RSS

Malam Menyimak Munir

27 Sep

Kawan-kawan semua disini adakah yang mengenal alm. Munir? Apa yang ada di benak kawan-kawan ketika mendengar nama Munir? Aktivis? Pejuang HAM? Mati karena diracun sewaktu di pesawat terbang? Atau ada yang lain? Pertanyaan-pertanyaan dan rasa penasaran ini lah yang mendorong saya untuk mengikuti acara “Malam Menyimak Munir” yang digelar pada tanggal 10 September 2016 pukul 19.00 WIB kemarin yang bertempat di Balai Pemuda Surabaya. Setelah acara tersebut berakhir menginspirasi saya untuk mencoba menuliskan reportasenya ke dalam blog.

Malam Menyimak Munir

oleh : I Nyoman Sunartha, 11 September 2016 (late post)

Beberapa hari sebelum mengikut acara tersebut aku membaca timeline twitter yang lagi ramai membahas mengenai peringatan kematian Munir, seorang aktivis yang hingga saat ini masih misteri siapa pelaku utama sebagai dalangnya bahkan hingga 12 tahun telah berlalu masih saja menjadi misteri. Acara tersebut berisi diskusi dan nonton bareng film tentang almarhum Munir dan film-flm bertemakan Hak Asasi Manusia, tragedi Priok, reformasi 1998, dll.

Aku datang tepat pukul 19.00 WIB, ternyata disana sudah ramai oleh pemuda-pemudi. Sebelum masuk ke ruangan kami diberikan poster dan stiker gratis yang berisi tulisan dan pesan untuk “merawat ingatan” agar masyarakat tidak lupa bahwa ada seorang pembela kaum tertindas justru malah dibunuh secara terencana.

Begitu masuk ruangan sudah tertata ala kadarnya, tidak ada kursi yang ada hanya tikar, proyektor, screen proyektor, laptop, speaker , mic dan kursi yang ditata untuk performance band. Begitu sederhana. Aku memilih duduk bersila di tengah, tidak terlalu belakang supaya bisa mendengar lebih jelas kalau-kalau ternyata suaranya lirih dan tidak sampai terdengar di belakang.

Sambil duduk bersila aku membaca poster yang dibagikan secara cuma-cuma tadi. Narasi pengantarnya adalah sebagai berikut :

Misteri bukan hal yang asing bagi sinema. Ide yang mengilhami para pembuat film untuk bergerak mengalir dalam waktu, memilih subyek cerita, mencipta sebuah kenyataan yang hidup terproyeksi di dalam layar atau pada televisi adalah bagian dari misteri hidup itu sendiri. Dua belas tahun aktivis HAM Munir Said Thalib dibunuh, enam film dari enam sutradara akan membuat kita kembali yakin bahwa Munir tak pernah mati!

Bagi para pekerja kemanusiaan yang tak lelah mencari keadilan dan kebenaran kasus pembunuhan aktivis paling berani di era reformasi ini, misteri juga adalah kenyataan yang dihadapi. Selama 12 tahun pembunuhan Munir menjadi kabut tebal yang belum tertembus sampai saat ini. Meski Pollycarpus telah dihukum, tapi vonis itu tak mengungkap pelaku konspirasi pembunuh Munir sebenarnya.

Meskipun usaha pengungkapan pelaku telah dilakukan oleh TPF (Tim Pencari Fakta) pembunuhan Munir yang dibentuk di era Presiden SBY pada 2005 lalu, sayangnya temuan penting itu tidak pernah dipublikasikan. Presiden tidak berani mengumumkan hasil temuan TPF. Padahal jelas Keputusan Presiden (Keppres) memerintahkan untuk membuka hasil temuan ke publik.

Dua belas tahun pembunuhan Munir seperti terjebak dalam labirin transaksi politik yang mengabaikan prinsip-prinsip hak asasi manusia. Jelas sekali pemerintah seolah tersandera pada oligarki kekuasaan. Nawacita sekedar citra. Senjakala hak asasi manusia terjadi; para penjahat kemanusiaan melenggang, menyelinap, menangkis, dan bahkan terang-terangan kembali menduduki jabatan publik. Tidak pernah ada koreksi atas kejahatan masa lalunya yang berdarah.

Di tengah kondisi kehidupan politik negara kita yang surreal seperti sekarang inilah, karya film dari Riri Reza, Ratrikala Bhre, David O’shea & Lexy Rambadeta, Steve Pillar, Dandhy Dwi Laksono serta Hariwi menjadi memiliki arti penting dan layak untuk disimak lebih dekat. Melalui film yang dibuat oleh enam sutradara ini kita bisa menangkap apa sejatinya prinsip hidup Munir? Siapa Munir? Kenapa dia begitu gigih membela orang tertindas? Bagaimana latar keluarganya? Apa arti menjadi pekerja kemanusiaan? Kenapa dia dibunuh…

Dalam usaha untuk terus mengingat dan menggusur lupa, OMAH MUNIR bersama sahabat Munir memperingati 12 tahun pembunuhan Munir dalam acara “Malam Menyimak Munir, Pekan Merawat Ingatan” dengan nonton bareng 6 film 6 sutradara di 12 kota yang dihelat selama sepekan secara serentak/bersamaan. Terdapat di Jakarta, Malang, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Medan, Aceh, Papua, Ambon, Makassar, Bandung dan Lombok. Selain itu sejak tanggal 04-11 September 2016 para sahabat Munir menggelar diskusi publik, membuat pameran karya grafis, siaran pers, serta melakukan aksi tuntutan ke Presiden. Para sahabat Munir di seluruh penjuru kembali bergerak menggelar “Pekan Merawat Ingatan” sebagai wujud konkrit untuk membuat suara-suara Munir bergema. Suara tentang keberanian. Suara tentang kebenaran yang mesti tetap bergema. Tuntutan keadilan kembali lantang diteriakkan di atas bumi Indonesia.

Deskripsi singkat Film-film yang diputar antara lain :

1. Tuti Koto : A Brave Women (a film by Riri Reza)

Dokumentasi perjuangan seorang ibu dalam menelusuri keberadaan anaknya yang dihilangkan secara paksa pada tahun 1997. Kesabaran dan keberaniannya menjalani setiap proses pengungkapan kasus yang menimpa sang anak. Munir mendampingi Tuti Koto menguak tabir penculikan dan mendorong pemenuhan keadilan.

2. Bunga Dibakar (a film by Ratrikala Bhre Aditya)

Menceritakan perjalanan hidup Munir sebagai seorang suami, ayah, dan teman. Munir adalah sosok yang suka bercanda dan sangat mencintai istri dan kedua anaknya. Film ini merekonstruksi perjalanan hidup, perkembangan serta pergolakan batin Munir. Namun Munir dibunuh di era demokrasi dan keterbukaan serta harapan akan hadirnya sebuah Indonesia yang dia cita-citakan mulai berkembang.

3. Garuda’s Deadly Upgrade (film reportase David O’shea & Lexy Rambdeta)

Mengurai jejaring konspirasi apa di balik pelenyapan seorang Munir. Cerita berkembang setelah pejabat-pejabat penting di perusahaan penerbangan nasional Garuda Indonesia, ikut diperiksa oleh DPR dan kepolisian. Siapa sebenarnya Pollycarpus, sosok misterius yang oleh banyak aktivis dan jurnalis disebut-sebut sering terlihat di wilayah-wilayah konflik di Indonesia? Keganjilan-keganjilan lain juga terlihat ketika sesaat sebelum Munir berangkat kamera-kamera pemantau (CCTV) di Bandara Soekarno Hatta tiba-tiba tidak berfungsi. Apakah aparat intelijen terlibat?

4. His Story (a film by Steve Pillar Setiabudi)

Sebuah dokumentasi pengadilan tersangka pembunuhan aktivis HAM Munir, yang melibatkan Badan Intelijen Negara dan Garuda Indonesia. Terdakwa Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot senior Garuda yang sedang tidak bertugas pada saat kejadian, dan diketahui mengajak Munir bertukar kelas di pesawat yang mereka tumpangi.

5. Kiri Hijau Kanan Merah (a film by Dandhy Dwi Laksono)

Bagaimana Munir mempunyai keberanian? Bagaimana masa-masa kecilnya? Dihimpun dari sejumlah tokoh, sahabat, dan keluarga, pergulatan Munir disajikan dalam film ini. Pergeseran ideologi yang terjadi dipotret dan dituangkan dalam sejumlah advokasi yang Munir lakukan.

6. Cerita Tentang Cak Munir (a film by Hariwi)

Adalah film dokumenter biografi yang merangkum kesaksian orang-orang terdekat Munir Said Thalib tentang interaksinya dan bagaimana hubungan diantara mereka terbangun dan saling mempengaruhi satu sama lain. Munir Said Thalib adalah aktivis Hak Asasi Manusia kelahiran Malang, 08 Desember 1965. Selama hidupnya Ia telah banyak mengadvokasi banyak kasus perburuhan dan kasus pelanggaran hak asasi manusia berat.

Setelah aku membaca poster tersebut aku pun menoleh ke belakang, wuikkk…ternyata yang datang cukup banyak. Aku sepintas berpikir bahwa ternyata setidaknya masih ada orang-orang waras yang peduli akan orang-orang tertindas di Surabaya ini. Aku sudah lupa kapan terakhir aku melihat pria-pria gondrong berkumpul (cenderung kumal, perokok) dan berdiskusi soal sosial dan kemanusiaan, karena semakin lama aku terlalu sering bertemu pria-pria metroseksual, rambut dan berpenampilan rapi, atau anak-anak muda yang kekinian. Fyuhhh…sepertinya aku merindukan masa-masa lalu.

Sebelum film diputar, diberikan kata sambutan dari Kontras Surabaya (lupa gak nanya nama dan posisinya di Kontras sebagai apa, hehehe) mengenai mengapa acara tersebut diadakan, rangkaian acara, dsb. Setelah itu kemudian dilanjutkan oleh penampilan band bernama Mr. Jack (semoga tidak salah, heuheuheu), 2 orang personil, 1 wanita dan 1 pria. Mereka menyanyikan lagu-lagu yang berlirikkan perjuangan serta lagu berjudul Genjer-Genjer yang notabene dilarang dinyanyikan ketika rezim Soeharto berkuasa.

Begitu Mr. Jack selesai tampil dan diberikan applaus oleh penonton selang berapa lama lampu dipadamkan dan kemudian kami semua menyaksikan film-film yang diputar. 2 film diputar terlebih dahulu kemudian diselingi oleh diskusi.

Dalam sesi diskusi yang menjadi pembicara adalah :

  1. Kawan Munir yang berasal dari GMKI serta menjabat wakil sekretaris Dewan Kesenian Surabaya (lupa gak nyatat nama lagi, baahh, aku memang tidak berbakat menjadi wartawan)
  2. Kawan Munir semasa kuliah serta mantan anggota DPR
  3. Koordinator Kontras Surabaya

Diskusi berlangsung sangat menarik, beberapa yang saya catat bahkan menjadi semacam “quote” untuk diri sendiri, contohnya :

“Tidak perlu belajar Das Kapital nya Karl Marx yang sangat tebal itu untuk mengetahui bahwa ada penindasan pada kaum Marjinal”

“Seaktivis-aktivisnya dirimu, masak tidak ada waktu untuk Tuhan?”

beeugghh…kalimat tersebut serasa luka menganga yang disiram air cuka. pedih…

Kemudian ada cerita menarik juga mengenai perjalan hidup Cak Munir yang diceritakan kembali oleh kawan Munir yang berasal dari GMKI ketika Cak Munir mendampingi dan membimbing para buruh.

Suatu ketika Cak Munir bertanya kepada para buruh, “Kalian semua ini ngapain sih melakukan demonstrasi?” semua ditanyai satu-persatu tapi tidak ada jawaban  yang memuaskan.

Lalu Munir menyuruh semua buruh masing-masing menuliskan diatas selembar kertas alasan pribadi mereka melakukan demonstrasi. Dan ternyataa…jawaban-jawaban mereka sangat lucu dan polos.

Ada yang menulis, “Nek aku gak melok demo, engko aku disiwak karo konco-konco liyane” (kalau aku tidak ikut demo, nanti aku dimusuhi sama teman-teman lainnya)

“Jare koncoku, kudune gajiku iku mundak. Nang luar negeri ae gajine akeh, lah kok nang kene kok digaji rendah?”

Sungguh ironis bukan? Ternyata banyak dari para buruh tidak paham akan hak serta kewajiban mereka sendiri di suatu perusahaan sehingga banyak dari masyarakat umum yang tidak bersimpatik malah justru memberikan kesan negatif ketika buruh melakukan demonstrasi. Yang bikin macetlah, yang arogan nutup jalanlah, yang demonstrasi tapi kok dangdutan lah, yang demonstrasi tapi naik motor ninja lah, dsb.

Dari situlah Cak Munir sering melakukan edukasi kepada para buruh mengenai hak dan kewajiban mereka sehingga perusahaan tidak bisa sewenang-wenang mempermainkan buruh.

fyuuhhh..mendengarkan sejarah dan perjuangan cak Munir membuat saya introspeksi diri. Bahwa seseorang yang mempunyai niat mulia kenapa justru dibunuh? di mana nurani para pembunuh tersebut sebagai manusia?

Kemudian aku membandingkannya dengan diri sendiri, apa yang telah aku lakukan untuk membantu sesama? Jika aku memutuskan untuk menjadi aktivis kemanusiaan seperti Cak Munir, apakah aku siap? siap dengan ancaman teror, kiriman paket bom, ancaman pembunuhan baik diri sendiri maupun keluarga? apakah aku siap?

Lalu bagaimana dengan pemuda-pemudi lain yang juga memiliki empati terhadap kemanusiaan? sanggupkah mereka melawan konflik pada sekeliling dunia mereka sendiri? seperti pertanyaan, “kapan lulus?” “berapa IPKmu?” “setelah lulus bekerja di mana?” “gak usah sok-sokan jadi aktivis, kuliah aja belum bener” “gak usah jadi aktivis, nyawamu bisa terancam, bapak dan ibu khawatir”

Lalu bagaimana mungkin di era Jokowi justru nama-nama seperti Hendropriyono, Prabowo, Wiranto, Tim Mawar masih eksis dan berada di lingkaran kekuasaan politik? padahal mereka masih terkait pada kasus HAM.

Well, sepanjang perjalanan pulang cuman merenung kalaupun aku mati diracun arsenik, sianida atau potas sekalipun sepertinya tidak akan ada yang peduli, wong Cak Munir aja 12 tahun belum tuntas, apalagi aku yang hanya butiran peyek di lautan pecel ini.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 27/09/2016 in Terapi

 

Comment Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: