RSS

Pak Penjual Tahu Tek

07 Jun

Jadi ceritanya meskipun sudah makan sore, ternyata perutku masih lapar di pukul 9 malam. Untunglah di saat yang sama penjual tahu tek lewat depan rumah. Maka aku panggillah itu penjual tahu tek, dan seperti biasanya aku menyerahkan uang ke ibuku bukan ke penjualnya karena memang biasanya selalu ibuku yang menemui penjual sedangkan aku yang bagian bekerja dan mencari uang. Heuheuheu.
Ibuku punya sifat yang menurutku unik, yaitu sifat “humble” apalagi pada sesama “wong cilik”. Wkwkwk. Jadi kalau ketemu sesama wong cilik entah kenapa sifat humble ibuku muncul lalu mereka diajak ngobrol ngalor-ngidul kesana-kemari. Kalau bukan wong cilik entah kenapa ibuku selalu menghindar atau cenderung pasif dalam obrolan.

Jadi singkat cerita mereka berdua ngobrol ngalor-ngidul, dari dalam rumah sayup-sayup kudengar pembicaraan mereka. Sayang aku cuman mendengar di tengah-tengah tema pembicaraan mereka. Ringkasnya seperti ini (aku terjemahkan dalam bahasa Indonesia karena sejatinya mereka ngobrol pakai bahasa Jawa Alus) :

Penjual tahu tek : “iya bu, tadi habis sholat Taraweh, saya takut jualannya terlalu larut malam”
Ibu : “loh, kenapa emang kalo jualan terlalu larut malam?”
P : “iya bu, karena kalau lewat jam 10 malam gerbang perumahannya sudah ditutup semua, nanti dimarahi satpam. Apalagi barusan ada rumah sebelah sana kemalingan”
I : “owalah, iya juga ya pak. Lah tadi mas-nya berangkat keliling jualan jam berapa?”
P : “jam 6 sore, bu”
I : “wah, berarti keliling jualan di perumahan cuman 4 jam ya pak?”
P : “ya begitulah bu”
I : “lah kalau cuman 4 jam apa dagangan bisa habis?”
P : “ya disyukuri saja bu habis atau engga, yang penting berusaha”

Well said pak penjual tahu tek.
Gara-gara mendengar pembicaraan tadi, teori kapitalisme yang aku pelajari secuil ini mulai muncul. Dari perbincangan tadi aku semakin yakin banyak dari masyarakat bangga makan di restoran mahal padahal pemilik restorannya sudah cukup kaya. Kita justru membuat orang yang relatif sudah kaya menjadi semakin kaya. Kita justru membantu mereka liburan ke eropa, membeli mobil yang kelima, dan lain sebagainya.
Namun di satu sisi, orang yang berjualan demi membiayai keluarga malah kita persulit, kita diskriminasi dan kita pandang sebelah mata.

Kalau kita belanja di supermarket tidak pakai menawar meskipun mahal, tapi kalau belanja di pasar tradisional menawar harga serendah mungkin.

Heloo…kita bahkan secara tidak sadar bersikap tidak adil kepada saudara kita yang sedang berjuang menafkahi keluarga. Berjuang untuk membiayai sekolah anak-anak mereka. Impian mereka sederhana. Apa salahnya kalau kita membeli dan menghargai perjuangan mereka ketimbang bangga membeli produk yang pemiliknya berfoya diatas penderitaan pekerja.

Teruslah berjuang pak penjual tahu tek. Tuhan bersama orang-orang yang berusaha.

Selamat makan. Aku tak makan tahu tek dulu…:)

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on 07/06/2016 in Terapi

 

2 responses to “Pak Penjual Tahu Tek

  1. Suci Su

    08/06/2016 at 04:35

    Iya juga ya.. yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin..
    Selamat makan tahu tek lah..

     
    • nyoemhokgie

      09/06/2016 at 01:17

      Nah itu lirik lagunya Rhoma Irama…:)

       

Comment Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: