RSS

Tentara Takut Buku, Bukan Peluru

23 Aug

Ternyata “tentara” takut pada buku ketimbang peluru

Turun bergeruduk dari truk di malam kelabu

Bersepatu lars bersenjata lengkap perintah komandan

Porak poranda dan bogem mentah siapa saja yang tak mau menyerah membuyarkan komunitas kecil perpustakaan di pinggir jalanan.

Rupanya mereka takut sekali pada buku. Takut topeng terlepas dari wajah aslinya. Hahaha.

Terkadang di malam purnama mereka bisa berubah menjadi monster anjing penjaga pengusaha dan berbagai jenis monster ceperan lainnya.

Menjaga tanah rampasan tuan-tuan kapitalis, misalnya.

Apakah “tentara” tak pernah membaca buku? Jika tidak, pantas saja mereka bicara dengan bahasa bentakan, bogeman dan kokangan.

Mereka takut pada buku, karena buku adalah “ibu”
Yang dalam rahimnya mengandung benih-benih kata dan akan melahirkan bayi pembangkang.

Pembangkang pada fasisme dan ketidakadilan

Generasi pembangkang tak akan mati karena bogeman dan kokangan, mereka justru berlipat ganda.

Jika kalian adalah bayi generasi pembangkang, jaga baik-baik “ibu” kalian. Buku.

Jangan sampai direnggut monster fasisme jahanam.

Nyalakan pelita bagi pembangkang lainnya, berlipat ganda-lah

Salam pembangkangan!

Advertisements
 
11 Comments

Posted by on 23/08/2016 in Terapi

 

11 responses to “Tentara Takut Buku, Bukan Peluru

  1. idanursilawati

    23/08/2016 at 08:10

    Oh ya? Tentara yg mana ya

     
    • ainulharits

      23/08/2016 at 15:52

      Yayangmu takut buku to bu guru

       
      • idanursilawati

        23/08/2016 at 16:37

        Gak tuh, pak tentara ku bahkan punya perpustakaan mini dirumah. Gak takut buku sama sekali

         
      • ainulharits

        23/08/2016 at 17:06

        Ga takut buku dan peluru

         
    • nyoemhokgie

      23/08/2016 at 21:58

      wow..sabar dulu, Bu Guru. Jangan tersinggung. πŸ™‚
      tulisan saya adalah kritikan terhadap institusi dan oknum, bukan pada pribadi. apalagi menyinggung suami Bu Guru. saya tidak men”generalisir” semua profesi, itu kenapa saya beri tanda petik ketika menulis tentara.
      sudah baca berita terakhir mengenai pembubaran perpustakaan jalanan di kota Bandung?
      bisa di cek di facebook mereka “perpustakaan jalanan” beserta kronologis peristiwa tersebut.
      atau bisa cek di hashtag #tebarvirusliterasi
      toh kalaupun Bu Guru tersinggung dengan tulisan saya, saya mohon maaf. tapi juga adalah hak bagi saya untuk bebas menulis pendapat di negara demokrasi ini. πŸ™‚

       
      • idanursilawati

        24/08/2016 at 04:37

        Kan saya juga gak bilang tersinggung. Hanya bertanya tentara yang mana. Itu memang hak anda, dijamin dalam pasal 28 UUD 1945.

         
  2. cinta1668

    23/08/2016 at 12:05

    kbnyakan sebuah revolusi berasal dari tangan2 tajam penulis..
    Jadi kita harus bangga dunk krn bs menulis di blog setidaknya, hihi ^__^

     
    • nyoemhokgie

      23/08/2016 at 22:00

      terima kasih atas apresiasinya…:)

       
      • cinta1668

        23/08/2016 at 22:01

        Sma2 Nyom2 😊

         
  3. ainulharits

    23/08/2016 at 15:51

    gagal paham aku..

     
    • nyoemhokgie

      23/08/2016 at 22:03

      terima kasih..:)
      sekedar informasi, begini kronologis peristiwa yang menginspirasi tulisan yg saya posting (saya kutip dari facebook komunitas Perpustakaan Jalanan sebagai korban) :
      Release Terhadap kekerasan TNI di Bandung dalam upaya penertiban aktivitas di ruang publik.
      Pada Sabtu tanggal 20 Agustus 2016 kolektif Perpustakaan Jalanan melakukan kegiatan seperti biasanya yaitu menggelar lapak baca buku gratis di taman Cikapayang Dago, Bandung. Kegiatan melapak buku berjalan seperti biasanya sampai pukul 23.00 ketika datang 2 truk TNI , 1 mobil polisi militer, mobil preman, dan sepeda motor. Kurang lebih membawa 50 personil. Merek membawa senjata api dan pentungan rotan.
      Turun dari kendaraan mereka membubarkan kerumunan orang di sekitar Taman Cikapayang sambil berteriak dan membentak-bentak dengan kasar β€œbubar.. ,bubar…”
      Dalam pembubaran itu, salah seorang aparat TNI tanpa sebab yang jelas memukuli tiga orang kawan dari Perpustakaan Jalanan. Bagi kami pemukulan tersebut adalah tindakan brutal tanpa alasan yang harus dikutuk.
      Pembubaran terhadap kegiatan masyarakat biasa bukan hanya kali ini saja terjadi. Pada beberapa minggu terakhir TNI berkali-kali melakukan pembubaran serupa. Maka dengan ini kami menolak dan mengutuk perlakuan intimidatif dan represif yang dilakukan oleh TNI. Tindakan demikian akan mengancam kehidupan sipil. Perlu pula digarisbawahi bahwa TNI sama sekali tidak berwenang melakukan penertiban kegiatan masyarakat sipil.
      Dengan ini, kami, kolektif Perpustakaan Jalanan Bandung menyatakan:
      (1) Mengutuk perlakuan yang dilakukan oleh TNI di bandung dalam penertiban yang memakai cara cara intimidatif dan kekerasan.
      (2) Menolak TNI kembali masuk dalam kehidupan sipil.
      (3) Stop sweeping serta penertiban oleh TNI.

      Semua orang harus tau apa yang kita lakukan selama ini πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚
      Ada banyak yang kemudian mempertanyakan mengenai mengapa kami membuka lapak di malam hari. Kami hanyalah sekelompok pemuda sebagaimana kawan2 semua. Sehari-hari kami bekerja,sehingga waktu luang yang kami miliki hanya di akhir pekan. Akhir pekan adalah ‘hari raya’ kecil bagi para pekerja. Hari dimana kawan dan sahabat bersua, sekadar melepas rindu dan berbagi cerita penuh kehangatan.
      Kami memilih taman Cikapayang Dago juga bukan tanpa alasan. Selain menjadi melting pot bagi banyak kalangan yang singgah atau sekadar melintas di Bandung, taman ini juga memiliki penerangan paling baik dibandingkan dengan taman-taman yang lain. Taman ini adalah representasi kota, dimana semua berada disana. Pedagang kaki lima, pejalan kaki yang melepas lelah, pemuda yang berolah raga ringan, klub motor yang berbagi pengalaman, dan lain sebagainya. Sebuah cerminan nyata atas kota yang tangguh mendapuk diri sebagai kota kreatif.
      Siapapun berhak singgah di lapak kusam kami. Siapapun, tanpa kecuali. Kami ingat betul, mulai dari anak kecil, mahasiswa, wisatawan hingga pedagang asongan. Kami menyediakan segalanya, walaupun ala kadarnya. Mulai komik untuk anak kecil hingga buku panduan bermain game. Dari rumitnya seri dasar-dasar akuntansi hingga cerahnya majalah Sabili.
      Perpustakaan kami memang kecil, namun hasrat kami tak terukur. Koleksi buku kami memang terbatas, namun ketulusan kami tanpa batas. Tulus. Ikhlas. Tanpa kedua hal tersebut, mustahil kami mampu bertahan menjaga bottom-up inisiative ini hingga enam tahun lamanya.

       

Comment Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: