RSS

Dua Tahun

26 May

Oleh : Rusdi Mathari

DUA TAHUN. Anak itu sudah berusia dua tahun tiga bulan sekarang. Anak yang lincah. Bisa berlarian ke sana ke sini. Bisa mengoceh. Bisa memanggil papa dan mama. Kulitnya setengah gelap. Sawo matang. Dan matanya. Aku mengenal mata itu. Mata yang bening dan tajam. Berbinar.

Setiap dua minggu sekali, anak itu akan dibawa ke rumah keluarga Mas Bobby. Mengunjungi kakek neneknya. Menemui om dan tantenya. Dia cucu pertama. Ponakan pertama. Mereka semua menyayangi anak itu. Memanjakannya.

Untuk setiap dua minggu sekali yang lainnya, anak itu akan dibawa ke rumah keluarga ibunya. Mengunjungi kakek neneknya. Menemui om dan tantenya. Dia cucu pertama. Ponakan pertama. Mereka semua menyayanginya. Memanjakannya.

Anak perempuan itu aku jumpai di rumah keluarga Mas Bobby kemarin sore. Sebuah sore yang indah. Perjumpaan yang  tidak disengaja. Aku datang ke rumah keluar Mas Bobby karena diajak oleh Mas Bobby dan Cempaka, istri Mas Bobby. Kami bertemu di sebuah pusat perbelanjaan lalu sampailah aku di rumah itu. Bersalaman dengan papa mamanya dan menjumpai anak itu. Anak Mas Bobby dan Cempaka.

Dulu, hampir setiap minggu aku bermain ke rumah itu. Mengenal dengan baik setiap ruangannya. Mengenal dengan baik mama dan papa Mas Bobby. Mengenal adik-adiknya. Aku pacar Mas Bobby saat itu. Pacarku sejak kami berkuliah di kampus yang sama. Kami bercita-cita yang sama. Cita-cita yang sederhana: bekerja setelah lulus kuliah, menikah, punya anak.

Lalu Mas Bobby benar-benar punya anak. Seorang anak yang bukan darah dagingku, dan bukan darah daging Mas Bobby. Dia anak kandung Cempaka, istri Mas Bobby. Kawan kami semasa kuliah. Seorang kawan yang kami, teman-temannya di kampus, mengenalnya sebagai perempuan bermata bening dan tajam. Berbinar.

Anak perawan yang pintar. Anak sulung dari pasangan guru yang sederhana. Anak perempuan yang diharapkan menjadi sarjana pertama di keluarganya, hingga petaka itu datang menghampiri Cempaka. Menghampiri kami. Mengubah cita-cita Cempaka. Mengubah cita-citaku dan Mas Bobby. Mengubah cita-cita kami semua.

Kami sibuk menyelesaikan skripsi saat itu. Tugas akhir mahasiswa sastra. Wisuda hanya tinggal setengah tahun lagi. Aku dan Mas Bobby mengerjakannya siang malam. Mencari data. Mengejar sumber. Menemui dosen. Dan ditengah-tengah kesibukan kami, sampailah kabar itu pada kami: Cempaka hamil.

Semula, kami menganggap kehamilan Cempaka sebagai peristiwa yang biasa-biasa saja. Tidak istimewa. Setiap tahun banyak mahasiswa di kampus kami yang hamil oleh teman-teman kami juga. Mahasiswa di kampus yang sama. Tapi Cempaka…

Dia hamil bukan oleh mahasiswa di kampus kami. Dia bahkan tak punya pacar. Hanya seorang mahasiswa yang lugu. Seorang mahasiswa dengan mata bening dan tajam. Berbinar. Anak pasangan guru yang sederhana.

Belakangan, belakangan sekali, kami tahu, Cempaka hamil karena perbuatan seorang penyair. Seorang penyair dengan nama mentereng dan dia bukan pacar Cempaka. Hanya seorang kenalan setelah beberapa kali penyair itu berkhotbah di kampus kami tentang adiluhungnya para penyair. Mereka dan karya mereka bisa mengubah peradaban manusia. Kami, para mahasiswa sastra, saat itu terkesima mendengar khotbahnya. Terpukau dengan uraiannya. Sungguh mulia para penyair. Mereka manusia yang dipilih oleh Tuhan. Mungkin untuk menggantikan para orang saleh dan para nabi.

Beberapa kali penyair itu membacakan puisi atau sajaknya di depan kami para mahasiswa sastra yang berharap juga bisa mengubah peradaban manusia dengan kata-kata indah. Sembari memegang beberapa lembar kertas, dia akan melompat ke depan. Berbalik ke belakang. Suaranya parau. Agak bulat. Kami terpukau dengan puisinya. Terkesima dengan gayanya. Sungguh indah sajaknya. Sungguh sedap suaranya didengar. Sungguh mulia para penyair.

Kepada penyair dengan nama besar itulah, Cempaka, mahasiswa yang  lugu dan bermata bening, meminta nasihat tentang skripsinya. Meminta pendapat. Cempaka tak mau skripsinya mendapat nilai buruk, dan penyair itu dengan senang hati menerima Cempaka sembari menyiapkan perangkap.

Mula-mula Cempaka diminta datang ke tempatnya selalu membaca sajak atau puisi. Dibacakannya dua atau tiga larik puisi di depan Cempaka. Dipuji-pujilah Cempaka. Anak perawan bermata bening dan tajam. Berninar. Cempaka menari di langit. Sampai di awang-awang. Usianya saat itu belum genap 20 tahun.

Tak cukup membaca sajak di tempat sastrawan itu biasa berkesenian, si penyair meminta Cempaka datang ke rumah kontrakannya. Di sebuah kamar dengan kasur bau apek. Dibacakannya kembali dua atau tiga larik puisi. Dipuji-pujilah Cempaka. Anak perawan bermata bening dan tajam. Berninar. Cempaka menari di langit. Sampai di awang-awang. Usianya saat itu belum genap 20 tahun.

Di kamarnya dengan kasur bau apek itu, si penyair tidak membahas skripsi Cempaka. Dia mengajari Cempaka mengubah peradaban manusia, khotbah yang pernah disampaikannya di kampus Cempaka: menindih anak perawan. Cempaka terkesiap. Berusaha memberontak tapi tubuhnya terlalu mungil. Ringkih. Tepisan tangannya terlalu lemah menghentikan deru nafas berahi si penyair yang berbadan sungguh besar, yang dengan paksa membuka celana Cempaka.

Cempaka merintih. Penyair itu menyeringai. Dia merasa telah benar-benar mengajari Cempaka cara mengubah peradaban manusia: menindih anak perawan. Dengan paksaan. Dengan relasi kuasa nama besar seorang penyair. Namanya.

Dan di kontrakan yang sama, di kamar yang sama, di kasur apek yang sama, dengan modus yang sama, Cempaka terus disihir tak berdaya. Menjadi tawanan. Delapan kali dia ditindih. Delapan kali dibuat tidak berkutik. Delapan kali dibuat tidak punya pilihan. Penyair itu telah mengajarinya cara lain mengubah peradaban manusia: mengancam dan memaksa.

Cempaka membungkus erat ketakutannya. Skripsinya terbayang. Wajah bapak ibunya yang guru terbayang. Wajah adik-adiknya terbayang. Perasaan terkutuk menghimpitnya. Laknat. Nasib yang sungguh buruk. Nasib yang telah dimangsa oleh penyair yang pernah berkhotbah tentang adiluhungnya para penyair karena mereka dengan puisi dan sajak mereka bisa mengubah peradaban manusia. Masa depannya menjadi tawanan.

Sewaktu menstruasinya tak lagi datang pada bulan Mei, empat bulan setelah malam terkutuk di kamar kontrakan dengan kasur yang bau apek itu, Cempaka menjerit. Kepada ibu bapaknya yang guru, dia meminta ampun. Orang tuanya memeluk dan menenangkannya. Mereka menerima nasib buruk anak sulung mereka. Anak perempuan dengan mata tajam dan bening. Berbinar.

Orang tua yang sederhana itu menghubungi si penyair, meminta kata sepakat, tapi yang didapat adalah kata-kata congkak yang menghardik mereka semua. Menantang-nantang. Memburuk-burukkan Cempaka. Perempuan yang sukarela menyerahkan keperawanan. Perempuan yang rela diajari mengubah peradaban manusia. Tak ada paksaan. Dadanya ditepuk-tepuknya. Persis monyet yang hendak berkelahi karena berahi.

Cempaka tersungkur. Dia sudah tidak lagi menari di langit. Di awang-awang. Dia jatuh di tempat sampah. Sampah para bedebah. Sampah para pemangsa. Seringai si penyair sewaktu membuka paksa celananya, menari-nari di benak Cempaka. Seringai yang selalu sama. Delapan kali banyaknya. Di kontrakan yang sama. Di kamar yang sama. Di kasur apek yang sama.

Mas Bobby mengikuti semua yang terjadi pada Cempaka. Dia meminta izinku untuk mengakhiri hubungan kami dan menikahi Cempaka. Aku seperti disambar angin kencang yang membawa hawa panas saat mendengar permintaannya. Aku mencintai Mas Bobby, Mas Bobby mencintaiku, tapi Mas Bobby telah memilih. Cempaka harus diselamatkan. Oleh Mas Bobby. Oleh kerelaanku kehilangan Mas Bobby. Aku perempuan. Cempaka perempuan. Kami berdua belum genap berusia 21 tahun. Perjalananan kami masih panjang, tapi nasib Cempaka sungguhlah buruk dibandingkan aku. Perempuan yang diburuk-burukkan. Perempuan yang dihina-hina oleh pemangsa. 

Dua tahun lamanya, aku tak pernah menjumpai Mas Bobby dan Cempaka, hingga kemarin sore aku datang ke rumah orang tua Mas Bobby. Melihat anak itu. Anak yang lincah. Bisa berlarian ke sana ke sini. Bisa mengoceh. Bisa memanggil papa dan mama. Kulitnya setengah gelap. Sawo matang. Dan matanya. Aku mengenal mata itu. Mata yang bening dan tajam. Berbinar.

Ya sudah dua tahun lamanya. Anak itu tak akan tahu, sudah dua tahun tiga bulan usianya. Tak akan tahu siapa bapak kandungnya. Seorang penyair yang pernah berkhotbah di kampus ibunya tentang adiluhungnya para penyair karena mereka dan sajak atau puisi mereka bisa mengubah peradaban manusia. Penyair yang selalu menyeringai karena bisa menindih anak perawan. Sekian perawan. Penyair yang pernah selalu menepuk-nepuk dada. Persis monyet yang hendak berkelahi karena berahi.

Sudah dua tahun lamanya.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 26/05/2016 in Terapi

 

Comment Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: