RSS

Author Archives: nyoemhokgie

About nyoemhokgie

Arsitek dan Pemulung Kata Kirinya kanan, kanannya kiri

Naruto Random

Suatu saat nanti, ketika hari kebangkitan telah tiba. Ketika desa Konoha telah hancur lebur terkena genjutsu maut “Mugen Tsukuyomi” yang dikeluarkan oleh Madara, maka semua tubuh-tubuh beserta jiwa warga desa yang telah mati akan dibangkitkan kembali. Kemudian malaikat-malaikat seperti wujud Susano O turun dan menanyai satu-persatu seluruh makhluk hidup termasuk para Bijuu mulai dari ekor 9 sampai yang ekornya ada di depan tak akan luput untuk ditanyai. Tak terkecuali aku yang hendak “diinterogasi” oleh Susano O ini. Begini kira-kira percakapannya.

“Siapa namamu?”, tanya Susano O si malaikat maut berjubah hitam sambil menenteng arit dengan gagang yang sangat panjang.

Suara Susano O begitu berat, serak dan menyeramkan. Persis seperti ketika mengenang masa lalu saat diputus oleh pacar. Ahh…tapi itu tak membuatku gentar.

“Akuuu…Uzumaki Narutooo!”, kataku dengan keras dan lantang seperti orang yang kebelet eek tapi toiletnya ngantri dan ampasnya sudah berada di ujung. Maklum aku ini anak Medan, jadi nada suaraku agak kencang.

“Hoey kau yang bernama Naruto, jaga bicaramu, congkak sekali kau. Pasti waktu kamu kecil suka main dakon ya?”

“Itu congklak, Susan!!! Bukan congkak…Ah, vangkeee juga nih malaikat”, jawabku sinis.

“Diammm!!! Jangan menyela Susan!! Kalau tidak aku suntik kau pakai suntiknya kak Ria Enes loh..enjuss..enjus..enjuss”

“Watdefaaakkk”

“Okey, kembali ke laptop. Aku lanjutkan kembali pertanyaan, harusnya tadi pertanyaannya adalah apa agamamu?”

“Hah?”, aku keheranan.

“Iya apa agamamu?”, bentak Susano O

“Di Konoha tidak ada pelajaran agama, Susan! Di sekolah kami diajari taijutsu, genjutsu, melempar kunai, mengendalikan cakra, dll. Tidak ada itu yang namanya agama”, jawabku ketus.

“Apa??? Tidak ada agama? Pantas saja kalian sesama ninja ini selalu bertarung tiada henti setiap hari. Yang tawuran melawan desa sebelah lah, yang berantem melawan geng bermotor bernama Akatsuki lah, aliran sesat lah…bla..bla..bla”

“Ah, sudahlah. Aku jelaskan dengan berbagai macam kitab dan menurunkan berbagai macam malaikat toh engkau juga tidak akan mengerti”

“Lagian kamu juga sudah mati”

“Aku ulangi kembali pertanyaanku, apa agamamu, Naruto?”

“Agama itu apa, Susan? Sudah aku bilang di desa Konoha tidak ada agama. Aku harus menjawab apalagi?”

“Apa?? Berarti kamu seorang ateis?”, Susano O mendelik.

“Pengawal!!!! Jebloskan dia ke dalam siksa api neraka lapis terbawah”

Dan akhirnya Naruto masuk ke neraka.
TAMAT

 
Leave a comment

Posted by on 04/07/2017 in Terapi

 

Hari Raya

Penyair tak perlu tunjangan hari raya sebab seluruh harinya hari raya: Hari Raya Semoga.

Joko Pinurbo

 
Leave a comment

Posted by on 23/06/2017 in Terapi

 

Kehancuran Majapahit

Tulisan ini copas dari Mpu Daksa Yasca Manuaba menarik dibaca.
Kehancuran Majapahit tahun 1478, bukannya menjadi pelajaran bagi umat Hindu di Bali. Seorang pedarmayatra (“pegungsi”) dari Majapahit diangkat menjadi Bagawanta kerajaan di Gelgel. Beliau adalah Danghyang Nirarta.
Tahun 1489, sebelas tahun setelah Kerajaan Majapahit Runtuh,  Daghyang Nirarta datang ke Bali dengan membawa ajaran-ajaran yang sudah dipengaruhi oleh peta politik global saat itu (peta politik global abad 14-16 M ), yaitu konsep kasta-kasta dan perbudakan. Danghyang Nirartha juga melarang anak-anaknya menyembah patung-patung. (lihat : Bisama Danghyang Nirartha kepada keturunannya), ini jelas mengadopsi Al Quran yang menganggap patung sebagai Berhala.
Di Lombok Danghyang Nirarta mengajarkan Islam wetu telu, ajarannya dapat dilihat dalam geguritan Islam wetu telu, beliau bergelar Haji Duta Semeru, konon entah benar apa tidak beliau sudah pernah naik haji ke Mekkah dan namanya menjadi Haji Gureh (Singgih Wikarman,1998). Ada ceritra kesamaan kemampuan antara Danghyang Nirarta dengan Syekh Siti Jenar – tokoh sufi (Islam) yang dianggap Murtad oleh para Wali,  yaitu sama-sama mampu menghidupkan cacing jadi manusia.
Menurut Babad Brahmana: “sewaktu Danghyang Nirarta tiba di Bali, terjadi peristiwa yang sangat menyedihkan. Putri beliau yang bernama Ida Ayu Swabawa dicemari dan diperlakukan tidak senonoh oleh penduduk. Mendengar kisah sedih putrinya tersebut, Danghyang Nirartha berkenaan memberikan ajaran ilmu Rahasya keparamartaan yang mampu melenyapkan segala dosa. Setelah menerima ajaran itu Ida Ayu Swabawa lenyap menggaib dan berhasil mencapai alam Dewa, dan di stanakan di Pura Pulaki sebagai Dewi Melanting   Adapun orang-orang yang menodai Ida Ayu Swabawa dikutuk menjadi wong Gamang di desa Pegametan”.(Soebandi,1998)
Kisah Ini merupakan upaya pemurtadan terhadap keyakinan agama Hindu, kerena umat Hindu digiring untuk mengganti peran Dewi Sri Laksmi – Sakti Dewa Wisnu/Betare Sedana, sebagai Dewa-dewi pemberi kemakmuran dan kesejahteraan,  dengan Ida Ayu Subawa seorang anak manusia yang dinodai oleh penduduk yang tiada lain adalah anaknya sendiri dan kemudin diperkenalkan kepada umat sebagai Dewi Melanting. .
Selanjutnya dalam Babad tsb juga disebutkan “Ketika Danghyang Nirarta memberikan ajaran Ilmu rahasya kepada putrinya itu, ternyata didengar oleh insan berwujud seekor cacing kalung, cacing kalung tersebut, tiba-tiba supa (musna) dosa papanya dan seketika menjelma menjadi Manusia perempuan dan  diberi nama Nyi Berit”.  
Kisah ini mencerminkan sikap “ rasis (kastaisme)” dan sikap  “megalomania-nya”  si penulis babad Brahmana,  karena  menggatakan  Nyi Berit sebagai Jelmaan Cacing kalung.  Karena sejatinya Nyi Berit  adalah penduduk Bali yang lebih dahulu menetap di Bali (Bali Age) yang kebetulan hidupnya saat itu kurang beruntung.  Sikap rasis dan superior  ini ternyata berbuah karma, karena dikemudian hari Nyi Berit ini melahirkan anak dari Danghyang Nirartha. 
Dalam babad Brahmana juga ditemukan kalimat :   “rambut beliau Danghyang Nirartha di-Stanakan di Pura Kapurancak yang disebut SINIWI DI KAPURANCAK, sehingga Pura tersebut disebut PURA RAMBUT SIWI”. 
Penyebutan rabut Danghyang Nirartha yang Siniwi di Kapurancak supaya dipuja oleh umat Hindu Bali seluruhnya,  mencerminkan kepribadian si penulis Babad yang mencoba mengeser keyakinan Umat Hindu Bali yang semula memuja Betare Rambut Sedana sebagai manifestasi Dewa Wisnu bersama Saktinya Dewi Sri-laksmi,  diganti oleh beliau Danghyang Niratha bersama anaknya Ida Ayu Swabawa. 
Betare Rambut Sedana merupakan manifestasi Dewa Wisnu didampingi oleh saktinya dewi Sri Laksmi, bertugas memberikan kesejahteraan, kemakmuran dan harta benda kepada para pemuja yang setia memuja beliau setiap hari. 
Umat Hindu yang pernah membaca lontar Wawacan Sulanjana atau mendengar ceritra Rakyat Jawa mengetahui bahwa Dewi kesuburan dan kesejahteraan (Dewinya Padi dan Tumbuh-tubuhan bermanfaat) adalah Dewi Sri atau disebut juga Sanghyang Asri.  Dewi Sri atau Sanghyang Asri distanakan di Sawah-sawah dan lumbung padi. Jadi yang disebut  Dewi Melanting bukanlah Ida Ayu Swabawa melainkan  Dewi Sri Laksmi- sakti dari Betare Rambut Sedana (Wisnu).  Sedangkan Betare Rambut Sedana  adalah nama lain dari Dewa Wisnu yang bertugas memberikan kekayaan, kemakmuran dan kesejahteraan kepada para Bhakta-nya. 
Karena dianggap “Sakti” dan  “mumpuni dibidang agama”  pada zamannya maka Danghyang Nirarha diangkat menjadi Bagawanta kerajaan di Gelgel. Pada saat itu yang menjadi penguasa di Gelgel adalah Dalem Waturenggong (1460-1550 M).   
Tidak berapa lama setelah  menjabat sebagai Bhagawanta Kerajaan Gelgel,   Danghyang Nirarta sang puruhita kerajaan gelgel menerapkan teori RASIS (Kasta) yang sejak semula telah menjadi Ideologinya,  dan  merestukturisasi masyarakat Bali menjadi berbagai macam kasta.  
Dengan mengadopsi  DALIL-DALIL WEDA  versi kaum misionaris Kristen-Portugis  di India maka  Catur Warna diadopsi  menjadi Catur Kasta ( dari bahasa Portugis : Caste) dan ditetapkan menjadi Awig-Awig (peraturan kerajaan).
Untuk mendukung gagasan-nya membentuk kasta-kasta di Bali,   Danghyang Nirarta menuliskannya dalam lontar “ Widhi sastra sakeng niti Danghyang Nirarta”  (Singgih Wikarma 1998 : Leluhur orang Bali dari dunia babad dan sejarah.  Penerbit Paramita, Surabaya, halaman 63).
Semenjak itu munculah Kasta yang dilekatkan kepada agama Hindu di Bali. Kasta Brahmana yang isinya terdiri dari anak-anak keturunan Danghyang Nirarta, termasuk juga keturunan  yang sebelumnya dikatakann sebagai “supa-an-cacing kalung”(Nyi Berit), dan anak yang dikatakannya PENYEROAN (asisten rumah tangganya Bendesa Mas) yang  bernama Ni Patapan.  Kasta Ksatrya diberikan kepada keturunan dalem Gelgel, di kecualikan  kepada keturunan Dalem Taruk yang ditetapkan sebagai Sudra.  Kasta Wesya ditetapkan kepada Keturunan  Majapahit yang menyertai Dalem Samprangan, Sedangkan Kasta sudra ditetapkan kepada penduduk Bali Age/
Sistem Baru ini mengabaikan Sastra-Sastra, lontar-lontar Agama Hindu,  maupun Prasasti-prasasti yang sudah ada di Bali sebelumnya,  seperti prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja Udayana mapun raja Anak Wungsu.  
Pada Prasasti Bila, yang dikeluarkan oleh raja Anak Wungsu  tahun 995 C atau 1073 M), M) menyebutkan peran para Brahmana.  Itu berarti yang disebut Brahmana pada zaman itu pasti bukan Anak cucu Danghyang Nirartha, karena Danghyang Nirartha baru tiba di Bali th. 1489 M  atau hampir 500 th setelah prasasti Bila diterbitkan. Yang disebut para Brahmana pada prasasti Bila th. 995 C (1073 M)  pastilah Mpu Kuturan, Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Gana,  serta para Bhamana keturunan Rsi Markandeya dan Mpu Kepandean yang sudah Dwijati (Mpugdala) yang membantu raja Anak Wungsu. 
Seperti dicatat dalam sejarah, bahwa pada saat Prabu Udayana menjadi raja di Bali (989-1011M), terdapat 9 sampradaya (sekte agama Hindu) di Bali. Untuk membangun agama Hindu di Bali, Prabu Udayana meminta bantuan 5  Brahmana bersaudara yang berasal dari JAMBUDWIPA/INDIA ( I Gusti Bagus Sugriwa : Babad Pasek. Penerbit Balimas Dps. Halaman 15) yang menetap di Jawa Timur, diantaranaya : Mpu Rajakerta  yang kemudian menjadi Senopati Kuturan sekaligus Bhagawanta Kerajaan,  didampingi oleh saudara-saudaranya : Mpu Semeru, Mpu Gana, Mpu Gnijaya. Sedangkan adiknya yang paling kecil Mpu Baradah tetap tinggal di Jawa diminta oleh Raja Airlangga (Anak Prabu Udayana – kakak dari Anak Wungsu) menjadi Bhagawanta kerajaan di Kahuripan- Jawa Timur. 
Setelah kasta-kasta ini disahkan di Bali,  diberlakukan  pula perbudakan. Raja-Raja Bali dengan dukungan Kelompok “Brahmana hasil Strukturisasi “,  membuat awig-awig untuk mengesahkan perbudakan. Menghukum rakyat Bali yang beragama Hindu (awig-awig tersebut tidak berlaku bagi umat selain umat Hindu) yang melanggar awig-awig sebagai budak dan boleh di jual oleh Raja.  Raja-raja Bali memperoleh harta untuk membangun Puri-purinya yang megah dengan mengekspor para budak ber-agama  Hindu kepada Kompeni di Batavia. 
Sistem Kasta dan Perbudakan ini jelas mengadopsi konsep-konsep Injil dan per-budakan dalam  masyarakat Arab dan Eropa tanpa reserve. Karena dalam Agama Hindu tidak dikenal istilah Kasta dan Perbudakan.
Sistem Perbudakan yang dijadikan komoditas Ekspor oleh Raja-Raja Bali, menyumbang hampir 60 % budak-budak kepada VOC di Batavia. Budak-budak beragama Hindu dari Bali  di jual ke Batavia, Hindia Barat, Afrika Selatan, dan pulau-pulau di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Sebagai contoh: klan Sudira di Depok yang disebut “Belanda Depok”, adalah orang  yang berasal dari Gianyar dan tidak ada sedikitpun identitas ke Hinduan atau Bali nya yang tersisa, hanya saja  kalau kita tanya mereka mengaku kakeknya berasal dari Gianyar-Bali, Demikian juga Untung Surapati, budak belian berasal dari Bali berkat perjuangannya yang gigih dan kecerdasannya bisa menjadi Tumenggung di Pasuruan – Jawa Timur tetapi identitas ke Hinduan-nya sedikitpun tidak tersisa. 
Para Durjana menguasai Umat Hindu
Dari manakah Raja-Raja Bali saat itu mendapat ilmu tentang perbudakan dan kasta-isme?, Apa sumbangan para “Brahmana” dan para Raja Bali saat itu ( abad 14-19 ) terhadap  umat dan Agama Hindu?, Kenapa para Durjana serakah bisa menguasai umat Hindu di Bali saat itu ?.
Inilah tanda-tanda kehancuran Agama Hindu di Indonesia. Karena para “Brahmananya”  tergoda oleh  prestise pribadi, harta dan  kuasa. Para Brahmana dan Raja tidak cerdas mengamati peta politik global, tidak peduli terhadap ajaran kitab suci Weda. Para Raja bermahkotakan Emas, dan Para Brahmana juga berkalung dan ber Ketu (mahkota) bertatahkan permata dan emas, sementara rakyat/umat-nya telanjang tanpa busana, fenomena ini sangat menarik minat wisatawan Eropa datang ke Bali, untuk melihat kemolekan gadis-gadis Umat Hindu Bali yang ber-telanjang dada mondar-mandir dijalan. Dan ini membanggakan para raja-raja Bali untuk kembali mendatangkan dolar.
Sebelum kedatangan Danghyang Nirarta, tidak ada kasta-kasta maupun Budak dari Bali.  Umat Hindu di Bali tidak ada yang bernama Anak Agung, Ida Bagus, Cokorda, maupun I Dewa. Silahkan lacak nama-nama orang Bali pada Babad-babad, kapan nama-nama itu mulai muncul dalam khasanah nama-nama orang Bali. Tidak ada yang namanya AA.IB. IC. ID,IGN IGst, maupun I Wayan yang mengaku Brahmana, Ksatrya, maupun Sudra.  Martabat orang Bali ditentu-kan oleh perilakunya. Warna nya ditentukan oleh pekerjaannya. Bahkan Sri Kresna Kepakisan raja Pertama Gelgel  sebelumnya bernama Ketut Kresna Kepakisan, karena merupakan anak ke 4 dari Danghyang Kepakisan seorang Brahmana dari Jawa Timur. Kresna Kepakisan tidak bernama Ida Bagus Kresna Kepakisan, meskipun beliau anak seorang Brahmana, tidak juga  memakai nama Anak Agung atau I Dewa Kresna Kepakisan, meski beliau menjadi raja diraja Bali. Namanya cukup menjadi Sri Kresna Kepakisan.
Begitu pula raja-raja Bali maupun Jawa sebelumnya seperti; Sri Ugrasena, Sri Kesari Warmadewa, Sri Udayana, Sri Wijaya, Sri Dharmawangsa dll, cukup memakai gelar Sri, sedangkan panglima perang pejabat kerajaan lebih senang memakai nama-nama binatang, seperti;  Kebo Iwo, Kebo Parud, Gadjah Mada, Gadjah Maruga, Patih Wulung, dll.  sebagai tanda bahwa Agama Hindu  dan adat Bali/Jawa saat itu  sangat egaliter.  Salah seorang anak Sri Kresna Kepakisan, yaitu Dalem Taruk anak anaknya bernama I Gede Pulasari, I Gede Bandem, I Gede Balangan, Merupakan generasi ke 3 Dinasti Kepakisan, tidak memakai gelar bentukan Danghyang Nirarta dan Dalem Waturenggong.
Kasta di Bali pada masa kolonial
Th. 1882, kolonialis Belanda mendirikan Raad Van Kerta, mahkamah adat Bali, dengan alasan politik etis.  Hakim-hakim pada Raad Van Kerta diisi oleh para Pedande (bukan Sri Empu, Bujangga Wisnawa maupun Rsi), meskipun tidak jarang mereka tidak mengerti masalah hukum, dan tidak mengerti  teks-teks hukum keagamaan seperti Agama, adigama, purwa agama dan kutara agama yang ditulis dalam bahasa jawa kuno.   
Belanda membantu pegangan para hakim Raad Van Kerta dengan menterjemahkan teks-teks tersebut kedalam Bahasa Melayu dan bahasa Bali untuk digunakan sebagai acuan hukum oleh anggota Raad Van Kerta.
Terjemahan teks-teks dari bahasa Jawa kuno kedalam bahasa Melayu dan bahasa Bali disesuaikan dengan selera dan kepentingan kolonialisme dan misionarisme. Hal ini sama dan sebangun dengan upaya Max Muller beserta kawan-kawannya  dalam menter-jemahkan kitab Weda yang disesatkan untuk diterapkan pada masyarakat Hindu di India. Geoffrey Robinson mengomentari hal ini sebagai rekayasa tradisi Bali yang paling mencengangkan oleh Kolonial Belanda.

(Geoffrey Robinson; Sisi Gelap Pulau Dewata, 2005 hal. 51).
Kitab Agama, adigama, purwa agama dan kutara agama, sewaktu diterapkan oleh Raja-Raja Hindu di Jawa, tidak pernah menerap-kan kasta-kasta, karena  tidak ada satu kata pun dalam kitab Hukum Hindu maupun kitab Weda yang berisi kata kasta. 
Kasta  tidak dikenal dan merupakan kata asing bagi umat Hindu, apalagi menjadikan para pesakitannya sebagai Budak.  Kasta dan Budak adalah akal-akalan kolonialis semata, sebagai cerminan tradisi kitab Injil dan Al Quran yang diberlakukan di Arab dan Eropa.
Pada tahun 1910 kolonialis Belanda meng ikuti jejak rekan Eropa-nya di India yaitu kolonialis Inggris,  mendukung penetapan konsep kasta sebagai fondasi prinsipil masyarakat Bali. Dengan demikian koloni-alis Belanda,  melegalkan dan meneguhkan hierarki kasta beserta seperangkat aturan menyangkut hubungan antar kasta dan hak-hak istimewa kasta, yang sebelum-nya tidak pernah ada dalam praktek di Bali.  Dalam kata-kata V.E. Korn, orang Belanda, pakar Bali dan kontrolir Badung 1925  :     ” Bukan saja triwangsa diberi tempat yang terlalu penting, tetapi juga dilindungi melalui sederet pasal-pasal yang sangat jauh melampaui para raja dan teks-teks hukum tempo dulu”. Pendeknya, apa yang diartikan sebagai usaha Belanda untuk bergiat dalam “tradisi” Bali sebagai politik etis, sebetulnya adalah penciptaan tatanan hierarki baru yang pasti, di mana kekuasaan golongan kasta tinggi lebih besar daripada sebelumnya, dan terlebih lagi di sahkan oleh struktur legal, ideologis dan koesif negara kolonial. (Geoffrey Robinson,Sisi Gelap Pulau Dewata,2005 halaman 51)
Pemurtadan Umat Hindu makin menjadi-jadi dengan tujuan Konversi
Umat Hindu telah dibuat tersesat oleh sarjana pseudoilmiah dan misionarisme, juga oleh umat Hindu sendiri yang tercemar pemikiran misionaris dan tidak kukuh mempertahankan Dharma.  Penyesatan tersebut bahkan sampai ketingkat pemurtadan, menentang perintah kitab suci Yayur Weda XXVI.2  : Yathemam vacam kalyanim avadani janebhyah, Brahma rajanyabhyam sudraya caryaya ca svaya caranaya ca artinya :  hendaknya wartakan sabda suci ini kepada seluruh umat manusia, baik kepada para Brahmana, para raja-raja maupun kepada masyarakat pedagang, petani dan nelayan serta para buruh, kepada orang-orangku maupun orang asing sekalipun.
Juga pemurtadan Sloka BG. XVIII.70 : Adhyesyate ca ya imam,  dharmyam samwa-dam awayoh,jnanayajnena tena‘ham, istah syam iti me matih/ Mereka yang membaca percakapan-Ku ini, oleh  mereka Aku telah dipuja dengan  yadnya  Ilmu Pengetahuan. Demikian  telah Aku nyatakan.
Sraddhawan  anasuyas ca, srinuyad api yo narah,  so’pi  muktah subham  lokan, prapnuyat punyakarmanam (BG.XVIII.71) Artinya :  Orang yang mempunyai keyakin-an dan tidak mencela Orang seperti itu, walaupun hanya sekedar mendengar  orang berbicara kitab suci. Ia juga akan dibebaskan, mencapai dunia kebahagiaan sebagai manusia yang berbuat kebajikan.
Rakyat Bali yang bukan “berkasta Brahmana “ dilarang belajar Weda. Hanya mereka yang menyebut dirinya kasta “Brahmana” saja yang boleh belajar agama. Agama dimono-poli oleh Satu kelompok, sedang rakyat tidak boleh belajar Agama Hindu, kalau belajar Agama Hindu nanti bisa Buduh (=gila)  katanya. Bahkan Konon buku-buku Resi Gotama terbit berisikan perintah untuk mengecor mulut orang-orang diluar Kasta Brahmana, apabila berani membaca Weda, memerintahkan untuk mengecor dengan timah panas telinga orang-orang diluar kasta Brahmana kalau berani mendengar mantra/seloka Weda.  Dengan Kata lain Umat diluar kasta Brahmana tidak boleh mendengar dan membaca Kitab Weda.
Kemudian dipromosikan pula  konsep ayuwe were tan siddhi palania, (plesetan atau pelintiran dari, Ayu Were Siddhi palania didalam kitab purwagama)  dan “anak mule keto” suatu ungkapan yang selalu terdengar kalau ada anak-anak/umat Hindu bertanya tentang Agama Hindu.  Nawegang antuk linggih, juga suatu ungkapan yang selalu terdengar mendahului percakapan terhadap orang yang baru dikenal. Inilah pemurtadan dan penyesatan yang menjadi-jadi.
Pemurtadan dan penyesatan tersebut didukung oleh pemerintah kolonialis Belanda dan kaum misionaris kristen yang di-kirim  untuk mengalih agamakan orang Bali. Pemerintah Kolonialis  menguatkan konsep kasta dalam praktek pemerintahan kolonial. Dalam Notulen konferensi  administratif  tanggal 15-17 september  1910, collectie Korn no 166;  Pemerintah kolonial Belanda mendukung konsep kasta, sebagai pondasi prinsipil masyarakat Bali. Dalam penerapan-nya, Pemerintah kolonial Belanda memper-luas kasta-kasta dengan mengangkat pegawai pamong praja yang pro kolonial dan memberi nya  gelar bangsawan secara turun temurun.
V.E. Korn  menyatakan bahwa sebelum pemberlakuan pemerintahan kolonialis Belanda di Bali, banyak kaum non kasta yang meduduki jabatan-jabatan dalam otoritas politik seperti : sebagai punggawa, sedahan, perbekel dan sebagainya dibanding sesudah-nya. Pemerintah Belanda begitu yakin pada gagasan bahwa ketiga kasta tertinggi  menyusun fondasi terpenting masyarakat Bali, maka nyaris anggota kasta-kasta itu sajalah yang ditunjuk untuk memegang jabatan tinggi.   Dengan mengutip beberapa contoh, Korn mengatakan bahwa di Buleleng (Bali Utara) sebelum aturan kastaisme diterapkan,  16 dari 26 Punggawanya bukan dari ketiga kasta tinggi. Bahkan banyak kelompok diluar ketiga kasta menduduki jabatan tinggi misalnya sebagai pejabat pajak dan hakim pada masa pra kolonial. (V.E. Korn :  Het Adatrecht van Bali, 1932 dalam Sisi Gelap Pulau Dewata oleh Geoffrey Robinson, 2005)
Penolakan sistem Kasta yang dikait-kaitkan dengan Agama Hindu  bukannya tidak pernah ada saat itu, bahkan saat gagasan pengadopsian Catur Warna menjadi empat kasta dimunculkan, para Cendikiawan Hindu maupun yang perduli akan perkembangan Agama Hindu sudah bereaksi memprotesnya, misalnya dengan terbitnya Surya Kanta, koran berbahasa Melayu di Bali tahun 1920-an. Tetapi gempuran para Indolog pendukung kastaisme ditambah dukungan penguasa pribumi boneka kolonialis dan “Brahmana palsu”, lebih dahsyat dari pada yang menentang kastaisme.  Terlebih lagi kondisi umat Hindu saat itu tidak berdaya oleh kolonialisme, sehingga konsep kaku kasta maupun aturan-aturannya tetap dijalankan, meski terus mendapat penentangan.

Pada tanggal 20 Juni tahun 1916 warga Desa Lodjeh, Karangasem, memprotes keputusan Raad Van Kerta, disusul pada bulan Mei 1917 warga Desa Sukawati Gianyar. Dengan todongan bedil kolonialis Belanda, protes-protes tersebut dapat dipadamkan dengan dibayar nyawa warga Umat Hindu yang tidak berdaya.  Pada kasus Sukawati sebanyak 5 orang umat Hindu mati dibunuh, 11 orang luka-luka dan 26 orang ditangkap dan di jual sebagai budak. (Geoffrey Robinson: Sisi gelap Pulau Dewata, LKiS Yogya.2006)
Kasta dan Perbudakan  tidak sesuai dengan ajaran kitab Weda. Tidak ada satu kata-pun dalam kitab Weda maupun kitab Hukum Hindu yang memuat kata kasta. Kasta dan perbudakan merupakan produk import yang berasal dari budaya perbudakan masyarakat Arab dan Eropa yang tercemin dalam kitab suci Al Qur’an dan Injil   (baca Injil Imamat 25/44-46, keluaran 21/1-6,  timotius 6/1,titus 2/9, Efesus 6/5-6. I Petrus 2/18 maupun Al Qur’an Surat An Nissa ayat 24 dan Surat Al Mu’minuum ayat 1-6).
Bahwa Agama Hindu telah disudutkan dari dua sisi. Dari sisi kebijakan pemerintahan kolonial dan sisi pemikiran. Bahkan sampai Indonesia merdeka praktek-praktek pengang-katan pejabat berdasarkan kastaisme terus berlanjut.
Ir. Soekarno yang lahir dari rahim Ni Nyoman Rai Sarimben, warga pasek Bale Agung Buleleng – leluhurnya satu Ayah dan satu Ibu dengan Ken Dedes-Permaisuri Ken   Arok,  salah satu Leluhur Raja-Raja di Jawa, mengganti nama ibundanya menjadi Ida Ayu Nyoman Rai,  guna melanggengkan Kasta-isme yang tidak tahu diri.

 
Leave a comment

Posted by on 19/06/2017 in Terapi

 

Naruto Dan Ketidakpedeean Bangsa Kita

Aku curiga, sepertinya serial manga Naruto penciptanya adalah orang Jawa. Penciptanya bukan bernama Masashi Kishimoto, tapi keturunan ningrat Jawa bernama Raden Mas Ashi Prijatmoto Buwono XXI, namun untuk menyamar dan supaya laris filmnya akhirnya dia memakai nama samaran yang kejepang-jepangan supaya tidak dicurigai oleh serdadu ketika Jepang menjajah Indonesia. Figur Naruto sebenarnya bernama asli Narto, Cucunya Aki namun diubah menjadi Uzumaki Naruto. Gurunya bukan bernama Kakashi, tapi Kak Asih.

Alur cerita sebenarnya bermula ketika rubah berekor sembilan lahir di tengah hutan wilayah desa KokNgonoHa. Berita kelahiran rubah aneh yang berekor sembilan tentulah membuat heboh seluruh penduduk desa. Warga desa memberinya nama Kurama yang berarti “kurang makan” mengingat dilihat dari tubuhnya ketika lahir yang kurus kering seperti binatang KURAng MAkan. Banyak desas-desus yang berkembang di lingkungan bahwa Kurama sebenarnya adalah manusia jadi-jadian yang memiliki kekuatan gaib yang bisa berubah wujud menjadi rubah, Kurama sangatlah jahat karena sering menculik anak-anak kecil di malam hari yang tidak mau pulang ke rumah karena keasyikan bermain. Jika seorang anak diculik oleh Kurama supaya anak tersebut bisa kembali maka seluruh penduduk desa akan membuat keramaian dengan cara memukul-mukul dan membunyikan suara dari peralatan dapur sambil berkeliling desa berharap suara-suara berisik dari panci, sutil, dandang, wajan, dll membuat takut makhluk rubah itu kemudian mengembalikan anak yang diculiknya itu.

Terkadang jika Kurama bokek, dia akan bekerjasama dengan istrinya untuk mencari hepeng. Hepeng adalah mata uang yang dipakai di jaman dahulu, bentuk hepeng sama seperti uang koin jaman kejayaan Majapahit, kalau orang Bali menyebutnya “Pis Bolong”. Ketika bekerjasama, tugas dari istri Kurama adalah menjaga lilin tetap menyala ketika Kurama mencari hepeng. Jika Kurama ketahuan warga desa sedang mencuri maka si istri wajib meniup dan mematikan lilin supaya si suami lekas menghilang dan berubah kembali normal menjadi manusia. Kalau si istri tidak lekas atau terlambat meniup lilin ketika Kurama ketahuan mencuri maka Kurama akan menjadi rubah untuk selamanya dan tidak bisa kembali lagi menjadi manusia.

Karena sering membuat ulah yang meresahkan warga desa, maka kepala desa yang berasal dari Minang bernama Mina Ato Nami Aje, beliau adalah kepala desa ke-4, menyegel dan mengunci kekuatan Kurama ke dalam tubuh anaknya sendiri yang bernama Narto. Mina sebelumnya bertarung dengan sengit melawan Kurama, namun karena kehebatan jurus Mina yaitu Halimun (dalam cerita Narto Halimun diubah dalam bahasa Jepang yaitu genjutsu) berhasil memperdaya Kurama, lalu dengan ajian pamungkas tapak sakti gembok geni 212 berhasil mengunci kekuatan Kurama ke dalam tubuh Narto yang masih kecil hingga meninggalkan bekas tato di perut berupa aksara jawa yaitu tulisan hanacaraka. 
Untuk melakukan jurus pamungkas tapak sakti gembok geni 212 membutuhkan tumbal yaitu nyawa Mina itu sendiri. Sangat lazim di dunia perklenikan Jawa bahwa jika ingin menguasai suatu jurus maka akan membutuhkan tumbal, seperti misalnya jurus pesugihan maka pasti akan membutuhkan tumbal, entah tumbalnya adalah nyawa dari keluarga terdekat atau nyawa pemilik jurus itu sendiri. Maka dari itu Mina telah menjadi tumbal dari jurusnya sendiri sehingga membuat Narto tumbuh menjadi anak yatim-piatu.

12 tahun telah berlalu dan Narto tumbuh menjadi ABG yang cukup labil, di sekolah dia selalu jahil sehingga sering dipanggil guru BK karena kenakalannya tersebut. Narto sering membroadcast berita-berita hoax lewat socmed, menyebarkan kebencian, menistakan kepala desa, hingga menjadi pengikut komunis yang sangat dibenci warga. Namun berhubung Narto anak yatim piatu akhirnya dia selalu lolos dari hukuman.

Narto selalu merasa dianggap sebagai anak aneh oleh teman-temannya karena ada monster rubah di dalam dirinya. Dia jarang beribadah, suka main petasan, menipu temannya dengan jurus menggandakan dirinya menjadi banyak. Jurus duplikat dia pelajari sewaktu berguru pada Kanjeng Dimas Taat Pribadi. Sayangnya gurunya terlena oleh kenikmatan sesaat dan lebih memilih menggandakan hepeng ketimbang menyelamatkan dunia.

Kesimpulan dari cerita Narto tersebut, janganlah mudah terperdaya oleh manga Jepang yang berjudul Naruto itu, karena sebenarnya cerita tersebut adalah cerita asli Indonesia dari tanah Jawa yang berjudul Narto, namun karena kelicikkan Jepang mereka telah memutarbalikkan fakta maka kita semua tertipu. Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah, kawan-kawan. Jepang telah menjajah kita selama 3,5 tahun dengan sangat keji. Mereka ternyata juga telah mencuri ide asli cerita bangsa kita. Jangan sampai akidah kita menjadi dangkal, saudara-saudara. #Nasionalisme harga mati! #SayNoToNaruto! #AksiBelaNarto

Lalu bagaimana kelanjutan kisahnya? Mari kita selamatkan budaya asli kita sendiri dengan cara rajin beribadah, membaca buku sejarah, dan memperbanyak makan micin supaya tidak gampang dibodohi.

 
2 Comments

Posted by on 18/06/2017 in Terapi

 

How Poor We Are

FB_IMG_1466301636981FB_IMG_1466301643489FB_IMG_1466301649687FB_IMG_1466301653701FB_IMG_1466301657588FB_IMG_1466301661245FB_IMG_1466301665442

 
Leave a comment

Posted by on 14/06/2017 in Karikatur

 

Refugee

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana jika para pemimpin di dunia adalah para imigran, seorang pelarian dari negara mereka yang sedang berperang.

Jika kita melihat di media elektronik para pemimpin dunia seperti Donald Trump, Barack Obama, Angela Merkel, Putin,  Recep Tayyip Erdogan, Ahmadinejad, Kim Jong Un, dll yang seolah-olah hidup dalam dunia berbeda dibanding dengan para imigran. Padahal sebagian besar permasalahan imigran penyebabnya adalah kebijakan yang dibuat oleh para pemimpin di dunia.

Seorang seniman dari Suriah bernama Abdalla Al Omari berhasil membuat ilustrasi tersebut dengan sangat baik. Seni yang sarat akan muatan politik dan sangat berhasil mengajak para penikmatnya dalam melihat kondisi sosial yang terjadi saat ini di belahan bumi lain. Dia seolah ingin berkata dalam karya seninya mengenai balas dendam yang elegan.

Berikut beberapa hasil karya dari Abdalla Al Omari :

 

kamu bisa melihat karya lain dari Abdalla di websitenya :

http://www.abdallaomari.com

 

menurut saya pribadi, ini adalah demonstrasi atau kritik sosial yang sangat elegan, indah dan tepat sasaran. Salut untuk Abdalla…keep up the good work.

 
Leave a comment

Posted by on 27/05/2017 in Terapi

 

Judi

Singgung menyinggung soal judi, apakah boleh atau tidak? Mayoritas pasti sepakat dilarang oleh agama dan negara. Tapi aku jadi kepikiran, apa definisi judi? Lalu benarkah banyak hal dari kehidupan ini adalah sebuah perjudian?

Misalnya,

Kita hendak berjualan bakso, otomatis harus modal membuat rombong terlebih dahulu, kemudian membeli bahan-bahan seperti pentol, tahu, siomay, goreng, dll. Belum lagi seperti kompor dan gas nya sekalian. Latihan fisik supaya nanti dorong gerobak bakso tidak cepat lelah, dsb. Setelah semua beres pertanyaan berikutnya, “memang kamu yakin ada yang beli baksomu?” “Yakin baksomu akan laris dan ludes terjual?” Kalau jawabannya bisa iya ada yang beli tapi bisa juga tidak ada yang beli, bukankah itu juga sebuah perjudian?

Kamu jatuh cinta mati kepada seorang pria atau wanita, lalu kamu berusaha semaksimal mungkin menjadi kekasih atau pacarnya. Tiap hari telepon, sms, whatsapp, habisin pulsa dan kuota, rajin apel bawa makanan buat gebetan dan orangtuanya, rajin antar jemput. Setelah itu, “apakah kamu yakin gebetan kelak akan menjadi suami atau istrimu?” “Yakin akan sehidup semati hingga ajal menjemput?” Kalau jawabannya bisa iya dan bisa tidak, bukankah itu juga sebuah perjudian?

Kamu berolahraga secara rutin, rajin jogging, ke gym, bersepeda, makan makanan sehat dan bergizi. Tidur teratur, menghindari stres, rajin yoga, meditasi, dsb. Setelah itu, “apakah kamu yakin besok pagi kamu bisa bangun pagi dengan keadaan hidup?” Karena bisa saja di tengah jalan kecelakaan, dirampok, dibunuh, dll. Belum pasti kan? Bukankah itu juga sebuah perjudian?”

Kamu rajin beribadah, membaca kitab suci, beramal, membantu orang yang kesusahan, dsb. “Apakah kamu yakin akan masuk surga?” “Bagaimana ternyata kenyataannya surga itu tidak ada? Kamu berbuat kebaikan ternyata untuk memberikan kepuasan batin individu maupun secara moral. Tidaak kurang dan tidak lebih.

Begitulah…

Berjudi berharap mendapat keberuntungan.

Hidup adalah perjudian

Berjudilah; jadilah penjudi yang mampu mempecundangi nasib buruk; berusahalah sekuat tenaga; agar peluang mendapat keberuntungan semakin besar.

 

FB_IMG_1486907317043

 
Leave a comment

Posted by on 17/05/2017 in Terapi