RSS

Mantra Meditasi Bahasa Inggris

Setelah saya pelajari, cermati dan hayati secara mendalam (menurut versi saya sendiri tentunya) ternyata mantra meditasi tidak hanya melulu harus menggunakan bahasa Sansekerta.

Seperti yang kita ketahui ada beberapa mantra yang lazimnya dipakai seseorang jika melakukan meditasi, seperti misalnya :

1. Om

2. Maha mantra

3. Lokah samastah sukhino bhavantu

4. Om namah shivaya

Dan masih banyak bahasa Sansekerta lain yang dipakai untuk meditasi.

Bagi saya pribadi fungsi meditasi adalah menenangkan pikiran, menghilangkan stres dan menyelami kepribadian diri sendiri.

Nah khusus untuk menghilangkan stres biasanya saya menggunakan mantra berbahasa Inggris. Hehehehe.

Kok bahasa Inggris?

Ya gak masalah selama tujuan dari meditasi tersebut bisa tercapai, iya ngga? 🙂

Mantra ini sangat mujarab menghilangkan stres dan beban pikiran. Penasaran mantra apa itu?

Mantranya adalah “not my fuckin’ problem”

Bagaimana aturan meditasi menggunakan mantra tersebut?

Begini,

Baca mantra tersebut sambil duduk bersila, mata terpejam, kedua tangan diletakkan di atas dengkul, jari telunjuk dan jempol disatukkan. Hirup dan hembuskan nafas secara perlahan. Usahakan cari tempat yang tenang.

Lakukan dan ucapkan sebanyak mungkin mantra “not my fuckin’ problem” tidak terpaku pada jumlah yang harus diucap, kalian bisa ucapkan dalam hati, diucapkan perlahan atau diucapkan dengan keras juga gak masalah, bebas pokoknya, niscaya stres dan pikiran kalian akan berkurang.

Saya juga terkadang menggunakan mantra bahasa Jawa jika sudah mulai bosan dengan mantra bahasa Inggris. Mantranya adalah “Raurus”. Cara menggunakan mantranya juga sama dengan yang di atas.

Demikian tips ngawur dari saya. Salam lemper.

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on 18/10/2017 in Terapi

 

Premis Pancasila

 

Dalam sidang Judicial Review Perppu No. 2 tahun 2017 tentang Ormas, di Mahkamah Konstitusi pengacara kondang Eggi Sudjana dihadapan majelis Hakim meminta ketegasan jawaban pemerintah atas pertanyaannya terkait konsekuensi berlakunya Perppu Ormas. Menurut Eggy, jika semua yang bertentangan dengan Pancasila harus dibubarkan, maka yang bertentangan dengan sila Pertama pun harus dibubarkan, artinya agama selain Islam konsekuensinya harus dibubarkan, karena hanya Islam yang mengakui ke Esaan Tuhan, sementara agama lain tidak.

 

Pernyataan Eggi Sudjana cukup menarik untuk dibahas, karena yang pertama pernyataan tersebut dilontarkan pada Judicial Review yang membahas tentang “ormas”. Harap dibaca kembali, “Ormas”. Bukan membahas mengenai keyakinan atau agama. Sehingga pernyataan tersebut menurut saya salah tempat, karena Perppu Ormas ditujukan untuk ormas yang ingin mengganti Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia.

Yang kedua, pengambilan premis dari Eggy kurang tepat.

Untuk itu sebelumnya kita dalami terlebih dahulu apa itu premis ?

Menurut KBBI, Premis ialah pernyataan yang digunakan sebagai dasar penarikan kesimpulan. Merupakan kesimpulan yang ditarik berdasarkan premis mayor dan premis minor. Subjek pada kesimpulan itu merupakan term minor. Term menengah menghubungkan term mayor dengan term minor dan tidak boleh terdapat pada kesimpulan.

Mari kita kutip pernyataan dari Eggi.

“Karena Kristen Trinitas, Hindu Trimurti, Buddha setahu saya tidak punya konsep Tuhan, kecuali apa yang diajarkan Siddhartha Gautama. Maka saya sudah ingatkan tadi, konsekuensi hukum jika Perppu diterima dan berkekuatan hukum tetap dan mengikat, maka konsekuensi hukumnya ajaran selain Islam harus dibubarkan,” kata Eggi.

Saya coba menyelami logika pemikiran Eggi, kira-kira begini :

  1. Pemerintah bisa membubarkan suatu ormas jika ormas tersebut mempunyai ideologi bertentangan dengan Pancasila. Dalam sila pertama dari Pancasila adalah “Ketuhanan yang Maha Esa”
  2. “Esa” jika didefinisikan pada KBBI adalah satu atau tunggal. Maka definisi sila pertama adalah Tuhan yang satu atau tunggal.
  3. Sehingga jika ada ormas yang tidak mengakui ke”tunggal”an Tuhan maka konsekuensinya adalah Pemerintah juga harus membubarkan agama yang juga tidak mengakui ke”tunggal”an Tuhan, bukan hanya ormas saja. *lompatan logika yang emijing banget.
  4. Menurut pemahaman Eggi, tiada agama selain Islam yang mengakui ke”Esa”an Tuhan. “Karena Kristen Trinitas, Hindu Trimurti, Buddha setahu saya tidak punya konsep Tuhan, kecuali apa yang diajarkan Siddhartha Gautama. Maka saya sudah ingatkan tadi, konsekuensi hukum jika Perppu diterima dan berkekuatan hukum tetap dan mengikat, maka konsekuensi hukumnya ajaran selain Islam harus dibubarkan,” kata Eggi.
  5. Eggi mendesak agar Perppu Ormas tidak diberlakukan. “Jadi jangan salah paham dengan saya. Justru saya berjuang untuk toleransi tersebut yang dihilangkan dengan berlakunya Perppu Nomor 2 Tahun 2017 itu,” kata Eggi.

Sekilas logika premisnya memang betul, tapi mari kita kupas dengan detail dimulai dari pertanyaan yang muncul di kepala saya.

  1. Pancasila itu ideologi negara ataukah ideologi agama?
  2. Jika kita mengikuti premis seperti yang dipahami oleh Eggi pada sila pertama yang  ditafsirkan hanya sebagai Tuhan yang tunggal, maka turunan dari Pancasila yaitu undang-undang dasar 1945 yaitu pasal 28(E) ayat 1 dan pasal 29 ayat 2 akan saling bertentangan.  Dasar hukum yang menjamin kebebasan beragama di Indonesia ada pada konstitusi kita, yaitu Pasal 28E ayat (1) UndangUndang Dasar Tahun 1945 (“UUD 1945”): … Selanjutnya Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 juga menyatakan bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama. Harusnya dari awal negara dibentuk sudah melarang agama selain agama Islam karena tidak mengakui ke”Esa”an Tuhan. Bagaimana dong Pak Eggi? Bisa menjawab pertanyaan saya? Pancasila kok bertentangan dengan UUD 1945? Berarti para pendahulu kita salah merumuskan Pancasila dan UUD 1945? Ataukah yang merumuskan adalah non muslim? oh tidakkkk!!! Pasti mereka PKI, pak!!!!
  3. Kalau saya browsing di Wikipedia (https://id.wikipedia.org/wiki/Pancasila) disitu dijelaskan mengenai butir-butir pengamalan Pancasila. Saya coba tuliskan ulang disini.

    Berdasarkan Ketetapan MPR No.II/MPR/1978

    Ketuhanan Yang Maha Esa
    1. Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
    2. Hormat menghormati dan bekerja sama antar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.
    3. Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
    4. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.

    Bisa dipahami sampai disini Pak? do you feel me, Brother? Disitu tertulis Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing lo! Bukan menurut pemahaman Bapak saja.

  4. Apakah bisa Perppu Ormas digunakan Pemerintah untuk membubarkan suatu agama? Sedangkan Pemerintah sendiri dalam UUD 1945 menjamin kebebasan beragama setiap penduduknya tanpa ada diskriminasi.
  5. Pancasila itu serapan dari bahasa apa ya pak? Baik, saya coba jelaskan meskipun pengetahuan saya juga terbatas seperti Bapak. (Tapi untunglah sedikit terbantu dengan Google). Menurut Wikipedia ternyata oh ternyata serapan dari Bahasa Sansekerta lo pak, kalau mau adu ngotot argumen bisa saja pemeluk Hindu mengklaim Pancasila adalah produk ajaran agama Hindu, terlebih lagi kalau Pak Eggi perhatikan lebih jeli lagi pada simbol Garuda Pancasila ada tulisan “Bhinneka Tunggal Ika”. kata tersebut adalah moto atau semboyan bangsa Indonesia. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya adalah “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Tahu tidak pak kalimat Bhinneka Tunggal Ika itu berasal dari mana? Nih pak saya coba kasih tahu, Bapak gunakan jempol bapak untuk browsing lewat handphone, lalu ketik “Bhinneka Tunggal Ika”, pilih yang dari website Wikipedia. Nah disitu ada penjelasan detailnya. Bapak jangan keliru klik website penyebar hoax lo ya. Apa? Bapak malas menggunakan jempol untuk browsing dan membaca? ya sudah saya tuliskan ulang dari Wikipedia.
  6. Kutipan Bhinneka Tunggal Ika berasal dari sebuah kakawin Jawa Kuno yaitu kakawin Sutasoma, karangan Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14.pupuh 139, bait 5. Bait ini secara lengkap seperti di bawah ini:

    Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
    Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
    Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
    Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

    Terjemahan:

    Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
    Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
    Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
    Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

     

    Astaga Pak Eggi? ternyata kutipan Bhinneka Tunggal Ika berasal dari jaman kerajaan Majapahit lo pak! Jaman kerajaan Majapahit waktu itu mayoritas beragama Hindu dan Budha. Jadi gimana pak? Apakah para pendahulu yang merumuskan ideologi Pancasila beragama Islam atau Hindu ataukah Budha?

Premis dalam membuat pernyataan pada saat Judicial Review sudah dipikir dengan matang belum, Pak Eggi?

Kalau pengetahuan masih terbatas mengenai keyakinan dan agama lain, mohon jangan langsung membuat pernyataan yang bisa memecah belah persatuan bangsa. Lebih baik ke warkop, ngopi tipis-tipis sesekali ngobrol dengan rekan-rekan yang berbeda keyakinan, atau membaca buku atau kitab keyakinan agama lain. Jika khawatir membaca atau ngobrol dengan rekan yang berbeda keyakinan dapat mengganggu akidah maka ada baiknya bapak mempelajari keyakinan bapak terlebih dahulu. Contohnya petikan kalimat yang ada di bawah ini yang saya dapat dari internet :

 

Padahal ini saya mau tulis konsep ketuhanan menurut Hindu sesuai dengan kepercayaan saya sekarang. Tapi kayaknya kepanjangan dan sepertinya sudah pernah saya posting.

Saya jadi berangan-angan kalau dulu Ahok menista 1 agama hasilnya adalah bui selama 2 tahun, jika semisal nanti Eggi dilaporkan oleh 4 agama sekaligus mungkin bisa jadi ancamannya adalah bui selama 8 tahun.

*Saya jadi sedikit tersenyum karena keterangan pada video tersebut disebutkan bahwa Eggi Sudjana adalah pengacara kondang.

 
Leave a comment

Posted by on 06/10/2017 in Terapi

 

Jangan kau kira

Jangan kau kira setelah menikah masalahmu akan selesai. Mblo!

Jangan kau kira setelah menikah mereka akan berhenti membully mu.

Jangan kau kira kesedihanmu akan sirna seketika.

Jangan kau kira!

Ada tagihan katering sisa pesta pernikahan kemarin yang harus dibayar.

Ada jatah bulanan yang harus kau siapkan.

Ada wajah pencitraan yang harus siapkan untuk keluarga besar pasangan.

Ada perjuangan bolak-balik ke catatan sipil, RT, RW dan kelurahan untuk mengganti status “belum kawin” menjadi “kawin”

Yang lebih ngeri adalah pertanyaan, “sudah isi?”

Jangan kau kira!

Jangan kau kira mereka yang sudah menikah kemudian membully yang belum menikah karena mereka sudah bahagia.

Jangan kau kira! Belum tentu, saudara!

Mereka sendiri ada belenggu waktu, kapan harus pulang tepat waktu dan tak leluasa seperti dahulu.

Ada uang susu, popok dan gincu.

Ada pertemuan warga membahas soal arisan, lingkungan, keamanan serta kebersihan.

Ya! Jika kau sudah menikah wajib ikut, kalau tidak gosip engkau kumpul kebo bersama istrimu sendiri merebak hingga ke seantero RW.

Itu bisa jadi karena kamu tidak mengundang mereka ke acara pernikahan, atau bisa jadi kamu tidak mengirimi mereka nasi kotakan sembari tersenyum ngomong “acara slametan, bu”

Embuh sopo sing dislameti.

Pernikahan adalah kesiapan mental, jika tidak siap jangan terpancing oleh bully mereka.

Karena menikah bukan lomba cepet-cepetan, tapi lomba lama-lamaan.

Setelah menikah sanggupkah engkau menjaga hubungan selama mungkin?

*sok menggurui

 
2 Comments

Posted by on 02/10/2017 in Terapi

 

Membaca

Aku pernah membaca buku 1 halaman penuh tanpa mengerti apa isi tulisan tersebut. Hanya membaca tapi tidak menyimak karena pikiran sudah mengembara entah kemana.

Kalian pernah?

 
Leave a comment

Posted by on 02/10/2017 in Terapi

 

Naruto Random

Suatu saat nanti, ketika hari kebangkitan telah tiba. Ketika desa Konoha telah hancur lebur terkena genjutsu maut “Mugen Tsukuyomi” yang dikeluarkan oleh Madara, maka semua tubuh-tubuh beserta jiwa warga desa yang telah mati akan dibangkitkan kembali. Kemudian malaikat-malaikat seperti wujud Susano O turun dan menanyai satu-persatu seluruh makhluk hidup termasuk para Bijuu mulai dari ekor 9 sampai yang ekornya ada di depan tak akan luput untuk ditanyai. Tak terkecuali aku yang hendak “diinterogasi” oleh Susano O ini. Begini kira-kira percakapannya.

“Siapa namamu?”, tanya Susano O si malaikat maut berjubah hitam sambil menenteng arit dengan gagang yang sangat panjang.

Suara Susano O begitu berat, serak dan menyeramkan. Persis seperti ketika mengenang masa lalu saat diputus oleh pacar. Ahh…tapi itu tak membuatku gentar.

“Akuuu…Uzumaki Narutooo!”, kataku dengan keras dan lantang seperti orang yang kebelet eek tapi toiletnya ngantri dan ampasnya sudah berada di ujung. Maklum aku ini anak Medan, jadi nada suaraku agak kencang.

“Hoey kau yang bernama Naruto, jaga bicaramu, congkak sekali kau. Pasti waktu kamu kecil suka main dakon ya?”

“Itu congklak, Susan!!! Bukan congkak…Ah, vangkeee juga nih malaikat”, jawabku sinis.

“Diammm!!! Jangan menyela Susan!! Kalau tidak aku suntik kau pakai suntiknya kak Ria Enes loh..enjuss..enjus..enjuss”

“Watdefaaakkk”

“Okey, kembali ke laptop. Aku lanjutkan kembali pertanyaan, harusnya tadi pertanyaannya adalah apa agamamu?”

“Hah?”, aku keheranan.

“Iya apa agamamu?”, bentak Susano O

“Di Konoha tidak ada pelajaran agama, Susan! Di sekolah kami diajari taijutsu, genjutsu, melempar kunai, mengendalikan cakra, dll. Tidak ada itu yang namanya agama”, jawabku ketus.

“Apa??? Tidak ada agama? Pantas saja kalian sesama ninja ini selalu bertarung tiada henti setiap hari. Yang tawuran melawan desa sebelah lah, yang berantem melawan geng bermotor bernama Akatsuki lah, aliran sesat lah…bla..bla..bla”

“Ah, sudahlah. Aku jelaskan dengan berbagai macam kitab dan menurunkan berbagai macam malaikat toh engkau juga tidak akan mengerti”

“Lagian kamu juga sudah mati”

“Aku ulangi kembali pertanyaanku, apa agamamu, Naruto?”

“Agama itu apa, Susan? Sudah aku bilang di desa Konoha tidak ada agama. Aku harus menjawab apalagi?”

“Apa?? Berarti kamu seorang ateis?”, Susano O mendelik.

“Pengawal!!!! Jebloskan dia ke dalam siksa api neraka lapis terbawah”

Dan akhirnya Naruto masuk ke neraka.
TAMAT

 
Leave a comment

Posted by on 04/07/2017 in Terapi

 

Hari Raya

Penyair tak perlu tunjangan hari raya sebab seluruh harinya hari raya: Hari Raya Semoga.

Joko Pinurbo

 
Leave a comment

Posted by on 23/06/2017 in Terapi

 

Kehancuran Majapahit

Tulisan ini copas dari Mpu Daksa Yasca Manuaba menarik dibaca.
Kehancuran Majapahit tahun 1478, bukannya menjadi pelajaran bagi umat Hindu di Bali. Seorang pedarmayatra (“pegungsi”) dari Majapahit diangkat menjadi Bagawanta kerajaan di Gelgel. Beliau adalah Danghyang Nirarta.
Tahun 1489, sebelas tahun setelah Kerajaan Majapahit Runtuh,  Daghyang Nirarta datang ke Bali dengan membawa ajaran-ajaran yang sudah dipengaruhi oleh peta politik global saat itu (peta politik global abad 14-16 M ), yaitu konsep kasta-kasta dan perbudakan. Danghyang Nirartha juga melarang anak-anaknya menyembah patung-patung. (lihat : Bisama Danghyang Nirartha kepada keturunannya), ini jelas mengadopsi Al Quran yang menganggap patung sebagai Berhala.
Di Lombok Danghyang Nirarta mengajarkan Islam wetu telu, ajarannya dapat dilihat dalam geguritan Islam wetu telu, beliau bergelar Haji Duta Semeru, konon entah benar apa tidak beliau sudah pernah naik haji ke Mekkah dan namanya menjadi Haji Gureh (Singgih Wikarman,1998). Ada ceritra kesamaan kemampuan antara Danghyang Nirarta dengan Syekh Siti Jenar – tokoh sufi (Islam) yang dianggap Murtad oleh para Wali,  yaitu sama-sama mampu menghidupkan cacing jadi manusia.
Menurut Babad Brahmana: “sewaktu Danghyang Nirarta tiba di Bali, terjadi peristiwa yang sangat menyedihkan. Putri beliau yang bernama Ida Ayu Swabawa dicemari dan diperlakukan tidak senonoh oleh penduduk. Mendengar kisah sedih putrinya tersebut, Danghyang Nirartha berkenaan memberikan ajaran ilmu Rahasya keparamartaan yang mampu melenyapkan segala dosa. Setelah menerima ajaran itu Ida Ayu Swabawa lenyap menggaib dan berhasil mencapai alam Dewa, dan di stanakan di Pura Pulaki sebagai Dewi Melanting   Adapun orang-orang yang menodai Ida Ayu Swabawa dikutuk menjadi wong Gamang di desa Pegametan”.(Soebandi,1998)
Kisah Ini merupakan upaya pemurtadan terhadap keyakinan agama Hindu, kerena umat Hindu digiring untuk mengganti peran Dewi Sri Laksmi – Sakti Dewa Wisnu/Betare Sedana, sebagai Dewa-dewi pemberi kemakmuran dan kesejahteraan,  dengan Ida Ayu Subawa seorang anak manusia yang dinodai oleh penduduk yang tiada lain adalah anaknya sendiri dan kemudin diperkenalkan kepada umat sebagai Dewi Melanting. .
Selanjutnya dalam Babad tsb juga disebutkan “Ketika Danghyang Nirarta memberikan ajaran Ilmu rahasya kepada putrinya itu, ternyata didengar oleh insan berwujud seekor cacing kalung, cacing kalung tersebut, tiba-tiba supa (musna) dosa papanya dan seketika menjelma menjadi Manusia perempuan dan  diberi nama Nyi Berit”.  
Kisah ini mencerminkan sikap “ rasis (kastaisme)” dan sikap  “megalomania-nya”  si penulis babad Brahmana,  karena  menggatakan  Nyi Berit sebagai Jelmaan Cacing kalung.  Karena sejatinya Nyi Berit  adalah penduduk Bali yang lebih dahulu menetap di Bali (Bali Age) yang kebetulan hidupnya saat itu kurang beruntung.  Sikap rasis dan superior  ini ternyata berbuah karma, karena dikemudian hari Nyi Berit ini melahirkan anak dari Danghyang Nirartha. 
Dalam babad Brahmana juga ditemukan kalimat :   “rambut beliau Danghyang Nirartha di-Stanakan di Pura Kapurancak yang disebut SINIWI DI KAPURANCAK, sehingga Pura tersebut disebut PURA RAMBUT SIWI”. 
Penyebutan rabut Danghyang Nirartha yang Siniwi di Kapurancak supaya dipuja oleh umat Hindu Bali seluruhnya,  mencerminkan kepribadian si penulis Babad yang mencoba mengeser keyakinan Umat Hindu Bali yang semula memuja Betare Rambut Sedana sebagai manifestasi Dewa Wisnu bersama Saktinya Dewi Sri-laksmi,  diganti oleh beliau Danghyang Niratha bersama anaknya Ida Ayu Swabawa. 
Betare Rambut Sedana merupakan manifestasi Dewa Wisnu didampingi oleh saktinya dewi Sri Laksmi, bertugas memberikan kesejahteraan, kemakmuran dan harta benda kepada para pemuja yang setia memuja beliau setiap hari. 
Umat Hindu yang pernah membaca lontar Wawacan Sulanjana atau mendengar ceritra Rakyat Jawa mengetahui bahwa Dewi kesuburan dan kesejahteraan (Dewinya Padi dan Tumbuh-tubuhan bermanfaat) adalah Dewi Sri atau disebut juga Sanghyang Asri.  Dewi Sri atau Sanghyang Asri distanakan di Sawah-sawah dan lumbung padi. Jadi yang disebut  Dewi Melanting bukanlah Ida Ayu Swabawa melainkan  Dewi Sri Laksmi- sakti dari Betare Rambut Sedana (Wisnu).  Sedangkan Betare Rambut Sedana  adalah nama lain dari Dewa Wisnu yang bertugas memberikan kekayaan, kemakmuran dan kesejahteraan kepada para Bhakta-nya. 
Karena dianggap “Sakti” dan  “mumpuni dibidang agama”  pada zamannya maka Danghyang Nirarha diangkat menjadi Bagawanta kerajaan di Gelgel. Pada saat itu yang menjadi penguasa di Gelgel adalah Dalem Waturenggong (1460-1550 M).   
Tidak berapa lama setelah  menjabat sebagai Bhagawanta Kerajaan Gelgel,   Danghyang Nirarta sang puruhita kerajaan gelgel menerapkan teori RASIS (Kasta) yang sejak semula telah menjadi Ideologinya,  dan  merestukturisasi masyarakat Bali menjadi berbagai macam kasta.  
Dengan mengadopsi  DALIL-DALIL WEDA  versi kaum misionaris Kristen-Portugis  di India maka  Catur Warna diadopsi  menjadi Catur Kasta ( dari bahasa Portugis : Caste) dan ditetapkan menjadi Awig-Awig (peraturan kerajaan).
Untuk mendukung gagasan-nya membentuk kasta-kasta di Bali,   Danghyang Nirarta menuliskannya dalam lontar “ Widhi sastra sakeng niti Danghyang Nirarta”  (Singgih Wikarma 1998 : Leluhur orang Bali dari dunia babad dan sejarah.  Penerbit Paramita, Surabaya, halaman 63).
Semenjak itu munculah Kasta yang dilekatkan kepada agama Hindu di Bali. Kasta Brahmana yang isinya terdiri dari anak-anak keturunan Danghyang Nirarta, termasuk juga keturunan  yang sebelumnya dikatakann sebagai “supa-an-cacing kalung”(Nyi Berit), dan anak yang dikatakannya PENYEROAN (asisten rumah tangganya Bendesa Mas) yang  bernama Ni Patapan.  Kasta Ksatrya diberikan kepada keturunan dalem Gelgel, di kecualikan  kepada keturunan Dalem Taruk yang ditetapkan sebagai Sudra.  Kasta Wesya ditetapkan kepada Keturunan  Majapahit yang menyertai Dalem Samprangan, Sedangkan Kasta sudra ditetapkan kepada penduduk Bali Age/
Sistem Baru ini mengabaikan Sastra-Sastra, lontar-lontar Agama Hindu,  maupun Prasasti-prasasti yang sudah ada di Bali sebelumnya,  seperti prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja Udayana mapun raja Anak Wungsu.  
Pada Prasasti Bila, yang dikeluarkan oleh raja Anak Wungsu  tahun 995 C atau 1073 M), M) menyebutkan peran para Brahmana.  Itu berarti yang disebut Brahmana pada zaman itu pasti bukan Anak cucu Danghyang Nirartha, karena Danghyang Nirartha baru tiba di Bali th. 1489 M  atau hampir 500 th setelah prasasti Bila diterbitkan. Yang disebut para Brahmana pada prasasti Bila th. 995 C (1073 M)  pastilah Mpu Kuturan, Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Gana,  serta para Bhamana keturunan Rsi Markandeya dan Mpu Kepandean yang sudah Dwijati (Mpugdala) yang membantu raja Anak Wungsu. 
Seperti dicatat dalam sejarah, bahwa pada saat Prabu Udayana menjadi raja di Bali (989-1011M), terdapat 9 sampradaya (sekte agama Hindu) di Bali. Untuk membangun agama Hindu di Bali, Prabu Udayana meminta bantuan 5  Brahmana bersaudara yang berasal dari JAMBUDWIPA/INDIA ( I Gusti Bagus Sugriwa : Babad Pasek. Penerbit Balimas Dps. Halaman 15) yang menetap di Jawa Timur, diantaranaya : Mpu Rajakerta  yang kemudian menjadi Senopati Kuturan sekaligus Bhagawanta Kerajaan,  didampingi oleh saudara-saudaranya : Mpu Semeru, Mpu Gana, Mpu Gnijaya. Sedangkan adiknya yang paling kecil Mpu Baradah tetap tinggal di Jawa diminta oleh Raja Airlangga (Anak Prabu Udayana – kakak dari Anak Wungsu) menjadi Bhagawanta kerajaan di Kahuripan- Jawa Timur. 
Setelah kasta-kasta ini disahkan di Bali,  diberlakukan  pula perbudakan. Raja-Raja Bali dengan dukungan Kelompok “Brahmana hasil Strukturisasi “,  membuat awig-awig untuk mengesahkan perbudakan. Menghukum rakyat Bali yang beragama Hindu (awig-awig tersebut tidak berlaku bagi umat selain umat Hindu) yang melanggar awig-awig sebagai budak dan boleh di jual oleh Raja.  Raja-raja Bali memperoleh harta untuk membangun Puri-purinya yang megah dengan mengekspor para budak ber-agama  Hindu kepada Kompeni di Batavia. 
Sistem Kasta dan Perbudakan ini jelas mengadopsi konsep-konsep Injil dan per-budakan dalam  masyarakat Arab dan Eropa tanpa reserve. Karena dalam Agama Hindu tidak dikenal istilah Kasta dan Perbudakan.
Sistem Perbudakan yang dijadikan komoditas Ekspor oleh Raja-Raja Bali, menyumbang hampir 60 % budak-budak kepada VOC di Batavia. Budak-budak beragama Hindu dari Bali  di jual ke Batavia, Hindia Barat, Afrika Selatan, dan pulau-pulau di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Sebagai contoh: klan Sudira di Depok yang disebut “Belanda Depok”, adalah orang  yang berasal dari Gianyar dan tidak ada sedikitpun identitas ke Hinduan atau Bali nya yang tersisa, hanya saja  kalau kita tanya mereka mengaku kakeknya berasal dari Gianyar-Bali, Demikian juga Untung Surapati, budak belian berasal dari Bali berkat perjuangannya yang gigih dan kecerdasannya bisa menjadi Tumenggung di Pasuruan – Jawa Timur tetapi identitas ke Hinduan-nya sedikitpun tidak tersisa. 
Para Durjana menguasai Umat Hindu
Dari manakah Raja-Raja Bali saat itu mendapat ilmu tentang perbudakan dan kasta-isme?, Apa sumbangan para “Brahmana” dan para Raja Bali saat itu ( abad 14-19 ) terhadap  umat dan Agama Hindu?, Kenapa para Durjana serakah bisa menguasai umat Hindu di Bali saat itu ?.
Inilah tanda-tanda kehancuran Agama Hindu di Indonesia. Karena para “Brahmananya”  tergoda oleh  prestise pribadi, harta dan  kuasa. Para Brahmana dan Raja tidak cerdas mengamati peta politik global, tidak peduli terhadap ajaran kitab suci Weda. Para Raja bermahkotakan Emas, dan Para Brahmana juga berkalung dan ber Ketu (mahkota) bertatahkan permata dan emas, sementara rakyat/umat-nya telanjang tanpa busana, fenomena ini sangat menarik minat wisatawan Eropa datang ke Bali, untuk melihat kemolekan gadis-gadis Umat Hindu Bali yang ber-telanjang dada mondar-mandir dijalan. Dan ini membanggakan para raja-raja Bali untuk kembali mendatangkan dolar.
Sebelum kedatangan Danghyang Nirarta, tidak ada kasta-kasta maupun Budak dari Bali.  Umat Hindu di Bali tidak ada yang bernama Anak Agung, Ida Bagus, Cokorda, maupun I Dewa. Silahkan lacak nama-nama orang Bali pada Babad-babad, kapan nama-nama itu mulai muncul dalam khasanah nama-nama orang Bali. Tidak ada yang namanya AA.IB. IC. ID,IGN IGst, maupun I Wayan yang mengaku Brahmana, Ksatrya, maupun Sudra.  Martabat orang Bali ditentu-kan oleh perilakunya. Warna nya ditentukan oleh pekerjaannya. Bahkan Sri Kresna Kepakisan raja Pertama Gelgel  sebelumnya bernama Ketut Kresna Kepakisan, karena merupakan anak ke 4 dari Danghyang Kepakisan seorang Brahmana dari Jawa Timur. Kresna Kepakisan tidak bernama Ida Bagus Kresna Kepakisan, meskipun beliau anak seorang Brahmana, tidak juga  memakai nama Anak Agung atau I Dewa Kresna Kepakisan, meski beliau menjadi raja diraja Bali. Namanya cukup menjadi Sri Kresna Kepakisan.
Begitu pula raja-raja Bali maupun Jawa sebelumnya seperti; Sri Ugrasena, Sri Kesari Warmadewa, Sri Udayana, Sri Wijaya, Sri Dharmawangsa dll, cukup memakai gelar Sri, sedangkan panglima perang pejabat kerajaan lebih senang memakai nama-nama binatang, seperti;  Kebo Iwo, Kebo Parud, Gadjah Mada, Gadjah Maruga, Patih Wulung, dll.  sebagai tanda bahwa Agama Hindu  dan adat Bali/Jawa saat itu  sangat egaliter.  Salah seorang anak Sri Kresna Kepakisan, yaitu Dalem Taruk anak anaknya bernama I Gede Pulasari, I Gede Bandem, I Gede Balangan, Merupakan generasi ke 3 Dinasti Kepakisan, tidak memakai gelar bentukan Danghyang Nirarta dan Dalem Waturenggong.
Kasta di Bali pada masa kolonial
Th. 1882, kolonialis Belanda mendirikan Raad Van Kerta, mahkamah adat Bali, dengan alasan politik etis.  Hakim-hakim pada Raad Van Kerta diisi oleh para Pedande (bukan Sri Empu, Bujangga Wisnawa maupun Rsi), meskipun tidak jarang mereka tidak mengerti masalah hukum, dan tidak mengerti  teks-teks hukum keagamaan seperti Agama, adigama, purwa agama dan kutara agama yang ditulis dalam bahasa jawa kuno.   
Belanda membantu pegangan para hakim Raad Van Kerta dengan menterjemahkan teks-teks tersebut kedalam Bahasa Melayu dan bahasa Bali untuk digunakan sebagai acuan hukum oleh anggota Raad Van Kerta.
Terjemahan teks-teks dari bahasa Jawa kuno kedalam bahasa Melayu dan bahasa Bali disesuaikan dengan selera dan kepentingan kolonialisme dan misionarisme. Hal ini sama dan sebangun dengan upaya Max Muller beserta kawan-kawannya  dalam menter-jemahkan kitab Weda yang disesatkan untuk diterapkan pada masyarakat Hindu di India. Geoffrey Robinson mengomentari hal ini sebagai rekayasa tradisi Bali yang paling mencengangkan oleh Kolonial Belanda.

(Geoffrey Robinson; Sisi Gelap Pulau Dewata, 2005 hal. 51).
Kitab Agama, adigama, purwa agama dan kutara agama, sewaktu diterapkan oleh Raja-Raja Hindu di Jawa, tidak pernah menerap-kan kasta-kasta, karena  tidak ada satu kata pun dalam kitab Hukum Hindu maupun kitab Weda yang berisi kata kasta. 
Kasta  tidak dikenal dan merupakan kata asing bagi umat Hindu, apalagi menjadikan para pesakitannya sebagai Budak.  Kasta dan Budak adalah akal-akalan kolonialis semata, sebagai cerminan tradisi kitab Injil dan Al Quran yang diberlakukan di Arab dan Eropa.
Pada tahun 1910 kolonialis Belanda meng ikuti jejak rekan Eropa-nya di India yaitu kolonialis Inggris,  mendukung penetapan konsep kasta sebagai fondasi prinsipil masyarakat Bali. Dengan demikian koloni-alis Belanda,  melegalkan dan meneguhkan hierarki kasta beserta seperangkat aturan menyangkut hubungan antar kasta dan hak-hak istimewa kasta, yang sebelum-nya tidak pernah ada dalam praktek di Bali.  Dalam kata-kata V.E. Korn, orang Belanda, pakar Bali dan kontrolir Badung 1925  :     ” Bukan saja triwangsa diberi tempat yang terlalu penting, tetapi juga dilindungi melalui sederet pasal-pasal yang sangat jauh melampaui para raja dan teks-teks hukum tempo dulu”. Pendeknya, apa yang diartikan sebagai usaha Belanda untuk bergiat dalam “tradisi” Bali sebagai politik etis, sebetulnya adalah penciptaan tatanan hierarki baru yang pasti, di mana kekuasaan golongan kasta tinggi lebih besar daripada sebelumnya, dan terlebih lagi di sahkan oleh struktur legal, ideologis dan koesif negara kolonial. (Geoffrey Robinson,Sisi Gelap Pulau Dewata,2005 halaman 51)
Pemurtadan Umat Hindu makin menjadi-jadi dengan tujuan Konversi
Umat Hindu telah dibuat tersesat oleh sarjana pseudoilmiah dan misionarisme, juga oleh umat Hindu sendiri yang tercemar pemikiran misionaris dan tidak kukuh mempertahankan Dharma.  Penyesatan tersebut bahkan sampai ketingkat pemurtadan, menentang perintah kitab suci Yayur Weda XXVI.2  : Yathemam vacam kalyanim avadani janebhyah, Brahma rajanyabhyam sudraya caryaya ca svaya caranaya ca artinya :  hendaknya wartakan sabda suci ini kepada seluruh umat manusia, baik kepada para Brahmana, para raja-raja maupun kepada masyarakat pedagang, petani dan nelayan serta para buruh, kepada orang-orangku maupun orang asing sekalipun.
Juga pemurtadan Sloka BG. XVIII.70 : Adhyesyate ca ya imam,  dharmyam samwa-dam awayoh,jnanayajnena tena‘ham, istah syam iti me matih/ Mereka yang membaca percakapan-Ku ini, oleh  mereka Aku telah dipuja dengan  yadnya  Ilmu Pengetahuan. Demikian  telah Aku nyatakan.
Sraddhawan  anasuyas ca, srinuyad api yo narah,  so’pi  muktah subham  lokan, prapnuyat punyakarmanam (BG.XVIII.71) Artinya :  Orang yang mempunyai keyakin-an dan tidak mencela Orang seperti itu, walaupun hanya sekedar mendengar  orang berbicara kitab suci. Ia juga akan dibebaskan, mencapai dunia kebahagiaan sebagai manusia yang berbuat kebajikan.
Rakyat Bali yang bukan “berkasta Brahmana “ dilarang belajar Weda. Hanya mereka yang menyebut dirinya kasta “Brahmana” saja yang boleh belajar agama. Agama dimono-poli oleh Satu kelompok, sedang rakyat tidak boleh belajar Agama Hindu, kalau belajar Agama Hindu nanti bisa Buduh (=gila)  katanya. Bahkan Konon buku-buku Resi Gotama terbit berisikan perintah untuk mengecor mulut orang-orang diluar Kasta Brahmana, apabila berani membaca Weda, memerintahkan untuk mengecor dengan timah panas telinga orang-orang diluar kasta Brahmana kalau berani mendengar mantra/seloka Weda.  Dengan Kata lain Umat diluar kasta Brahmana tidak boleh mendengar dan membaca Kitab Weda.
Kemudian dipromosikan pula  konsep ayuwe were tan siddhi palania, (plesetan atau pelintiran dari, Ayu Were Siddhi palania didalam kitab purwagama)  dan “anak mule keto” suatu ungkapan yang selalu terdengar kalau ada anak-anak/umat Hindu bertanya tentang Agama Hindu.  Nawegang antuk linggih, juga suatu ungkapan yang selalu terdengar mendahului percakapan terhadap orang yang baru dikenal. Inilah pemurtadan dan penyesatan yang menjadi-jadi.
Pemurtadan dan penyesatan tersebut didukung oleh pemerintah kolonialis Belanda dan kaum misionaris kristen yang di-kirim  untuk mengalih agamakan orang Bali. Pemerintah Kolonialis  menguatkan konsep kasta dalam praktek pemerintahan kolonial. Dalam Notulen konferensi  administratif  tanggal 15-17 september  1910, collectie Korn no 166;  Pemerintah kolonial Belanda mendukung konsep kasta, sebagai pondasi prinsipil masyarakat Bali. Dalam penerapan-nya, Pemerintah kolonial Belanda memper-luas kasta-kasta dengan mengangkat pegawai pamong praja yang pro kolonial dan memberi nya  gelar bangsawan secara turun temurun.
V.E. Korn  menyatakan bahwa sebelum pemberlakuan pemerintahan kolonialis Belanda di Bali, banyak kaum non kasta yang meduduki jabatan-jabatan dalam otoritas politik seperti : sebagai punggawa, sedahan, perbekel dan sebagainya dibanding sesudah-nya. Pemerintah Belanda begitu yakin pada gagasan bahwa ketiga kasta tertinggi  menyusun fondasi terpenting masyarakat Bali, maka nyaris anggota kasta-kasta itu sajalah yang ditunjuk untuk memegang jabatan tinggi.   Dengan mengutip beberapa contoh, Korn mengatakan bahwa di Buleleng (Bali Utara) sebelum aturan kastaisme diterapkan,  16 dari 26 Punggawanya bukan dari ketiga kasta tinggi. Bahkan banyak kelompok diluar ketiga kasta menduduki jabatan tinggi misalnya sebagai pejabat pajak dan hakim pada masa pra kolonial. (V.E. Korn :  Het Adatrecht van Bali, 1932 dalam Sisi Gelap Pulau Dewata oleh Geoffrey Robinson, 2005)
Penolakan sistem Kasta yang dikait-kaitkan dengan Agama Hindu  bukannya tidak pernah ada saat itu, bahkan saat gagasan pengadopsian Catur Warna menjadi empat kasta dimunculkan, para Cendikiawan Hindu maupun yang perduli akan perkembangan Agama Hindu sudah bereaksi memprotesnya, misalnya dengan terbitnya Surya Kanta, koran berbahasa Melayu di Bali tahun 1920-an. Tetapi gempuran para Indolog pendukung kastaisme ditambah dukungan penguasa pribumi boneka kolonialis dan “Brahmana palsu”, lebih dahsyat dari pada yang menentang kastaisme.  Terlebih lagi kondisi umat Hindu saat itu tidak berdaya oleh kolonialisme, sehingga konsep kaku kasta maupun aturan-aturannya tetap dijalankan, meski terus mendapat penentangan.

Pada tanggal 20 Juni tahun 1916 warga Desa Lodjeh, Karangasem, memprotes keputusan Raad Van Kerta, disusul pada bulan Mei 1917 warga Desa Sukawati Gianyar. Dengan todongan bedil kolonialis Belanda, protes-protes tersebut dapat dipadamkan dengan dibayar nyawa warga Umat Hindu yang tidak berdaya.  Pada kasus Sukawati sebanyak 5 orang umat Hindu mati dibunuh, 11 orang luka-luka dan 26 orang ditangkap dan di jual sebagai budak. (Geoffrey Robinson: Sisi gelap Pulau Dewata, LKiS Yogya.2006)
Kasta dan Perbudakan  tidak sesuai dengan ajaran kitab Weda. Tidak ada satu kata-pun dalam kitab Weda maupun kitab Hukum Hindu yang memuat kata kasta. Kasta dan perbudakan merupakan produk import yang berasal dari budaya perbudakan masyarakat Arab dan Eropa yang tercemin dalam kitab suci Al Qur’an dan Injil   (baca Injil Imamat 25/44-46, keluaran 21/1-6,  timotius 6/1,titus 2/9, Efesus 6/5-6. I Petrus 2/18 maupun Al Qur’an Surat An Nissa ayat 24 dan Surat Al Mu’minuum ayat 1-6).
Bahwa Agama Hindu telah disudutkan dari dua sisi. Dari sisi kebijakan pemerintahan kolonial dan sisi pemikiran. Bahkan sampai Indonesia merdeka praktek-praktek pengang-katan pejabat berdasarkan kastaisme terus berlanjut.
Ir. Soekarno yang lahir dari rahim Ni Nyoman Rai Sarimben, warga pasek Bale Agung Buleleng – leluhurnya satu Ayah dan satu Ibu dengan Ken Dedes-Permaisuri Ken   Arok,  salah satu Leluhur Raja-Raja di Jawa, mengganti nama ibundanya menjadi Ida Ayu Nyoman Rai,  guna melanggengkan Kasta-isme yang tidak tahu diri.

 
Leave a comment

Posted by on 19/06/2017 in Terapi