RSS

Zaman Peralihan -Soe Hok Gie-

23 Apr

Dua Sistem Moral.

Memberikan penilaian terhadap sikap seseorang bukanlah soal yang sederhana. Karena dunia bukanlah hitam dan putih. Setiap tindakan mempunyai motif-motif yang bersumber pada pandangan hidup seseorang.

Di dalam masyarakat, kita melihat ada dua sistem penilaian yang secara teoritis berbeda seratus delapan puluh derajat. Pertama, adalah mereka yang mempergunakan sistem nilai-nilai absolut. Untuk orang-orang ini penilaian dari setiap tindakan didasarkan atas pertanyaan –“apakah ini benar atau salah?” Jika salah maka kita tidak boleh melakukannya. Korupsi salah dan karena itu harus ditumpas di mana saja. Membunuh orang tanpa proses, salah, karena itu harus digugat. Mereka yang memang konsekuen terhadap sistem nilai absolut ini akan menggugat pemerintah karena menembak mati Aidit, Njoto dan lain-lain tanpa proses pengadilan. Mereka akan menggugat ABRI, karena menempati gedung-gedung bekas PKI sebelum ada keputusan hakim. Bagi mereka pertimbangan satu-satunya adalah benar dan salah dan tidak mau mempedulikan situasi.

Tetapi ada kelompok lain yang tidak memakai sistem nilai ini. Mereka mempergunakan sistem nilai-nilai relatif. Mereka sadar akan salah dan benar secara teoritis, tetapi mereka mempergunakan pertimbangan-pertimbangan realistis. Mereka lebih mementingkan kemungkinan-kemungkinan yang lebih berguna di masa depan, jika mereka bertindak sesuatu pada saat sekarang. Mereka bersedia melakukan kompromi-kompromi, karena mereka tahu bahwa hasil-hasil yang mungkin dicapai lebih besar di masa depan. Seorang komandan militer yang membebaskan mata-mata musuh yang berkhianat (karena berpikir akan formasi di masa kemudian) mempergunakan dasar-dasar nilai relatif. Secara teoritis, ia harus menembak mati setiap pengkhianat. Ia melanggar prinsip “keadilan” karena pertimbangan-pertimbangan praktis.

Kedua sistem nilai ini diperlukan dalam masyarakat. Secara teoritis pamdangan ini bertentangan. Tetapi batasnya juga amat kabur. Kita hanya bisa berkata (secara intuisi) bahwa setiap situasi dan jabatan harus dinilai secara proporsional. Seorang pastor hendaknya lebih banyak mempergunakan sistem nilai-nilai absolut (walaupun tidak mutlak-mutlakan). Ia tidak boleh berpikir bahwa demi sumbangan pada gereja, maka orang-orang miskin tidak usah dibela. Demikian pula seorang wartawan, guru, hakim, dan lain-lainnya.

Tetapi seorang perwira lapangan baiknya lebih banyak mempergunakan pertimbangan nilai-nilai relatif. Saya bisa membayangkan bagaimana kacaunya sebuah operasi militer kalau komandannya bertindak sebagai pendeta yang maha adil.

Walaupun batas-batasnya tidak jelas, dasar daripada setiap tindakan ini hendaknya selalu dialasi dengan motif- motif yang berdiri di belakangnya. Batas yang jelas tidak ada, dan penilaian terakhir diberikan oleh kata hati sendiri.

Dan setiap orang yang mempergunakan nilai-nilai relatif ini hendaknya mempunyai suatu batas, dan jika batas tadi dilanggar, ia harus berani bertindak lain. Sebab ia akan terseret oleh arus, jika ia terlalu fleksibel.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 23/04/2017 in Terapi

 

Comment Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: