RSS

Buruh vs Hegemoni Sistem Kapitalis

08 Nov

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Yufid KBBI yang terinstall di aplikasi androidku, definisi dari buruh adalah orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah. Namun sepertinya kata “Buruh” di Indonesia mengalami penyempitan makna dimana masyarakat awam mendefinisikan “Buruh” adalah pekerja yang bekerja di pabrik, kerja yang hanya mengandalkan padat karya, minim pendidikan, jam kerja shift, dan lain sebagainya. Padahal jika melihat definisi dari kamus tersebut maka karyawan kantoran, office boy, security, manager, supervisor dan masih banyak tipe pegawai adalah termasuk buruh karena mereka bekerja untuk orang lain dengan mendapat gaji. Upah adalah hasil bekerja dari buruh, sedangkan gaji adalah hasil kerja dari pegawai atau karyawan kantoran, beda kata namun maknanya sama saja, bro!

Sebulan yang lalu sempat ramai di media cetak dan elektronik ketika sekitar 35 ribu buruh yang membanjiri Istana Merdeka pada hari Selasa, 1 September 2015. Massa yang datang berasal dari 40 federasi yang tergabung dalam empat federasi, yakni KSPI, KSBSI, KSPSI, dan KPKPBI.
Aksi ini dilatarbelakangi tindakan kesewenangan perusahaan akhir-akhir ini. Ada banyak buruh di-PHK. Alasannya, rupiah melemah, sehingga keuangan perusahaan terpuruk. Belum lagi kebakaran di Mandom yang menewaskan buruh.

Adapun sepuluh tuntutan buruh saat itu adalah:
1. Turunkan harga bahan bakar minyak dan sembilan bahan makanan pokok
2. Tolak pemutusan hubungan kerja akibat pelemahan rupiah dan perlambatan ekonomi
3. Tolak pekerja asing atau mewajibkan pekerja asing berbahasa Indonesia
4. Perbaiki layanan kesehatan
5. Naikkan upah minimum 22 persen
6. Angkat pekerja kontrak dan outsourcing jadi karyawan tetap dan guru honorer jadi pegawai negeri sipil
7. Revisi peraturan pemerintah jaminan pensiun setara dengan PNS
8. Bubarkan pengadilan hubungan industrial
9. Pidanakan perusahaan pelanggar keselamatan dan kesehatan kerja
10. Sahkan Rancangan Undang-Undang Pembantu Rumah Tangga

Banyak hal yang menimbulkan kerumitan dan polemik jika kita membicarakan soal buruh, sebelum kita membahas lebih dalam soal pertentangan kelas antara buruh dengan perusahaan dan negara maka ada baiknya kita membaca terlebih dahulu Das Kapital karya Karl Marx dan belajar sejarah jauh sebelum munculnya revolusi industri. Agar kita tidak terjebak keberpihakan yang sesat karena menggunakan logika yang tumpul.

Saya mencoba menjelaskan apa yang telah saya baca pada buku berjudul “Das Kapital or Beginners” karya Ari Rahman & Adi Prabowo. Buku ini wajib dibaca bagi yang berkeinginan memulai belajar mengenai pertentangan kelas manusia karena dijelaskan secara sederhana, ringkas dan dilengkapi dengan ilustrasi jenaka. Buku ini tidak lagi membahas soal kapitalisme versus sosialisme dan pertentangan yang pernah muncul di antara keduanya pada abad-20. Buku ini mengajak masyarakat untuk memahami kedua sistem tersebut dan perkembangannya agar bisa bersikap bijak dalam sistem ekonomi saat ini untuk menjadi individu yang mandiri dan tidak dikendalikan oleh orang atau bangsa lain.

Mengapa terjadi pertentangan kelas dan ketimpangan ekonomi di Indonesia? Apa yang kita lihat sekarang ini adalah hasil dari evolusi dari perjalanan ilmu dan sistem ekonomi yang selama ini diterjemahkan dengan absurd sehingga tidak menemukan bentuk yang nyata dari sebuah upaya untuk melakukan pemerataan dan kesejahteraan.

Sebagai contoh :
1. Buruh melakukan demo menggunakan sepeda motor Ninja
2. Sebuah survei menyebutkan bahwa 6 bulan sekali rata-rata masyarakat mengganti handphone mereka.
3. Sebuah resepsi pernikahan mewah yang digelar di Indonesia menelan biaya yang sama dengan upah seorang buruh selama 400 tahun!
4. Demikian pula harga produk yang dibanderol oleh produsen lebih mahal daripada produk yang sama yang dijual di negara-negara tetangga, mengapa? Alasannya sederhana sekalipun dijual mahal, pertama, pemerintah tidak protes. Kedua, tetap laku tuh! Ketiga, produsen mendapat untung banyak.

Mengapa contoh-contoh tadi terjadi di Indonesia? Ini semua buntut dari sikap konsumtif masyarakat yang tidak sanggup lagi membedakan mana kebutuhan dan apa itu keinginan, mana yang primer dan mana yang sekunder, mana yang prioritas dan mana yang bukan. Sikap konsumtif pada masyarakat kelas atas adalah hal biasa dalam sistem kapitalis, namun saat ini budaya tersebut juga masuk ke kelompok masyarakat pekerja, kelas sosial bawah yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya. Seperti yang saat ini lagi ramai dinyiyiri oleh pekerja kantoran terhadap kaum buruh yang lagi demo menggunakan motor Ninja yang notabene harganya sekitar 30 jutaan sedangkan gaji buruh sebulan UMR adalah sekitar 2,7 juta (kota Surabaya dan sekitarnya).

“Gaji tidak seberapa tapi gaya hidup borju”
“Buruh terlalu banyak menuntut tapi kinerja tidak becus”
“Tiap tahun menuntut kenaikan upah, lama-lama perusahaan bangkrut”
“Sering demo di jalanan, bikin macet saja”
“Jika terus-terusan begini, maka investor akan kabur dan tidak akan menciptakan lapangan kerja”

Begitulah kira nyinyiran masyarakat awam yang bekerja sebagai pegawai kantoran, pemilik perusahaan serta pemangku jabatan negara.

Padahal, :
1. Pekerja kantoran juga mencicil mobil meski gaji tidak seberapa dengan mengandalkan kredit bank.
2. Pekerja kantoran akhir pekan rutin nonton bioskop, belanja dan jalan-jalan di mall. Berlaku Hedon, dsb.
3. Sama-sama sering gonta-ganti handphone
Dan masih banyak yang lain, padahal pekerja kantoran juga termasuk kategori buruh, seolah buruh haruslah kelas masyarakat bawah yang tak boleh dan tak layak untuk menikmati hasil keringat mereka sendiri.
4. Pemilik modal tidak memeras keringat yang begitu banyak sepertu para buruh karena hanya mengandalkan modal yang notabene didapat dari meminjam bank.
5. Aparatur pemerintah lebih memihak investor ataupun pengusaha padahal digaji oleh rakyat untuk melindungi kedua belah pihak yang salah satunya bekerja sebagai buruh. Adilkah kita?

Jika terjadi kelesuan ekonomi, apakah kesalahan murni ditimpakan semua kepada kaum buruh? Jika jawabanmu iya, maka kita berlaku tidak adil dan mengalami kesesatan logika nan tumpul. Kita juga sewajibnya menanyakan peran pemerintah yang bertugas membawa kebijakan sistem ekonomi saat ini. Jika kita belajar sejarah ketika Presiden Soekarno lengser pasca tragedi G30S/PKI dan diambil alih oleh Soeharto, pelan namun pasti ekonomi Indonesia lebih condong ke arah kapitalisasi.

Indonesia menjadi negara kapitalis yang tergantung (dependent capitalist) kepada negara kapitalis kaya yang memaksa pembagian kerja internasional, membangun industri berteknologi tinggi  yang memberikan nilai tambah. Sedangkan Indonesia hanya kebagian mengekspor bahan mentah dan itu pun masih tergantung pada kuota yang telah ditetapkan negara industri besar. Kita dihegemoni oleh kekuatan corporate capitalist seperti AS, Eropa, Jepang dan Korsel serta China.
Sebagai contoh kasus Freeport, perusahan tambang emas milik amerika yang berinvestasi atau menanamkan modalnya di Papua. Pertanyaannya, apakah perusahaan dalam negeri tidak sanggup menambang emas? Ya, karena kita tidak memiliki teknologi pengolahan dan SDM yang memadai, untuk menghadirkan teknologi tersebut terpaksa impor, karena tidak bisa mengolah dengan sangat terpaksa hasil mentah diekspor ke Amerika dengan harga murah, disana diolah menjadi barang jadi seperti emas, dsb kemudian dijual kembali dengan harga sangat tinggi.
Industri dalam negeri bukannya tidak sanggup membuat lapangan kerja, mereka tak memiliki mesin-mesin berteknologi tinggi, jikalau ada, itupun harus mengimpor dengan harga tinggi. Dan mesin-mesin tersebut dimonopoli serta memiliki paten.

Jika kita melakukan analisis bodoh mengenai kondisi buruh, maka logika premisku yang terlalu cepat mengatakan sbb :
“jika upah buruh naik, maka otomatis harga produksi ikut naik, karena harga produksi adalah penjumlahan harga bahan baku + biaya operasional (upah buruh, sewa lahan, listrik,nair, dll)”
“Jika harga produksi naik, maka otomatis perusahaan akan menaikkan harga jual produknya supaya tidak rugi”
“Jika harga jual produksi tersebut naik sedangkan kemampuan atau daya beli masyarakat tetap, maka ini hanyalah omong kosong”

Kita ambil contoh seorang buruh A bekerja di pabrik B yang memproduksi minyak goreng dengan upah buruh yang sudah ditetapkan negara Rp. 1.000 / bulan. Kemudian buruh A menuntut kenaikan gaji dikarenakan kebutuhan semakin banyak. Buruh A menuntut kenaikan gaji dari Rp. 1000 / bulan menjadi Rp. 1.500 / bulan. Bagi pabrik B, harga bahan baku dan biaya lain-lain sekitar Rp. 3.500. Maka total produksi jika upah buruh A disetujui akan menjadi Rp. 5.000 (Rp. 3.500 + Rp. 1.500). Lalu karena perusahaan B ingin mendapat keuntungan, maka perusahaan B menjual minyak goreng hasil produksinya menjadi Rp. 5.500 (selisih keuntungan Rp. 500) dikarenakan dulu minyak goreng dijual Rp. 5.000, namun karena buruh A minta gajinya ditambah Rp. 500, maka harga minyak goreng juga ikut bertambah Rp. 500. Sampai disini masuk akal?
Nah yang menakjubkan adalah buruh dan masyarakat adalah justru menjadi konsumen minyak goreng tersebut, jadi ketika buruh A bergaji Rp. 1.000 / bulan membeli minyak goreng tersebut Rp. 5.000. Kini buruh bergaji Rp. 1.500 membeli minyak goreng dengan harga Rp. 5.500.

Gaji buruh naik, tapi harga jual juga ikut naik.

Pengusaha ataupun pemilik modal tidak tersentuh dan selalu berada diatas angin, padahal keduanya saling membutuhkan.

Omong kosong bukan?

Jadi kesimpulannya apakah upah buruh tidak boleh naik? Agar harga-harga tidak ikut naik, karena jika naik maka akan mengancam zona nyaman pekerja kantoran yang notabene sesama buruh. Pekerja kantoran gak bisa hedon lagi dong? Gengsi dong gaji pekerja kantoran kok sama dengan buruh?

Sebelum itu ada baiknya kita kembali memahami pemahaman sistem ekonomi kapital terlebih dahulu.

Kapitalisme berasal dari kata dasar kapital yang mempunyai arti modal.
Kapitalis memiliki arti kaum bermodal, atau orang yang memiliki modal besar
Kapitalisme sistem dan paham ekonomi yang modalnya bersumber dari modal pribadi, kelompok ataupun perusahaan dengan ciri persaingan di pasar bebas.

Menurut prediksi Karl Marx sejak boomingnya revolusi industri, sistem ekonomi kapitalis memiliki kelemahan yaitu akan memunculkan jurang perbedaan antara kaya dan miskin menjadi semakin besar dan ini masing-masing diwakili oleh 2 kubu yaitu kelas pemilik modal dan kelas buruh. Ketika terjadi revolusi industri sejak ditemukannya mesin uap oleh James Watt, maka tenaga manusia sudah tidak terlalu dibutuhkan karena sudah digantikan oleh mesin uap tersebut. Otomatis tenaga manusia menjadi murah karena kurang diminati oleh pemilik modal dikarenakan mempekerjakan manusia otomatis harus berurusan dengan hal manusiawi lainnya seperti tuntutan untuk istirahat, jumlah jam kerja, cuti, insentif, bonus, kenaikan gaji, beribadah, dan lain sebagainya. Sedangkan mesin tidak, mesin tidak akan protes jika dipaksa kerja berlebih selama diberi perawatan yang cukup.
Di negara Indonesia, peran pemerintah justru lebih berpihak kepada pemilik modal, pengusaha atau investor, posisi tawar kaum buruh sangatlah lemah.
Sebagai contoh, anggap saja aku adalah buruh. Jika aku menuntut dan berdemo kenaikan gaji sedangkan perusahaan tidak mau menuruti tuntutan tersebut maka dengan gampang perusahaan akan memecatku. Apa yang dilakukan pemerintah? Peran pemerintah yang terlihat hanyalah melakukan pembubaran paksa dan penembakan gas air mata. Toh jika perusahaan memecat, yang antri untuk menjadi buruh juga banyak.
Mengapa banyak yang antri? Karena terpaksa.
Mengapa terpaksa?
Ada 3 hal yang menyebabkan hal tersebut terjadi,
yang pertama tidak memiliki pilihan lain selain bekerja sebagai sebagai buruh karena tidak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Lagi-lagi karena biaya sekolah yang tidak murah.
Kedua, tidak memiliki modal untuk membuka usaha sendiri.
Ketiga, tidak memiliki alat atau mesin-mesin produksi.

Jika aku dipecat, maka aku akan bekerja dimana? Mencari kerja di jaman sekarang apalagi tidak berpendidikan tinggi tentunya sangatlah susah. Sedangkan kebutuhan hidup dan anak istri semakin tinggi. Disinilah posisi buruh lemah dan menjadi sasaran tindakan semena-mena perusahaan dan kaum pemilik modal.

Buruh bisa saja memiliki modal dengan cara meminjam kepada bank, namun apa yang bisa dijadikan agunan atau jaminan untuk meminjam modal di bank? Tanah? Rumah? Kendaraan? Semuanya tak punya. Sistem perbankan di Indonesia menyulitkan kelas masyarakat bawah untuk memiliki modal untuk membuka usaha sendiri. Tentunya semua bisa saja terjadi, namun membutuhkan perasan keringat dan darah yang lebih banyak dibandingkan kaum pemilik modal. Tidak percaya? Coba saja.

Lalu bagaimana pemilik modal yang sekarang bisa memiliki segalanya? Kaum pemilik modal yang sekarang tentu saja adalah anak keturunan dari kaum borjuis warisan revolusi industri terdahulu. Tidak percaya? Coba lihat pemilik modal sekelilingmu, umumnya adalah anak dan turunan terdahulu yang kaya raya ataupun keturunan pemegang kuasa. Jikalau anak dan turunan ini membutuhkan modal tinggal meminjam di bank karena di administrasi perbankan telah terekam memiliki catatan lancar dan juga memiliki jaminan tanah, rumah, dll. Tentunya urusan akan dipermudah.

Jika kita lebih jeli lagi, secara tidak sadar uang yang ada di bank adalah uang rakyat yang ditabung. Kemudian uang tersebut dikelola oleh bank yang memiliki karyawan tentunya harus mengambil keuntungan dengan memotong biaya adminstrasi, dsb. Uang tersebut juga dikelola bank dengan memberikan kredit (dengan bunga tentunya) kepada pengusaha jika mereka membutuhkan tambahan suntikan modal. Tentunya proses pengajuan kredit pengusaha jauh lebih mudah dibanding masyarakat kelas bawah. Uang rakyat dipakai untuk membantu si pengusaha. Adilkah?

Anekdot lucu mengatakan, “jika kamu berhutang di bank dengan nominal kecil, maka mereka akan memburumu. Namun jika kamu berhutang di bank dengan nominal besar, maka mereka akan mencarikan solusi”

Jika kita benar-benar mengamati, pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan pengusaha terhadap buruh jarang sekali ditindak oleh pemerintah. Seperti contoh THR yang tidak dibayarkan, buruh ada yang tidak boleh melaksanakan sholat pada saat jam kerja, buruh bekerja hingga lebih dari 8 jam sehari namun tidak diberi kompensasi, gaji rendah, di tempat kerja tidak disediakan KM/WC yang layak, dan masih banyak lagi. Dan parahnya media jarang yang meliput. Banyak buruh yang ditindas dengan sangat terpaksa pasrah karena ancaman pemecatan ditambah lagi kebutuhan hidup yang mendesak. Mau kerja dimana lagi? Mengandalkan pemerintah? Bullshit. Satu-satunya cara agar suara mereka didengar adalah dengan demonstrasi dan menggalang dukungan dengan membentuk serikat pekerja.

Inilah yang telah diramalkan oleh Karl Marx pada kelemahan sistem kapitalisme. Jurang kelas antara si kaya dan si miskin akan menjadi sangat dalam. Tidak ada pemerataan ekonomi di seluruh lapisan masyarakat yang menjadi tugas dan peran negara. Yang kaya semakin kaya, dan si miskin menjadi lebih miskin. Si miskin bekerja justru untuk memperkaya orang yang sudah kaya.

Kita berbondong-bondong makan dan minum di restoran cepat saji begitu bangganya, padahal pemiliknya sudah cukup kaya. Sedangkan di pasar dan warung tradisional kita enggan berbelanja.
Kita membiayai orang yang sudah kaya untuk berwisata di manca negara, sedangkan sebaliknya justru kita enggan membagi keuntungan kepada sesama rakyat jelata yang notabene keuntungannya dipakai langsung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai sekolah anak-anak mereka. Adilkah kita?

Kita harus bersikap adil sudah sejak dalam pikiran, buruh adalah kita semua selama kita masih berdiri diatas negara yang berpaham kapitalisme.

Cukup segitu saja tulisan panjang lebarnya, selebihnya bacalah buku-buku Marx, Sosialisme, Komunisme, Kapitalisme dan sistem ekonomi yang dianut negara-negara lain sebagai bahan rujukan. Baidewe, besok hari Senin..selamat menjalani rutinitas kembali wahai para buruh duniawi!

Bisa juga baca postingan yang ini :
https://nyoemhokgie.wordpress.com/2014/03/17/marxisme/

image

image

 

Menguak tabir ilusi kelas menengah : http://indoprogress.com/2016/02/menguak-tabir-ilusi-kelas-menengah/

Video :

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 08/11/2015 in Terapi

 

Comment Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: