RSS

​RAHWANA: Kisah Rahasia

06 Apr

Besok hari pembakaran mayatku. Aku tak tahu apakah mereka akan membakarku layaknya anjing kurap atau maharaja. Oh, tidak, bekas maharaja. Tapi itu tak penting sekarang. Aku bisa mendengar suara cabikan cakar dan taring kawanan serigala. Hewan-hewan itu sibuk memangsa teman-teman dan keluargaku. Aku merasakan ada yang berlarian di atas kakiku. Apa itu? 

Aku tak punya daya untuk menggerakkan kepala. Tikus hitam dan besar! Mereka mengambil alih medan perang setelah manusia-manusia dungu menuntaskan urusan mereka: saling membunuh. Sekarang hari perayaan mereka, seperti halnya sebelas hari terakhir ini. Bau sangat tak sedap menyengat dari daging yang membusuk, nanah, darah, kencing, dan kematian. Dari tubuh musuh dan tubuh kami. Tapi itu bukan lagi masalah. Tak ada yang penting sekarang. Aku akan pingsan segera. Rasa sakit ini amat menyiksa. Anak panahnya yang mematikan menghantam perutku. 
Aku tak takut mati. Aku telah memikirkan hal ini beberapa kali. Ribuan orang telah terbunuh dalam beberapa hari terakhir. Di suatu tempat di kedalaman laut, adikku Kumbakarna tergeletak mati, barangkali telah menjadi santapan kawanan hiu. Kemarin aku membakar mayat anakku, Meganada. Atau kemarin lusa? 
Aku tak lagi ingat waktu. Dalam banyak hal, aku telah mati rasa. Sebuah bintang yang kesepian membara di kedalaman alam semesta. Seperti mata Tuhan. Sangat mirip dengan mata ketiga Siwa, mata ketiga pemangsa segala, penghancur segala. Alengka tercinta sedang dihancurkan. Aku masih bisa melihat api yang hampir padam di tempat yang dulunya kota yang indah. Ibu kotaku, Trikota, adalah kota terbesar di dunia sebelum seorang Wanara datang dan membakarnya. Trikota terbakar berhari-hari. Lapak-lapak pedagang, rumah, istana, lelaki, wanita, dan bayi-bayi, semuanya saja terbakar. Tapi kami memperbaikinya. Hampir semua orang bergabung untuk membangun kembali Trikota. Kemudian para Wanara datang dengan majikan mereka dan menghancurkan segala-galanya. Hanoman melakukan itu pada kami. Manusia kera itu mendatangkan kematian, kehancuran, dan kekalahan bagi kami! 
Aku tak ingin lagi memikirkannya. Seharusnya aku membunuhnya ketika anakku menangkapnya. Sebaliknya, aku malah mendengarkan adikku, yang kemudian bersekongkol melawanku. Tetapi pengkhianatan bukanlah hal yang baru bagi para Asura. Aku sungguh konyol. Aku dengan bodohnya percaya bahwa aku akan selalu dicintai saudara-saudara dan rakyatku. Aku tak pernah membayangkan bahwa aku bakal dikhianati. Rasanya aku ingin tertawa, tapi tak mudah untuk tertawa ketika jeroan manusia bertebaran di sekitarku, seperti membingkaiku. 
Suara sukacita berkumandang dari kotaku, menembus gendang telingaku. Musuh merayakan kemenangannya. Wanara akan sibuk menjarah Trikota. Kuil-kuilku dijarah, lumbung, perguruan, dan rumah sakit dibakar. Begitulah cara pemenang merayakan kemenangannya. Kami telah melakukan hal seperti itu dan bahkan lebih buruk lagi di negeri bangsa Dewa, ketika takdir berpihak padaku. Kera-kera jelek itu pastilah sudah masuk ke istanaku. Aku berharap permaisuriku memilih untuk melompat dari tebing sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Aku tak bisa mengendalikan apa pun sekarang. Aku bisa merasakan napas panas kematian di wajahku. Kawanan serigala telah datang! Bagian mana dari tubuhku yang akan mereka makan terlebih dulu? Mungkin jeroanku, karena di sana darah masih bersimbah. Bagaimana jika baju zirahku membuat hewan-hewan buas itu tersedak? Aku terkekeh membayangkannya. Seekor serigala menancapkan taringnya ke pipiku, menyayatnya, dan mengambil sepotong daging dari sana. Tebakanku salah! Aku kalah taruhan. Hewan-hewan itu memulai dari wajahku, bukan jeroanku. Tikus-tikus mengkrikiti jemari kakiku. 
Aku, Rahwana, telah menempuh jalan panjang. Kini aku tak punya apa-apa lagi untuk diperjuangkan, kecuali pertarungan dengan serigala-serigala ini. Besok, akan ada iring-iringan melewati jalan. Mereka akan memancang kepalaku di ujung tombak dan mengaraknya melintasi jalan yang sama tempat aku biasa mengendarai kereta kemaharajaanku. Rakyatku akan berduyun-duyun menyaksikan tontonan itu dengan penuh kengerian dan kenikmatan menyesatkan. Aku mengenal rakyatku dengan baik. Ini akan menjadi sebuah pertunjukan besar. 
Satu hal yang tidak bisa kumengerti adalah mengapa Rama datang dan berdiri di depanku setelah aku roboh? Dia berdiri seolah-olah melimpahkan berkatnya padaku. Dia berkata pada adiknya bahwa akulah orang paling terpelajar dan seorang raja besar, orang bisa belajar seni pemerintahan dariku. Aku hampir tertawa keras. Aku telah memerintah kemaharajaanku dengan begitu baik hingga ia hancur lebur di sekelilingku. Aku bisa mencium bau sangit mayat prajuritku yang terbakar. Aku bahkan bisa merasakan tubuh dingin tak bernyawa Meganada dalam dekapanku. Aroma Trikota yang membara membekap indraku. Aku tak bisa menyelamatkan rakyatku dari dua kesatria itu dan pasukan kera mereka. Dan dia bilang aku seorang penguasa besar? Hahaha. Aku bisa menghargai lelucon itu. Aku ingin menertawai musuhku; menertawai orang-orang bodoh yang setia padaku dan yang sekarang tergeletak di sekitarku tanpa kepala, tanpa tangan, dan tanpa nyawa. Aku ingin menertawai mimpi yang penuh khayalan tentang kesetaraan bagi semua orang di kemaharajaan yang kubangun. Memang menggelikan. Tapi mati dengan tertawa bukanlah cara mati yang layak bagi seorang maharaja. Aku telah bekerja keras dan bertarung dengan bangsa Dewa. Aku ragu apakah ada tempat di surga untuk orang-orang yang meninggal karena tertawa. 
Lalu, tiba-tiba kawanan tikus dan serigala berlarian menjauh. Sebuah bayangan, lebih kelam dari malam, jatuh menimpaku. Sebuah kepala gelap dengan rambut keriting menghalangi pandanganku dari sebutir bintang kesepian. Apakah ini Kala, Penguasa Kematian, yang datang untuk merenggut nyawaku? Aku berjuang untuk membuka mata lebih lebar, tapi darah kering membuat kelopak mataku susah dibuka. Apakah ini salah satu anak buah Rama yang datang untuk menetak kepalaku dan mengambilnya sebagai piala? 
Aku ingin melihat wajahnya. Aku ingin melihat ke dalam matanya, dengan tegar tanpa berkedip pada saat-saat terakhirku. Sesuatu tentang kepala dan rambut keriting itu mengingatkanku pada masa lalu. Apakah aku mengenalnya? Dia membungkuk dan menatap wajahku. 
Ah! Ini Bhadra! Dia temanku, mungkin satu-satunya teman yang tersisa, tapi aku tak tahu apakah aku bisa menyebutnya teman. Dia pelayanku, mulanya seorang prajurit pejalan kaki, lalu tersesat di suatu tempat dalam perjalanan. Dia datang dan pergi dari hidupku, kadang-kadang hilang selama bertahun-tahun. Bhadra bisa datang ke tenda pribadiku ketika aku menjadi kepala pasukan yang lebih menyerupai gerombolan perampok pinggir jalan daripada pasukan bersenjata yang agung. Dia pun bisa datang ke ruang pribadiku ketika aku menjadi raja dari sebuah pulau kecil. Pada akhirnya, dia pun mampu datang ke kamar tidurku ketika aku memerintah Jambudwipa. Lebih dari itu, Bhadra bisa masuk ke dalam sudut-sudut gelap pikiranku, bagian yang aku sembunyikan dari saudara-saudaraku, istriku, kekasihku, rakyatku, dan bahkan dari diriku sendiri. 
Apa yang dilakukan Bhadra di sini? Tapi mengapa aku terkejut? Inilah tempat yang tepat bagi orang seperti dia yang bisa bergerak layaknya bayangan. Aku bisa mendengarnya menangis. Bhadra menjadi makhluk perasa? Dia tak pernah marah, sedih, ataupun senang. Dia bersikap seolah-olah dirinya sangat perasa sekarang, tapi aku tahu dia bukanlah makhluk perasa, dan dia sadar aku mengetahuinya. 
“Bhadra, bawa aku pergi dari sini. Bawa aku pergi ke…” 
Kekuatan meninggalkanku. Sesungguhnya, aku tak tahu apakah suaraku benar-benar meninggalkanku atau mati membisu di suatu tempat di tenggorokanku. Bhadra menggeleng. Aku kedinginan, sangat kedinginan. Hidupku telah raib dariku. Lalu Bhadra memeluk kepalaku dan membawanya ke dadanya. Aku bisa mencium bau keringatnya. Rasa sakit menembaki sekujur tubuhku dari setiap penjuru dan menyebarkan sulur-sulur beracunnya ke dalam pembuluh darahku. Aku mengerang. Bhadra meletakkanku kembali di tanah becek, yang basah oleh darah rakyatku, darah mimpi-mimpiku, dan darah hidupku. Ini semua sudah berakhir. Nestapa dan kehampaan turun menyelimutiku. 
“Hamba akan menyelesaikan pekerjaan Paduka. Jangan khawatir. Pergilah dengan tenang. Hamba akan melakukannya untuk ras kita. Cara hamba mungkin berbeda, bahkan lebih keji dibanding cara Paduka. Hamba juga seorang prajurit, tapi hamba sudah tua. Senjata membuat hamba takut sekarang. Hamba takut perang. Hamba bahkan tak sanggup menyakiti seorang anak. Namun demikian, cara hamba akan sangat mengerikan. Hamba akan membalas dendam untuk Paduka, untuk hamba sendiri, dan untuk bangsa kita yang telah dihancurkan! Rama tak akan bebas atas apa yang telah dilakukannya pada kita! Percayalah pada hamba dan pergilah dengan tenang…” 
Aku hampir tak mendengar semua ucapan Bhadra. Anehnya, aku merasa tenang dan meninggalkan diam-diam Asura berbau penguk ini, melayang kembali ke masa kecilku. Ribuan citra berseliweran di depanku. Perjuangan awalku, kepedihan akibat cinta dan perasaan ditinggalkan, perpisahan, pertarungan dan peperangan, musik dan seni, semuanya berkelebat acak-acakan di layar benakku, tak membentuk arti apa pun. Ya, hampa makna, seperti halnya kehidupan. 
Aku merasa Bhadra membungkuk menyentuh kakiku, kemudian berjalan pergi. 
“Bhadra…” Aku ingin dia membawaku ke beberapa tabib yang bisa mengembalikan jeroanku ke tempat semula, mengembalikan bola mataku yang menggelantung ke rongganya, dan, entah bagaimana caranya, meniupkan kembali kehidupan ke dalam tubuhku. Aku ingin mundur ke hutan-hutan Sahya di daratan luas ini dan memulai perang gerilya seperti yang dilakukan Mahabali bertahun-tahun lalu. Aku ingin memulai lagi. Aku ingin mengulangi kesalahan yang sama, mencintai orang yang sama, melawan musuh yang sama, bersahabat dengan teman-teman yang sama, menikah dengan istri yang sama, dan menjadi ayah dari anak-anak yang sama. Aku ingin menjalani kehidupan yang sama lagi. Aku tak sudi memasuki tempat yang telah disediakan Rama di surganya untukku. Aku hanya mendamba bumiku yang indah. 
Aku tahu itu tak akan terjadi. Umurku enam puluh, bukan enam belas. Jika aku hidup, aku akan menjadi orang bermata satu, lusuh, layaknya pengemis tua di tepi jalan pinggir kuil, dengan pakaian compang-camping dan berbau tengik. Jauh dari penampilanku dulu. Aku ingin mati sekarang. Aku ingin ini berakhir. Aku ingin pergi. Biarlah Trikota yang terbakar mengurus dirinya sendiri. Biarlah para Asura bertarung dalam peperangan mereka sendiri dan terkutuk bersama bangsa Dewa. Aku hanya ingin kembali ke masa kecilku dan mengulangi lagi setiap hal yang pernah kulakukan. Lagi dan lagi…
(Kutipan dari novel RAHWANA karya Anand Neelakantan)
———————————-
Semua pasti mengenal Ramayana. Kisah memukau tentang Sri Rama, pahlawan kebajikan yang membunuh setan kegelapan bernama Rahwana. Tetapi sejarah selalu ditulis para pemenang. Suara yang kalah tersuruk di kesunyian. Bagaimana jika Rahwana dan bangsanya mempunyai kisah yang berbeda? Mungkin sudah tiba saatnya bagi yang kalah untuk berbicara. Dan inilah Rahwanayana, kisah tersembunyi tentang Rahwana dan bangsanya: Asura. Sebuah kisah yang dimuliakan kaum tertindas di Jambudwipa ribuan tahun lamanya.

.

“Upaya ambisius untuk mengisahkan kembali Ramayana dari sudut pandang pihak yang kalah.” (The Hindu)

.

“Peristiwa-peristiwa dalam Ramayana ditata ulang dengan cara yang menakjubkan dan masuk akal.” (Afternoon Voice)

.

“Presentasi luar biasa tentang konflik antara bangsa Asura dan bangsa Dewa.” (Trinity Mirror)

.

Harga Rp99 ribu (Harga asli Rp124 ribu). Tebal 632 halaman, soft cover 700 gram, 14 x 21 cm. Novel sejarah ini baru tersedia di toko buku mulai 25 April 2017.

.

CARA PEMESANAN: Tulis nama, alamat lengkap, nomor HP, dan nama buku yang dipesan melalui SMS/WA ke: 081287654445.
Copas dari FB Shalahuddin Gh

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 06/04/2017 in Terapi

 

Comment Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: