RSS

Tan Malaka dan Soe Hok Gie

03 Feb

Sekali lagi…
Dia berkata, “Kamu terlalu idealis, nanti kamu makan dunia apa kamu yang akan dimakan dunia”
“Jangan kaku, bung. Sudah biasa begini ini”
Sekilas memang betul, menganjurkan seseorang jangan kaku dan harus luwes…
Eitsss…luwes apa dulu, Bung?
Sepertinya dia belum kenal dengan sosok Tan Malaka dan Soe Hok Gie.
Jika luwesnya adalah harus menjilat pantat, menyembah dan mengukur kesuksesan dari pencapaian duniawi, maka benar kata Tan Malaka,
“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”, bersyukurlah kalian para pemuda yang masih memiliki idealisme.
Mengatakan benar jika memang benar, dan mengatakan salah jika salah.
Memasang wajah palsu seakan bersikap “polite” bukanlah pilihan menarik bagiku.
Maka benar kata Soe Hok Gie, “lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”
Dan pilihannya ada 2, “bersikap apatis atau ikut arus”. Untunglah Soe Hok Gie memberikanku pilihan lain, “menjadi manusia bebas”
Kau tahu mengapa idealisme harus dipegang teguh?
Karena ketika angan-angan ideal berbenturan pada kenyataan laknat, maka idealismemu lah yang bersedia mengulurkan tangannya dan memperingatkan dirimu agar tidak menjadi kerbau-kerbau pengikut tirani sesat.
Yang mengajarkan untuj tetap berjalan pada ideal-ideal…yang mengajarkan menjadi pemimpin diri sendiri.
Idealisme tidak membiarkanmu menjadi kerbau congek yang bisanya hanya melengus padahal dicambuk para keparat berkali-kali.
Jika ukuran keberhasilan duniawi adalah suatu prestasi ataupun tolak ukur bahwa Tuhan mengabulkan doamu, maka akan kukatakan, “jangan campur adukkan duniawimu dengan Tuhan, karena Tuhan bukan mitra dagang atau rekan investor dimana berharap amal seribu akan berlipat ganda menjadi sejuta”
Maka akan kukatakan, ” bagaimana jika Tuhan menguji karaktermu dengan memberi harta dan tahta berlimpah? Bukan karena kamu investor amal yang ulung”
Aiiihhh…kapitalis berbungkus agama…dengan Tuhan pun diajak hitung-hitungan jual beli amal.
Tan Malaka dan Soe Hok Gie memang bukanlah pahlawan nasional, ya, memang mereka berdua berakhir ditelan dunia dalam kesepian. Tapi dari dalam kubur suara pemikiran mereka jauh lebih lantang berteriak dan merasuk kepada pemuda-pemuda pilihan yang siap menggulingkan budaya sesat, siap menyibak kain yang menempel di mata bebek-bebek yang telah tersesat dalam duniawi ini.
Karena merdeka harus 100%, pemilik rumah tidak akan berdiskusi dengan pencuri!

Salam kepalan tangan, bung!

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 03/02/2016 in Terapi

 

Comment Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: