RSS

Masalah Identitas Negro di Amerika Serikat

30 Apr

Beberapa hari ini aku sedang menghabiskan waktu membaca buku “Zaman Peralihan”, sebuah buku yang merangkum berbagai tulisan dari Soe Hok Gie, tokoh yang cukup terkenal di kalangan aktivis Indonesia. Buku yang sudah aku beli beberapa bulan lalu, namun baru aku baca beberapa hari terakhir karena kesibukkan lain. Sebelumnya aku sudah baca 2 buku lain karya Soe Hok Gie yaitu “Catatan Seorang Demonstran” dan “Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”. 

Banyak sekali tulisan Soe Hok Gie yang aku anggap jujur, tidak hipokrit dan berdiri diatas prinsip-prinsip yang dia pegang teguh hingga kematian menjemputnya di Gunung Semeru. Sungguh ironis jika kita melihat kondisi di Indonesia saat ini, politik identitas dan polarisasi agama dijadikan alat untuk merebut kekuasaan, dan tulisan-tulisan Soe Hok Gie yang ditulis pada tahun 60-an ternyata masih relevan hingga saat ini. Apakah ini berarti di tengah kemajuan teknologi yang sangat pesat maka sejujurnya jika dilihat secara nurani spesies manusia bisa dikatakan tidak berkembang sama sekali?

Sayang sekali Soe Hok Gie harus mati muda. Aku penasaran seandainya dia masih hidup hingga saat ini. Bagaimana pandangannya tentang Soeharto yang dia puji-puji ketika rezim Soekarno runtuh, bagaimana pendapatnya tentang kondisi perpolitikan baik dalam maupun luar negeri saat ini, bahkan aku juga penasaran bagaimana pendapatnya melihat kondisi Pecinta Alam di tengah maraknya anak muda generasi “My Trip My Adventure” beserta selfie stick dan dronenya itu.

Ada beberapa bab dari buku Zaman Peralihan yang akan aku tulis ulang di blog sebagai bahan renunganku sendiri.

Masalah Identitas Negro di Amerika

Zaman Peralihan -Soe Hok Gie-

Telah lama saya ingin menulis surat, tetapi selalu tak jadi. Dua kali saya buang ke keranjang sampah. Saya pikir terlalu kekanak-kanakan. Tetapi malam ini saya ingin sekali menulis surat dan itulah sebabnya saya menulis surat sekarang.

Saya telah empat minggu di AS, dan saya kira telah banyak yang saya ‘lihat’ dan dengar tentang AS. Ada beberapa aspek yang saya senangi–beberapa tidak. Dan ‘anehnya’ saya merasa bahwa saya lebih mengerti ‘Indonesia’ setelah saya ada di negeri yang jauh. Saya belum bisa membuat perbandingan dan saya melihat Indonesia dari perspektif yang lebih jauh. Dan nilai-nilai yang tak pernah kita sadari tiba-tiba muncul dan menjadi sesuatu yang amat berharga.

Yang paling menarik perhatian saya adalah masalah Negro di AS. Sejarahnya–usahanya untuk mengintegrasikan diri ke masyarakat AS dan frustasi-frustasi yang timbul karena soal rasa rendah diri. Telah lama ditanamkan dalam masyarakat AS bahwa black is bad, dan orang-orang Negro merasa malu bahwa mereka berkulit hitam. Mereka merasa bahwa tokoh-tokoh putih menolak mereka. Dalam frustasi dan rasa rendah diri mereka menjadi radikal, rasialis hitam, dan agresif. Orang-orang Puerto Rico tak mengalami hal ini karena jika mereka diperlakukan buruk–mereka dapat kembali ke Puerto Rico–demikian pula Mexico. Tetapi Afro-American ini tidak punya ‘tanah air’. Mereka tak mungkin kembali ke Afrika–mereka telah kehilangan ‘touch’ dengan Afrika. Mereka telah di-‘cabut’ dari bumi Afrika–mereka adalah Amerika.

Di New York saya menjadi ‘sadar’ betapa berharganya warisan kebudayaan kita. Dan rasa bangga sebagai orang Indonesia timbul karena kita merebut kemerdekaan dengan darah. Saya merasa bangga dengan sejarah AURI-ALRI yang dibangun dari NOL. Dengan segala korupsi-korupsi dan kemiskinan rakyat kita, saya merasa bahwa saya mempunyai sesuatu untuk dibawa ke dunia Internasional–rasa harga diri sebagai orang Indonesia. Saya sama sekali tidak menyadari hal ini di Indonesia. Tetapi di tengah-tengah mahasiswa lain (saya satu-satunya dari Indonesia) saya merasa bahwa kita adalah bangsa yang ‘kaya’. Saya melihat hal yang sama dengan mahasiswa-mahasiswa Kongo dan Kamerun yang saya temui. Mereka belajar teknologi di AS. “Setelah saya mengerti bagaimana caranya menjalankan mesin–saya akan pulang ke Afrika”, kata mereka. Mereka (jauh lebih buruk dari Indonesia) mempunyai sesuatu tempat mereka berpegang. Mereka kagum pada Indonesia–terutama dalam bidang bahasa dan pendidikan. Saya tidak sampai hati menceritakan keburukan Indonesia.

Dengan segala kegila-gilaannya, saya menyadari bahwa Soekarno telah turut memberikan sesuatu pada bangsa kita–identitas diri sebagai suatu bangsa. Politiknya memang gila dan korupsinya mengerikan–tetapi dia (bersama-sama dengan seangkatan dengan dia) telah menyumbangkan elemen yang terpenting untuk kita–harga diri sebagai orang Indonesia.

Orang-orang Negro AS menambah huruf X di belakang namanya, misalnya Mac Malcolm X. X berarti bahwa ada sesuatu yang hilang, yang mereka tidak ketahui yaitu identitas sebagai kelompok. Saya kira orang Negro AS adalah orang yang paling malang di dunia–Negro Afrika punya sesuatu untuk berpijak (walaupun amat sederhana)–tetapi Negro Amerika Serikat tidak punya apa-apa. Disinilah saya merasa betapa ‘kayanya’ orang Indonesia. Tidak seperti Malaysia yang pro-Inggris–tidak seperti Filipina dan Taiwan yang telah dirampok identitasnya oleh orang-orang/kebudayaan AS. Dan dari New York, saya menyadari banyak hal baik tentang Indonesia.

Di Cornell (saya tinggal seminggu di sana), Soemitro dianggap sebagai orang yang berani mendobrak lingkaran setan ekonomi Indonesia. Beberapa sarjana AS menaruh harapan besar akan usaha-usahanya dan melihat titik terang dalam kabinet Indonesia. Saya harap dia berhasil mendobrak terus kebobrokan dan jaring-jaring koruptor di bidang perdagangan. Di universitas Cornell terdapat banyak mahasiswa-mahasiswa AS/Australia yang belajar tentang Indonesia. Mereka akan banyak menentukan politik pemerintahannya terhadap Indonesia di kemudian hari. Dan saya kira amatlah perlu memberikan pada mereka gambaran dan analisis kita tentang Indonesia. Mereka adalah masa depan kita juga. Sugih Arto amat tidak populer, ia dianggap sebagai orang tolol dan penjilat. Suara-suara tentang Adam Malik (korupsi) juga saya dengar di sana. Saya menolak memberikan komentar. Saya harap suara-suara tadi tidak benar.

Kegiatan anti-Soeharto nuga besar. Baik Moskow-Peking-Tirana dan golongan Trotsky memburuk-burukkan nama Indonesia. Mereka baru saja menerbitkan Indonesia Under Fascism dan sebagai karya jurnalistik meyakinkan bahwa fakta-faktanya diputar-balikkan. Saya membawa copy dari buku ini dan sekarang mulai dimuat sebagai ‘kisah bersambung’ di publikasi-publikasi komunis internasional. Publikasi Deparlu amat jelek–statement melulu.

Saya menerima surat dari Indonesia yang menyatakan bahwa Indonesia Raya amat jelek. Pola-pola layout dan lain-lainnya ketinggalan jaman. Saya sedih sekali membaca ini. Saya kira wartawan-wartawan tua yang dipakai telah kehilangan ‘touch’ pada dunia politik Indonesia oleh karena itu kita harus kerja keras. Saya yakin bahwa kita mempunyai  tenaga-tenaga wartawan serta penulis yang baik (bahkan terbaik) untuk membantu Indonesia Raya. Sayang sekali jika tenaga-tenaga ini tidak digunakan.

Hari Minggu saya akan ke Washington, saya akan mencoba menemui orang-orang di Kedutaan Besar kita. Akhir Desember, saya akan berada di Indonesia kembali dan saya harap dapat aktif kembali awal Februari (saya ingin menempuh ujian akhir Januari).

Salam pada kawan-kawan kita. Juga untuk Dr. Soemitro kalau bertemu. Banyak mahasiswa Indonesia  (terutama pengikutnya) di AS yang menaruh harapan pada dia. Saya berjanji untuk mengirimkan laporan mingguan atau analisis situasi jika saya kembali lagi ke Indonesia.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 30/04/2017 in Terapi

 

Comment Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: