RSS

Terima Kasih Pak Bakrie

12 Mar

Dengan segala hormat, saya haturkan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Bakrie selaku pemilik perusahaan Minarak Lapindo. Dimana sejak dahulu perusahaan bapak telah mengeksplorasi minyak di wilayah Lapindo, Sidoarjo. Saya yakin tujuan eksplorasi tersebut adalah demi kemaslahatan rakyat Indonesia, bukan? Bodoh sekali rakyat-rakyat jelata itu yang tak tahu apa-apa lantas menuduh bapak sebagai orang Kapitalis yang berorientasi pada keuntungan semata tanpa memikirkan dampak lingkungan, sosial, dll.

Berkat Bapak Bakrie,
Para petani, anak-anak, para pemuda yang semula hidup sederhana dan lugu akhirnya njenengan pindahkan ke perumahan-perumahan agak elit sedikit menjauh dari pusat semburan. Kelas mereka akhirnya naik satu tingkat dari yang semula warga desa berubah menjadi warga perumahan. Haibat! Ya meskipun desas-desus sertifikat rumahnya ada yang belum selesai gpp lah…itu hanyalah soal administrasi pemerintah daerah setempat, bukan salah Bapak Bakrie, toh?

Banyak rakyat jelata ini lalu protes bagaimana mereka mencari nafkah jika ladang dan sawah mereka berubah menjadi lautan lumpur?

Ihhh…norak sekali mereka itu ya, pak? Salah sendiri Kismin…jaman sekarang kok masih jadi petani. Kalau kalian jadi petani, memangnya bisa beli produk-produk mahal seperti yang di mall-mall? Seperti yang di sinetron-sinetron itu? Jangan bermimpi hidup anak petani bisa seperti jalan cerita FTV. Anak orang kaya jatuh cinta kepada anak petani bermodal pura-pura menabrakkan diri di mobil merci, Ah…kenyataannya malah ditabrak banci, lalu diteriaki sok liberalis, pro LGBT.

Anak-anak Lapindo bertanya, “gimana sekolah kami yang berubah menjadi kolam renang lumpur, Pak Bakrie?”

Mohon ijinkan saya menjawab pertanyaan mereka ya pak.
“Hai anak-anak, kalian tidak perlu sekolah, buat apa? Kata Pramoedya sekolah hanyalah pemenuh jadwal, hasil tidak baik pun tak mengapa. Toh seapes-apesnya jika nanti jadi petani atau buruh kayak bapak-ibumu lalu keahlianmu mencangkul dipakai buat apa? Mencangkul pabrik? Jaman sekarang ijasah atau lulusan sarjana adalah segalanya. Menjadi petani atau buruh itu beresiko gagal panen, hama, bayaran tidak seberapa, kerjanya membosankan, suka demo, naik motor ninja lagi. Lagian bensin buat motor ninja kalian didapat darimana? Ya jelas dari pom bensin lah! Siapa bilang bensin berasal dari pak Bakrie. Emang pak Bakrie kilang minyak apa?”

Mohon diingat, kalian itu tidak diusir. Ingatlah wahai kaum proletar, lumpur lapindo itu bencana nasional yang katanya karena efek gempa sebelumnya. Toh semisal karena human error tentunya kesalahan tersebut bukanlah salah Pak Bakrie semata, itu kemungkinan salah anak buahnya. Digaji mahal melakukan eksplorasi kok bisa bocor, padahal sayapnya kan sudah diperlebar. (Dikira pembalut apa! Maaf saya gagal fokus). Lagian kalian kan sudah diberikan ganti rugi oleh pemerintah yang sekian ratus milyar itu toh? Ya meskipun dibayar secara sedikit demi sedikit kan mohon dimaklumi, meski Pak Bakrie ini konon katanya pernah masuk dalam jajaran konglomerat, tapi mengeluarkan uang ratusan milyar itu naudzubilah loh, dik. Air liurmu saja bahkan tidak cukup melumasi jarimu supaya bisa menghitung lembaran kertas tersebut. Bisa kemput mulutmu itu!

Pemerintah telah berbaik hati melunasi ganti rugi juga berkat lobi-lobi siapa coba? Bayangkan kalau semisal Pak Bakrie berhasil jadi presiden, jangankan ganti rugi, seluruh korban lapindo pun akan diajak berlibur ke Maldives naik odong-odong sambil dibagikan beruang teddy bear untuk dipeluk. Unyuuu kann…emuuaaaccchhh.
Kau kira uang pemerintah juga bukan uang dari hasil pajak perusahaannya Pak Bakrie, apa? Kalau tidak percaya coba kau tanya pada Gayus Tambunan yang lagi mendampingi Maria Sharapova main tenis. (Eh gosipnya, Si Maria lagi kena kasus doping ya? Ahh…doping aku kak Mariaaaaa!!!! Doping akuuu!!!) (Gagal fokus lagi)

Para warga kembali bertanya, “gimana tempat ibadah kami yang berubah menjadi gundukan lumpur, pak?”
“Tempat ibadah itu rumah Tuhan lo pak, kok tega nian?”
“Bagaimana dengan kuburan para leluhur kami, pak? Kami sudah tak bisa berziarah lagi ke makam mereka karena sudah tertimbun lumpur”
“Mayat dan kerangka tulang mereka terbenam lumpur lo pak? Bagaimana jika di kiamat nanti tubuh mereka dibangkitkan, bagaimana mereka bisa keluar pak!!! Bagaimana???”

Baik, ijinkan kembali biar saya yang menjadi juru bicara imajiner Bapak Bakrie. Urusan ibadah-ibadah ini urusan yang sensitif.
“Tempat ibadah memang adalah rumah Tuhan, tapi nasib kalian masih lebih baik lo. Diluar sana ada yang mau beribadah saja sulit meskipun tempat ibadahnya ada. Mereka malah diteror, diintimidasi bahkan dipersulit perijinannya untuk mendirikan ibadah. Siapa yang mempersulit kalian juga tahu sendiri, gak usah pura-pura hilang ingatan. Toh lagian semesta adalah sajadah terluas untuk memuja Tuhan dan beribadah tidak selalu di tempat ibadah, bukan?”

“Huufftttt”
(huuffttt adalah kata gaul jaman sekarang untuk menunjukkan rasa jengkel)

Para warga kembali bertanya, “gara-gara lumpur lapindo akses terputus, roda perekonomian menjadi sulit”

“Loh..loh..tidak bisa asal menuduh seperti itu, janganlah kita selalu berburuk sangka. Ingatlah petuah bijak, bahwa setiap kesulitan, Tuhan selalu memberikan hikmah dan kemudahan dalam bentuk yang lain”

Mari kita bahas satu-persatu.
Berkat lumpur lapindo, proyek-proyek tol bermunculan. Mulai dari tol Porong-Gempol hingga tol Gempol-Pandaan. Tuh…enak kan? Kontraktor-kontraktor besar akhirnya bisa memutar roda ekonomi mereka dengan membangun proyek-proyek jalan tol. Kemudian, setelah jadi, kalian yang punya mobil tinggal bayar tiket tol, bisa bebas meluncur menembus kemacetan yang ada di jalur umum. Enak toh? Perkara yang naik motor ya salah mereka sendiri lah Kismin. Sudah saya katakan tadi, menjadi miskin itu salah, salah kamu sendiri. Bukan salah pemerintah yang tidak memakmurkan rakyatnya, apalagi salah Rangga yang tidak bisa menghitung kalender bulan purnama. (Itu semua salah kamu tidak mau menuruti nasehat Om Mario Teguh, camkan itu nak, nyo, Minke!)

Berkat lumpur lapindo,
Rel kereta yang melintas ke area tersebut harus dinaikkan supaya tidak terendam banjir. Coba ngana bayangkan, jika semakin lama rel tersebut dinaikkan niscaya kereta api tersebut akan berubah menjadi wahana roller coaster. Naik-turun cantik sambil menikmati pemandangan lautan lumpur. Subhanallah! Kereta api Harry Potter menuju sekolah sulapnya mah bablas angine. Berkat lumpur lapindo juga, warga sekitar bermodal tulisan “parkir wisata lumpur lapindo” sudah bisa mengais rejeki. Fotografer online labil bisa memotret saat dini hari dengan subjek atap rumah yang tenggelam. Sungguh nikmat manalagi yang kau dustakan, kisanak?

Berkat lumpur lapindo, masyarakat bisa menikmati jalur alternatif lain ketika banjir menerpa (Ya meskipun saya juga kadang terpaksa terkena dampaknya karena urusan pekerjaan di Malang, Pasuruan, Probolinggo, Bali, dan sekitarnya). Kalian pernah dengar daerah TPI (Tangkis Porong Indah)? Coba ngana bertanya pada bocah-bocah tanggung di daerah sana ketika lewat jalur alternatif saat banjir tiba, niscaya ngana bakal berdecak kagum sembari mengelus dada (elus dada diri sendiri lo ya, jangan dada Julia Perez, pamali). Di daerah TPI bakal kalian temukan semacam Dolly, Sarkem, Kalijodo versi ekonomis dan paket hemat sehemat-hematnya. Berdasarkan cerita dari teman-teman (sumpah ini aku dapat dari cerita teman-teman, berani sumpah diputus dik Gita Gutawa, deh) dengan bermodal uang sekitar 100 ribu, njenengan-njenengan bisa berha-ha-hi-hi bersekat-sekat karung di pinggiran sungai porong pada malam hari. Sungguh-sungguh hikmah yang luar binasa. Sekarang bisnis ha-ha-hi-hi bukanlah monopoli kaum berduit seperti di hotel Alexis saja, pelanggan pun tak harus orang berduit, pejabat, bapak-bapak puber kedua, namun banyak bocah-bocah belasan tahun latihan ujian praktek biologi sambil menenggak cukrik. (Perkara bupati Sidoarjo tidak mengikuti langkah populer seperti Bu Risma dan Ahok yang membubarkan lokalisasi itu hal adalah hal lain)

Dan yang terakhir,
Berkat lapindo,
Jika suatu saat nanti (entah kapan itu, apakah menunggu Liverpool juara baru semburannya berhenti atau bagaimana, ya, Wallahualam) maka Pak Bakrie dan rekan-rekan harusnya masuk ke dalam jajaran pencipta sejarah Indonesia dalam hal membuat tanah datar menjadi bukit dengan tanggul setinggi 3-12 meter, lebar 1-5 meter seluas sekitar 640 hektar. Data di bulan Juni 2015, debit semburan berada di kisaran 30.000-60.000 metrik ton per hari. Jika satu truk gardan tunggal berkapasitas 8-10 ton, diperlukan 1000 truk untuk mengangkut hasil semburan lumpur setiap hari!!! Sungguh Haibat! Nan Perkasa!

Jika semburan lumpur tersebut benar-benar berhenti dan terjadi, maka lahan seluas 640 hektar bisa dijadikan lahan perumahan, central bussines district, apartemen, hotel, dsb. Luaarr biasaaa! Gaya tidak populer semacam gusur menggusur seperti Ahok tidak perlu dilakukan. Apalagi gaya reklamasi laut seperti TWBI hendak lakukan di Tanjung Benoa, Bali. Ah…terlalu cupu dan mainstream!!!

Di tiap hari minggu pagi, Pak Bakrie bisa beriklan dengan menyewa host mbak Feni Rose untuk mempromosikan lahan bekas semburan.
Kira-kira bunyinya seperti ini :
“Apartemen mewah bebas banjir (tinggi lahan 3-12 meter, nek masih kebanjiran jenenge kebacut), Lokasi strategis, di jalur kepala naga, menghubungkan antara kota Sidoarjo dengan Pasuruan. Fasilitas mewah seperti gym, swimming pool berairkan lumpur asli, ruang terbuka hijau, HANYA 10 MILYAR!! Bisa dicicil sampai debt collector misuh-misuh, KPR dengan bunga rendah. BURUAN! MALAM JUMAT HARGA NAIK!!!

Demikian sepatah dua patah goyang patah-patah dari biduan dangdut ini, jika ada salah kata sudilah kiranya dimaafkan karena memaafkan adalah perbuatan yang paling mulia semulia batu bulu macan (yang harganya semakin turun). Tabik!

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 12/03/2016 in Terapi

 

Comment Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: