RSS

Mahalnya Peperangan

09 Dec

“Dengan ini saya menyatakan Sidoarjo adalah ibukota Indonesia, dan akan memindahkan sebagian barang-barang saya ke kota tersebut”. btw, lah emang siapa aku kok bisa memutuskan ibukota berpindah seenak jidat? Apalagi aku bukan walikota/bupati bahkan Sidoarjo itu bukanlah kota milikku sendiri? *siapa gue!!! helloowww!!! Beberapa hari terakhir media massa main stream sibuk memberitakan soal keputusan presiden Amerika Donald Trump yang mengatakan dan mengakui bahwa ibukota Israel adalah Yerusallem, kemudian akan memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusallem. Tentunya kita bertanya-tanya memang siapa sih Donald Trump? bahkan memang siapa pula Amerika diantara hubungan konflik Israel dengan Palestina? Lah kok bisa tiba-tiba mengakui Yerusallem adalah ibukota Israel? Kan gak nyambung, cyiin. Sepertinya strategi Donald Trump dalam periode kepemimpinannya adalah menebar benih-benih peperangan. Mulai dari Irak, Korea Utara-Korea Selatan, hingga Israel. Donald Trump memang lah seorang seorang Paman Sam sejati, dia memahami betul bahwa peperangan adalah bisnis yang sangat menggiurkan dan menguntungkan bagi negaranya. Dalam konflik Korea saja, Korea Selatan bahkan rela menggelontorkan uang 540 triliun untuk membeli senjata baik senjata untuk pertahanan maupun senjata penyerangan jika suatu saat perang dengan Korea Utara sungguh terjadi. sumber : https://dunia.tempo.co/read/1040620/korea-selatan-siapkan-rp-42-miliar-untuk-lumpuhkan-kim-jong-un?utm_source=Digital%20Marketing&utm_medium=Twitter&utm_campaign=DlvrIT Data yang coba saya googling di internet, Ekspor senjata AS meningkat 27 persen antara 2005-2010 dan 2011-2015. Dari 96 negara yang menjadi konsumen senjata AS, penerima terbesar adalah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Sementara 41 persen dijual ke Timur Tengah. Asia dan Oseania menerima 40 persen dari penjualan senjata AS. Sampai akhir 2015, AS meneken berbagai kontrak besar, termasuk penjualan 611 pesawat F-35 generasi baru. Berikut urutan 7 negara-negara pengekspor senjata terbesar di dunia : 1. Amerika Serikat 2. Rusia 3. Cina 4. Perancis 5. Jerman 6. Inggris 7. Spanyol sumber : http://www.tribunnews.com/internasional/2017/04/28/selain-amerika-negara-mana-saja-yang-jadi-pemasok-senjata-terbanyak-di-dunia Dari sini kamu bisa melihat benang merah mengapa di pusaran peperangan negara manapun setidaknya hampir pasti salah satu dari 7 negara tersebut ikut meramaikan. Salah satu penopang ekonomi negara mereka adalah ekspor senjata, bung! Kalau kita Indonesia ekspor kelapa sawit, minyak (dan tentunya TKI), sedangkan mereka ekspornya senjata, bung! Ketika berbisnis senjata, orang tidak akan peduli dengan harga, berapapun harga yang ditawarkan akan dibayar selama musuh akan terbunuh dan akan lebih baik lagi jika bisa membunuh sebanyak mungkin musuh. Karena dalam peperangan hanya ada 2 pilihan, membunuh atau terbunuh, jadi harga adalah nomer sekian. Omong kosong peperangan antar agama, itu hanyalah bumbu-bumbu pemanis sambil saling gorok leher sesama manusia. Bumbu-bumbu pemanis tersebut tentunya sangat ampuh mengaburkan fakta dan skenario besar dibaliknya, yaitu penjualan senjata! Coba kita hitung secara goblok-goblokan biaya sebuah senjata. Anggap saja 1 prajurit dibekali 1 senjata AK-101/102 (senapan milik korps brimob). Kisaran harga 1 pucuk senjata sekitar usd 436 jika dikurskan ke dalam rupiah sekitar 6,5 juta belum termasuk peluru , magazen atau aksesoris tambahan. (sumber : https://transiter.wordpress.com/2011/03/20/senjata-standar-brimob-ak-101102-dan-spesifikasinya/) Untuk melatih 1 prajurit menggunakan senjata AK-101 misalnya mulai dari awal hingga mahir maka tentu saja membutuhkan latihan. Latihan menembak tentu saja menggunakan senjata tersebut dan menggunakan peluru asli. Nah kita anggap 1 prajurit berlatih hingga mahir menggunakan sekitar 2000 peluru dengan asumsi 1 peluru harganya sekitar idr 1000, maka 2000 peluru x idr 1000 = idr 2.000.000. Maka total 1 prajurit jika dibekali 1 senjata AK-101 adalah 8,5 juta (ingat, harga tersebut untuk biaya beli senjata dan peluru untuk latihan saja, belum biaya peluru untuk dipakai peperangan yang sesungguhnya). Nah, dari hitungan sekilas tadi bayangkan jika misalnya jumlah pasukan 1 brigade saja yang dibekali senjata tsb (anggap 1 brigade sekitar 5000 orang) maka 5000 orang x 8,5 juta = 42 milyar! Dari simulasi goblok-goblokan diatas yang hanya berkutat pada 1 senjata pada 1 prajurit, maka bayangkan jika senjatanya tidak hanya itu saja. Ada seragam, rompi, helm, sepatu, tas ransel, belati, granat, senapan laras pendek, dll. Bayangkan jika lebih dari itu juga, misal basoka / RPG, mobil tempur, truk angkut pasukan, tank, helikopter, pesawat tempur, drone, kapal perang, rudal jarak pendek, rudal antar benua, rudal nuklir, rudal hidrogen, bom atom, dsb. Ini tentu mainan para lelaki dengan harga yang bukan main pastinya. Jadi dari sini apakah kau mulai paham? Bahwa benih-benih peperangan sengaja disebar oleh negara-negara pengekspor senjata agar penjualan senjata makin laris. Pemilik perusahaan senjata tentu tidak akan peduli berapa jumlah mayat yang terbunuh oleh senjatanya karena peluru tidak mengenal usia, jenis kelamin, agama, suku ataupun ras, dia akan mencoba menembus apapun ketika pelatuk ditekan. Jadi siapa disini yang mudah tersulut bahwa ini soal perang agama, etnis atau apapun itu istilahnya? Yang tersulut agama misalnya, justru malah mengeksklusifkan agamanya sendiri seolah menjadi korban, justru mengkotakkan dirinya sendiri dan menjadikan agama lain adalah musuh sehingga memperbesar bibit kebencian. Peperangan adalah tragedi kemanusiaan terlepas dari agama manapun, tidak ada pihak manapun yang menang dalam peperangan yang ada hanya mayat-mayat bergelimpangan dari segala usia dan aktor dibalik itu semua yang meneguk keuntungan dari pundi-pundi uang adalah para penebar bibit peperangan, Donald Trump, misalnya. Karena kau tentunya tak akan pernah melihat Donald Trump memakai pakaian serdadu, menenteng senjata sambil ikut berperang bersama pasukannya, bukan? Banyak-banyak membaca dan analisa, bung! Jangan terpancing strategi mereka, Jangan terpancing!

Advertisements
 
5 Comments

Posted by on 09/12/2017 in Terapi

 

5 responses to “Mahalnya Peperangan

  1. zahradiian95

    09/12/2017 at 10:14

    Tulisan yg bagus. Sayangnya ga semua orang mau baca dan mau sadar dgn yg begini

     
    • nyoemhokgie

      09/12/2017 at 11:21

      Begitulah…ini masih belum data peperangan dan konflik yang ada di Afrika…

       
  2. imavandam

    09/12/2017 at 16:09

    Aku selalu nonton bbc news yah mmg trump itu seorang pembisnis jadi president yg ada dlm otaknya money money bisnis bisnis… gak jadi dtg ke UK wkwkwk krn masalah twiternya itu…

     
    • nyoemhokgie

      11/12/2017 at 12:30

      Dari dulu negeri Paman Sam memang begitu…hehehe

       
  3. kutukamus

    24/12/2017 at 00:15

    Akur sekali, Bli! ‘Bisnis senjata’ memang [bakalan terus] luar biasa bagus selama ada [ancaman] perang. Jadi bagi para produsen, menciptakan [dan memelihara] konflik itu wajib hukumnya. Sayang banyak orang masih gampang termakan isu agama, lalu tanpa sadar jadi penyokong fanatik bisnis senjata..

    Eh tapi bentar, foto-fotonya itu.. Wkwkwkwkwk!! Selalu geli kalau dengar dialognya:

    “..His whole group is here to see me today and WE WILL DO GREAT THINGS FOR THE UNITED STATES, is that correct?” (Yes)

    “Do they like me in Indonesia?” (Yes, thank you very much!)

    Coba itu, sudah njawabnya ‘Yes’ mulu, pakai ‘Thank you’ pulak! Simpatik banget, kan? (dan ambil gajinya tetep di Senayan) 😀

     

Comment Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: