RSS

4 Film dalam 4 Hari

04 Feb

Tulisan yang seharusnya terposting 2 minggu yang lalu, namun malas menulis, hehehehe
4 hari belakangan ini (mulai dari hari sabtu hingga selasa) menghajar 4 film berturut-turut, jadi 1 hari 1 film. Sabtu minggu full nonton film, sedangkan senin dan selasa nonton sepulang kerja sambil menunggu hujan reda. Satu film dokumenter dan 3 film yg sudah diputar di bioskop tapi aku gak sempat nonton *maklum orang sibuk (sitik-sitik bubuk) hehehe…
Keempat film ini cukup menambah mood booster dan memberikan inspirasi untuk ditulis. 4 film itu adalah :

1. Film dokumenter atau film essai berjudul “Jalan Raya Pos” (nonton di youtube). Dibuat oleh seorang yang berwarganegara Belanda kalau tidak salah. Tokoh utamanya adalah pak Pramoedya Ananta Toer. Di film ini pak Pramoedya menulis essai, membacakannya dan mencoba menyeret ingatan kita untuk kembali ke tahun 1800an, ketika jenderal yang bernama Daendels membangun jalan sepanjang sekitar 1000 km membentang dari Anyer hingga ke Panarukan. Jalan yang begitu kondang hingga menginspirasi seseorang menjadi sebuah lagu. Namun seiring berjalannya waktu orang semakin lupa bahwa pembuatan jalan yang dulunya sempat menjadi jalan terpanjang di dunia itu berdiri diatas ribuan mayat rakyat Indonesia yang dipaksa kerja paksa oleh Daendels. Jalan tersebut digunakan untuk membawa hasil panen “jarahan” Belanda ke pusat kota lalu diekspor ke eropa, keuntungan hasil perdagangan tentunya untuk kemakmuran kerajaan Belanda, bukan bagi hasil dengan tuan rumahnya si rakyat yang menanam tanaman tertentu karena paksaan bahkan diatas ladang sendiri. Begitulah namanya kolonialisme dan imperialisme. Saya membayangkan jika jaman dahulu sepertinya mereka sangat lugu dan terbelakang dalam ilmu pengetahuan maupun ideologi, sehingga kita rela saja tiba-tiba ada orang-orang Belanda datang, lalu memaksa rakyat untuk bekerja paksa di tanah mereka sendiri untuk membuat jalan raya. Apa karena ketakutan terhadap senjata api kali ya? Di film ini begitu panjang essai yang dikatakan oleh Pramoedya, padahal itu hanya 1 dari sekian banyak peristiwa kekejian penjajahan jaman Belanda. Dikatakan disitu, jutaan rakyat disuruh kerja paksa, membuat jalan, memotong bukit dengan alat seadanya, bekerja pagi, siang sore dan malam tanpa belas kasihan. Mereka bekerja terus-terusan dengan sedikit makanan, banyak yang bergelimpangan dan mati kelelahan. Pramoedya memperhatikan bahwa apakah begitu murahnya nyawa seorang manusia dihadapan para penjajah? Begitu kejinya.
Di jaman kolonialisme – imperialisme, seseorang yang hatinya telah terbuka maupun orang-orang yang berpendidikan haruslah diasingkan bahkan kalau bisa “dimatikan”. Karena rakyat Indonesia haruslah tetap bodoh agar mau ditipu dan dijarah, itulah mengapa rakyat Indonesia yang berpendidikan menjadi musuh terbesar. Tahanan politik dan pengasingan ke daerah terpencil adalah hal yang lumrah bagi Pramoedya karena selain ia telah terbuka mata hati dan nuraninya ia juga termasuk orang yang cerdas dalam karya sastra. Ditahan tanpa proses pengadilan, sedikit makanan dan diasingkan ke Digul adalah salah satu pengalamannya. Film ini membuatku sadar bahwa mungkin saja roda-roda motor bututku pernah menggelinding diatas penderitaan dan nyawa ribuan rakyat Indonesia yang dipaksa bekerja paksa, menyadarkanku juga bahwa aku harus bersyukur dengan cara aku tidak boleh bodoh, aku tidak boleh malas, karena aku tidak mau dijajah di era penjajahan dalam kemasan baru ini. Selamat jalan dan sampai jumpa pak Pramoedya, meski hilang badan, tulisan atau anak-anak jiwamu tidak pernah hilang bahkan saya yakin mereka kini telah berlipat ganda.

2. Interstellar
Salah satu film fiksi ilmiah selain film “Transcendence” yang membuatku berdecak kagum, merasa kerdil dan kembali bertanya pada diri sendiri mengenai eksistensi manusia. Film fiksi ilmiah yang mengingatkanku kembali untuk menggunakan prinsip dasar 5W+1H dalam mengasah logika, nalar, sains, maupun beragama. 5W+1H (What, When, Where, Why, Who dan How) membuat peradaban manusia maju. Jika film Transcendence bersetting “mikro” dimana pikiran manusia dipindah ke superkomputer sebelum dia mati hingga akhirnya dengan kemampuannya sendiri dia membuat tubuh baru sama persis ketika sebelum dia meninggal. Mengaburkan batas sampai sejauh mana boleh mencipta hingga melanggar batas dogma ajaran Tuhan pada umumnya bahwa Tuhan lah yang menciptakan manusia. Sedangkan di film Interstellar kita diajak berpikir makro, hingga mengajak kita untuk bertanya sampe batas sejauh apa manusia menjelajah semesta dan mencoba memecahkan misteri yang ada di dalamnya. Melihat film ini sensor 5W+1H ku menyala dengan keras. Dengan prinsip who, saya bertanya siapa yang mencipta semesta ini? Jikalau memang ada pencipta, lalu siapa yang mencipta sang pencipta tersebut? Apakah tiba-tiba sudah ada terlebih dahulu? Jikalau begitu berarti sebelum terbentuknya semesta pastinya dia berada di keadaan kosong tanpa semesta, sendirian? Prinsip when, kapan si pencipta ini mulai mencipta? Di film interstellar ini waktu adalah hal yang relatif, karena begitu masuk ke lubang hitam atau gargantua maka analogi 1 jam = 60 menit, 1 menit = 60 detik sudah tidak berlaku lagi. 1 jam di planet lain = 7 tahun di bumi, sehingga ketika kita meninggalkan bumi selama 1 jam, maka ketika kita kembali saat itu juga maka di bumi waktu telah berjalan 7 tahun dan kita tidak mengikuti proses penuaan tubuh 7 tahun seperti di bumi.
Kemudian prinsip where, dimanakah kita berada sekarang ini terhadap kedudukan semesta? Jika kita berada di galaksi bimasakti yang berisi triliunan bintang, dan di semesta ternyata terdapat miliaran galaksi maka sebesar apa semesta ini? Dimanakah letak ujungnya atau sekedar dimana garis batas horizonnya?
Lalu prinsip why? Mengapa harus ada alam semesta ini? Hanyalah sebuah panggung untuk pertunjukkan kehidupan? Apa alasan si pencipta (jika ada) menciptakan semua ini? Jikalaupun memang tidak ada sang pencipta, tetap pertanyaan itu muncul, yaitu mengapa?
Prinsip who. Siapa si pencipta ini (jika ada)? Atau bahkan siapa kita ini terhadap luasnya semesta?
Prinsip how. Bagaimana caranya tiba-tiba semesta ini tercipta? Dengan keajaiban? Dengan teori materialisme?

Dalam kesimpulan saya, bagaimanapun manusia menemukan jawaban, pasti akan muncul pertanyaan baru yang tak ada habisnya. Kalau diibaratkan seseorang sedang mengupas bawang lapis demi lapis, setelah lapis terakhir yang ditemukan hanyalah kekosongan, yang tersisa hanyalah aroma bawang dan mata yang pedih. Yang penting adalah proses dan pencariannya karena hasil akhirnya bisa jadi bukanlah hal yang utama.

3. Big Hero 6
Film kartun yang bercerita tentang robot buatan manusia. Sekilas sepertinya komik H2O buatan pandji dkk ceritanya mirip dengan film big hero 6 ini. Cukup menghibur, film yang mempunyai makna robot lebih manusiawi ketimbang manusia, dan manusia lebih menakutkan ketimbang robot. Kelemahan robot adalah cuman mesin yang bisa di setting sesuai kemauan si pembuat. Cuman itu saja sih kesimpulan buat film ini.

4. PK
Film ini begitu kontroversialnya, karena jelas-jelas menyinggung soal agama (Hindu pada khususnya) yang terjadi di masyarakat India akhir-akhir ini. Bahkan tokoh Hindu di Indonesia pun merasa tersinggung dengan isi film ini.
Film yang sarat akan kritik sosial dan agama namun dikemas dalam bentuk humor. Menonton film ini tidak membuatku tersinggung sama sekali, bahkan aku ikut tertawa menontonnya.

Saya punya keyakinan bahwa apapun yang ada di bumi ini memiliki siklus atau kurva naik turun atau kurva huruf S yang diputar 90 derajat. Sama halnya dengan agama, dahulu Hindu bukanlah suatu agama namun jalan spiritual yang dilakukan oleh masyarakat di lembah sungai Shindu, untuk menamakan masyarakat ini diberikanlah nama agama Hindu untuk lebih mudah mengatakan dan mengelompokkan mereka. Seiring dengan berkembangnya waktu maka agama Hindu ini mengalami titik puncak kemudian sampai pada titik jenuh dimana banyak masyarakatnya telah menyimpang dari ajaran semula seperti kasta, sektarian, upacara agama yang berlebihan, kelaparan, degradasi moral, dll. Maka muncullah pangeran Sidharta yang mencoba meluruskan kembali dan memberikan pemahaman baru serta pencerahan kepada masyarakat. Maka mucullah agama Budha. Sama halnya dengan agama Hindu, agama Budha memiliki masa puncak dimana banyak penganut Budha mulai dari india hingga negeri China. Namun lambat laun pun mengalami titik jenuh, ini terjadi ketika seorang Adi Sankara yang beragama Hindu melakukan debat agama keliling dengan para Bhiksu, dimana yang kalah debat maka harus menjadi pengikut si pemenang debat. Kemampuan pemikiran yang hebat dari seorang Adi Sankara walhasil membuat banyak para Bhiksu yang kalah dan menjadi pengikutnya. Itu mengapa agama Budha sekarang di India tidak terlalu banyak, namun masih menjadi mayoritas di Tibet dan dataran China.
Di lain waktu terdapat agama-agama Abrahamik yang berkembang di negeri eropa seperti Yahudi, Kristen lalu Islam. Satu rumpun dari Nabi Adam namun pada perkembangannya memiliki paham yang berseberangan. Dimulai dari Yahudi dengan kitab Tauratnya, mencapai titik jenuh dimulai dengan munculnya nabi Isa atau Yesus yang memunculkan agama Katolik (yang dalam perkembangannya terpecah lagi dengan adanya Protestan) dengan kitabnya Injilnya. Lalu muncullah nabi Muhammad sebagai awal permulaan agama Islam. Di dunia saat ini tedapat 2 agama terbesar yaitu Kristen dan Islam, saya yakin lambat laun 2 agama besar inipun akan mengalami hal yang sama dengan agama-agama lain yaitu mencapai titik puncak lalu titik jenuh. Karena semua hal yang ada di bumi ini saya yakin memiliki kurva seperti huruf “S” yang diputar 90 derajat namun diulang terus-terusan. Saya tidak tahu apakah nanti di bumi ini akan muncul agama baru atau entah apa itu yang menjadi pemicu titik jenuh suatu agama.
Hal ini membuat saya menarik kesimpulan bahwa agama pun tidak abadi, namun kemanusiaan lah yang akan abadi melintasi ruang dan waktu. Karena kemanusian adalah ibu dari segala agama dan keyakinan, maka jika agama dan keyakinanmu tidak menjadikanmu seorang individu yang berkemanusiaan maka runtuhlah agama yang ada di dirimu. Karena sejatinya berkeyakinan dan beragama mengajarkanmu tentang kemanusiaan. Namun meski kamu mengaku tidak beragama namun memiliki rasa kemanusiaan yang baik, maka kamu akan “abadi” tak terikat oleh ruang dan waktu.
Entah kenapa akhir-akhir ini saya tertarik memfollow akun-akun twitter baik dari keyakinan lain, agama lain, bahkan ada akun atheis serta agnostik. Hal tersebut membuat pikiranku semakin terbuka ditambah lagi munculnya film “PK” ini.
Dalam hal berkeyakinan, sepertinya aku mulai menemukan arah jalan pemikiranku sendiri. Menurutku, aku ini seorang Theis, lebih tepatnya Hindu Pantheis. Namun aku menganggap teman-teman dari theis lain, agnostik maupun atheis adalah teman berfikir untuk membuka nalar. Karena siapa tahu keyakinan, nalar dan kemanusiaanku masih tertutup, dan merekalah yang membukakannya. Heuheuheu…sayangnya tidak semua monotheis (khususnya monotheisme sempit) menyukai perbedaan sebagai teman bertukar pikiran, seolah perbedaan haruslah dimasukkan ke dalam neraka. Apalagi aku yang lahir dari 2 agama yang berbeda, betapa darahku diinginkan banyak orang. Heuheuheu.

Copas buat pengingat diri sendiri.

“Dharma yo badhate dharmo na sa dharmah kudharmakah
avirodhattu yo dharmah sa dharmah satyavikrama”
Artinya :
” Setiap dharma (kepercayaan) yang menyalahkan, menghina atau menciptakan konflik dengan dharma lainnya, bukanlah dharma yang sesungguhnya, melainkan kudharma (dharma yang buruk dan palsu). Dharma yang sesungguhnya adalah dharma yang berkembang tanpa mengusik dharma lainnya”
………….Shanti Parwa……………

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 04/02/2015 in Terapi

 

Comment Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: