

Tentu, kementerian di bawah Susi Pudjiastuti punya alasan mempersoalkan izin reklamasi yang dikeluarkan oleh Ahok. Pertama, karena pemerintah belum pernah mengeluarkan izin reklamasi untuk membuat 17 pulau di Teluk Jakarta. Izin reklamasi untuk Muara Wisesa misalnya, sebetulnya masih dalam proses pengkajian. Masih status quo.

Kedua, karena seperti kota-kota besar lainnya di Indonesia, Jakarta adalah kawasan strategis nasional. Wilayah lautnya memiliki banyak aspek kepentingan keamanan, kegiatan ekonomi, sumber daya alam hingga fungsi lingkungan hidup.

Ketiga, karena di bawah laut Jakarta ada banyak pipa kabel yang membentang dari tengah laut Jawa ke Muara Karang, dan ditarik ke Tanjung Perak dan Tanjung Priok. Bila reklamasi dilakukan maka dipastikan akan menimpa pipa dan hal itu tentu berbahaya.

Dan memang, sejak rencana Giant Sea Wall bocor ke publik, proyek itu diprotes aktivis lingkungan dan mengundang kontroversi. Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan [Kiara] menuding proyek Giant Sea Wall menyalahi peraturan perundang-undangan karena tidak berbasis kajian lingkungan hidup strategis, analisa dampak lingkungan berikut perizinannya. Kalau diteruskan, Giant Sea Wall dinilai akan mendatangkan kerusakan hutan mangrove , terumbu karang, abrasi di pesisir , mengancam kehidupan nelayan dan sebagainya.

Dari ITB muncul suara, Giant Sea Wall bukan jalan keluar mengatasi banjir dan penurunan tanah di Jakarta. Pernyataan itu dilontarkan oleh Muslim Muin PhD., ahli kelautan ITB dan dimuat di situs ITB.ac.id. Dalam hitungan Muslim, Giant Sea Wall justru memperparah banjir di Ibukota, mempercepat pendangkalan sungai, merusak lingkungan laut dan mengancam perikanan lokal, selain menimbulkan masalah sosial.

Sebagai gantinya, esk ketua Kelompok Keahlian Teknik Kelautan itu menawarkan River Dike atau pembuatan tanggul sepanjang pantai pada daerah yang mengalami penurunan tanah dan mempertinggi tanggul sungai dengan konstruksi menancapkan tiang-tiang ke dalam tanah terlebih dahulu. Dengan demikian, andai terjadi penurunan tanah, tanggul tetap akan berdiri.

Muslim mengkuatirkan, bila proyek Giant Sea Wall diteruskan, dampaknya akan terlalu besar. Antara lain harus menutup dua pelabuhan ikan Nusantara, memindahkan puluhan ribu nelayan, selain harus menutup PLTU Muara Karang karena aliran air pendingin tidak lagi tersedia. Andai PLTU itu dipertahankan, maka biaya operasionalnya akan sangat besar sebab memerlukan pompa yang berjalan terus. Dia memperkirakan, diperlukan dana paling sedikit Rp 30 triliun untuk membangun pembangkit listrik yang setara PLTU Muara Karang.

Mungkin karena kontroversi itu, pemerintah lantas mengisyaratkan akan mengkaji ulang proyek Giant Sea Wall. Hal itu terungkap dari hasil rapat yang melibatkan sejumlah menteri dan tiga gubernur [Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat], 9 Desember tahun lalu. Pemerintah hanya akan melanjutkan proyek tahap pertama yaitu pembuatan tanggul. Selebihnya, akan dikaji secara menyeluruh dari hulu sampai hilir.

Tapi hampir sebulan kemudian, Ahok malah meneken SK Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 2238 Tahun 2014 pada 23 Desember 2014. Beleid itu memberikan izin pelaksanaan reklamasi Pulau G [Pulau Pluit City] kepada Muara Wisesa, dan itulah yang dipersoalkan oleh Kementerian Perikanan dan Kelautan.

Sudirman menjelaskan, pemberian izin reklamasi bukanlah kewenangan kepala daerah seperti Ahok melainkan kewenangan kementerian, tapi Ahok [seperti biasa] tak mau kalah. Dia menyerahkan masalah izin reklamasi untuk diselesaikan Presiden Jokowi. Belum ada kabar tentang reaksi Jokowi menanggapi kisruh perizinan reklamasi pesisir Jakarta antara Ahok dengan kementerian di bawah Susi, tapi proyek Giant Sea Wall benar-benar proyek raksasa.

Sumber-sumber tidak resmi menyebut proyek itu akan menelan biaya Rp 300 triliun, tapi angka yang sebetulnya akan lebih mencengangkan. Semasa jadi menteri di era pemerintahan SBY, Chairul Tanjung menyebut ongkos untuk proyek Giant Sea Wall bisa mencapai Rp 500 triliun, angka yang hampir menyamai dana obligasi BLBI. Separuh ongkosnya akan diambil dari uang negara melalui Kementerian PU dan Pemda DKI, dan sisanya akan ditanggung oleh investor swasta, 12 perusahaan itu.

Muslim ahli kelautan ITB itu menduga, banyaknya investor yang bersemangat terlibat di proyek Giant Sea Wall karena ada proyek tembok laut raksasa yang justru bisa menahan banjir dari daratan Jakarta. Abdul Halim, Sekjen Kiara menuding Giant Sea Wall adalah proyek yang hanya berpihak kepada pengusaha dan untuk melindungi proyek-proyek properti yang dibangun di pesisir Jakarta. Dalam catatan Kiara, sedikitnya ada 16.855 nelayan berikut keluarganya bakal terusir bila Giant Sea Wall dibangun, sementara sampai saat ini, belum ada perencanaan tentang nasib mereka. “Jika Teluk Jakarta dibendung, ke mana nelayan akan mencari ikan?” demikian Halim, kepada wartawan mongabay.co.id.

Tuduhan Halim tentu harus dibuktikan, tapi di situs reklamasi.com disebutkan, Agung Podomoro sudah mengeluarkan daftar harga hunian yang akan dibangun di atas Pulau Pluit City seluas 160 hektare. Antara lain rumah seharga Rp 3 miliar hingga Rp 6 miliar, dan ruko seharga Rp 7 miliar hingga Rp 9 miliar. Agung Podomoro bahkan sudah memasarkan hunian-hunian itu sejak awal tahun ini kepada 100 ribuan konsumen.

Maka sambil menunggu apakah proyek Giant Sea Wall akan diteruskan atau dibatalkan oleh pemerintahan Jokowi, orang-orang bisa mengenang monyet yang sudah lama hilang, bakau dan ketapang yang semakin susah ditemukan di hutan Kapuk akibat proyek reklamasi PIK, seperti ditulis wartawan majalah Tempo hampir 13 tahun lalu. Atau inikah contoh proyek yang kesekian, tentang bagaimana uang, ambisi, dan kekuasaan kembali bersekutu seperti halnya dulu PIK dan Ciputra di zaman Orde Baru?

 
Leave a comment

Posted by on 22/08/2015 in Motivasi & Inspirasi