RSS

Tulisan Tandingan Bluebird Story The Magic of Sharing Economy

24 Mar

Nah kalau tulisan yang ini, tandingan dari tulisan yang saya posting sebelumnya. Tulisan ini aku dapat dari grup whatsapp teman-teman alumni.

#KenaliJakarta edisi #sharingwashing

Jangan menganggap praktek Uber, Grab Car, Gojek dan Grab Bike di Jakarta sebagai sharing economy apalagi ride-sharing (makin jauh kelaut lagi untuk kasus Jakarta).
Sharing economy adalah prinsip penggunaan aset yang tidak sedang digunakan, tanpa harus bergantung 100% pada utilisasi aset tersebut.
Yang namanya sharing economy juga tidak mengenal subsidi Venture Capital demi memurahkan harga hingga akhirnya mematikan saingan/kanibalisasi. Venture Capital mah jenis kapitalisme global, jauh dari prinsip kerakyatan sharing economy.
Ride sharing, gampangnya adalah, ‘kamu dan saya sama-sama mau jalan dari Grogol ke Sudirman, yuk saya numpang untuk turun di Benhil’.
100% supir taksi Express pengguna jasa Grab Taxi (dalam hal ini Grab Taxi sebagai aplikasi, bukan sebagai sistem ekonomi) yang saya tumpangi tidak tahu kalau Grab suatu saat bisa menghentikan insentif pengemudi dan nantinya malah mereka akan dikenakan biaya. Begitu juga dengan supir-supir Uber, tidak tahu bahwa ada VC yg selama ini subsidi untuk mereka.

Di tahun 2014, saya sempat memuji Uber karena pengalaman saya naik Uber di Amerika bertemu dengan pengemudi paruh waktu yang merasa diuntungkan demi mendapatkan penghasilan tambahan. Pernah dapat mahasiswa dan imigran yg semuanya berusaha mencari tambahan demi bisa bertahan hidup di Boston dan NYC. Disini tidak demikian. Kalau saya scroll daftar sejarah NgUber saya (bisa diatas 50 mungkin?), jangan-jangan hanya 15% yg benar paruh waktu dan murni memanfaatkan prinsip sharing economy. Sisanya jadi supir untuk kartel Uber (pemilik 5-6 mobil) dan orang-orang2 yg mencicil mobil (eks supir taksi berpengalaman) yang menjadikan narik Uber sebagai karir dan mata pencaharian. Jika subsidi dan insentif dicabut yang berakibat pada kenaikan harga sehingga hilangnya pelanggan, si 15% bisa jadi tidak merasakan pengaruh yang besar. Tapi bagaimana dengan supir2 yang baru menyicil 5x dari total 60x cicilan? Atau bagaimana nasib supir tembak Uber yg menggantungkan hidup disitu.

Nah, jadi bagaimana? Sudah melihat dari 2 sisi?
Bingung? Kalau tidak bingung, maka kalian mendukung pihak yang mana?

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 24/03/2016 in Terapi

 

Comment Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: