RSS

Bahagia part 2

30 Jul

Percakapan 1

“Cita-citamu nanti ingin jadi apa?”

“Jadi artis, tante”

“Kenapa kok ingin jadi artis?”

“Kan enak, tante. Bisa terkenal dan banyak uang?”

“Kalau nanti sudah jadi artis lalu mau ngapain?”

“Buka usaha, tante”

“Usaha apa?”

“Usaha apa saja asal sukses”

“Setelah sukses lalu mau ngapain lagi?”

“Nggg….”

Percakapan 2

“Cita-citamu nanti ingin jadi apa?”

“Jadi dokter, tante”

“Memang kenapa kok ingin jadi dokter?”

“Supaya bisa menyembuhkan orang sakit, tante”

“Kalau nanti sudah jadi dokter dan bisa menyembuhkan orang sakit lalu mau ngapain lagi?”

“Nggg…”

Percakapan 3

“Cita-citamu nanti ingin jadi apa?”

“Jadi arsitek, tante”

“Mengapa kok ingin jadi arsitek”

“Aku ingin bisa mendesain bangunan yang hebat-hebat”

“Kalau nanti sudah jadi arsitek dan bisa mendesain bangunan yang hebat-hebat lalu mau ngapain lagi?”

“Nggg…”

Percakapan 4

“Cita-citamu nanti ingin jadi apa?”

“Jadi astronot, tante”

“Kenapa kok ingin jadi astronot?”

“Supaya bisa ke luar angkasa, tante”

“Setelah ke luar angkasa lalu mau ngapain lagi?”

“Bisa menemukan planet atau bintang lain, tante”

“Kalau sudah menemukan planet atau bintang lain lalu mau ngapain lagi?”

“Nggg…”

Percakapan 5

“Cita-citamu nanti ingin jadi apa?”

“Menjadi seorang agamawan, tante”

“Kenapa kok ingin menjadi seorang agamawan?”

“Supaya bisa memberikan contoh baik serta masuk surga, tante”

“Kalau nanti sudah bisa memberikan contoh baik serta masuk surga lalu mau ngapain lagi?”

“Ngggg….”

Sebut saja semua keinginanmu. Apapun itu. Lalu cobalah berdialog dan bertanya pada diri sendiri seperti dialog diatas, “setelah ini tercapai lalu mau ngapain? Setelah itu mau ngapain lagi?” Begitu seterusnya. Maka akan ada 1 titik henti dimana tak ada jawaban lain selain kebingungan atas pertanyaan “sebenarnya apa sih yang aku inginkan di dunia ini?”

Padahal keinginan manusia itu sederhana. Mereka ingin bahagia. Sudah itu saja, titik. Namun kebanyakan mereka melekatkan kebahagiaan pada yang ada di luar diri. “Aku tidak akan bahagia kalau tidak menjadi ini itu, aku tidak akan bahagia kalau tidak memiliki ini itu, aku tidak akan bahagia kalau tidak kaya raya, aku tidak akan bahagia kalau tidak memiliki jabatan, dsb” sehingga akhirnya kata “bahagia” memiliki definisi yang relatif dan rumit.

Bagaimana jika definisi “bahagia” adalah soal keputusan dalam diri kita sendiri. Ketika saat ini dan detik ini kita memutuskan untuk bahagia maka secara otomatis kita akan bahagia apapun kondisi kita saat ini. Bukankah masyarakat miskin tersenyum dan tertawa lebih banyak dibanding orang-orang kaya? Dan masih banyak contoh yang lainnya.

Jika kita memutuskan detik ini untuk bahagia dan tidak membiarkan lingkungan sekitar mempengaruhi kebahagiaanmu, maka di saat itulah urusanmu dengan dunia dan tetek bengeknya telah selesai.

Putuskanlah untuk bahagia lalu menarilah bersama semesta. Selamat Berbahagia.

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on 30/07/2016 in Terapi

 

One response to “Bahagia part 2

  1. imavandam

    31/07/2016 at 03:38

    Aku bahagia 😍

     

Comment Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: